Yogyakarta

WJNC 2026 Jadi Puncak HUT ke-270 Yogyakarta, Gana Kalajaya Bawa Pesan Pantang Menyerah

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) 2026 berlangsung meriah di sepanjang rute Teteg Sepur Stasiun Tugu, Malioboro hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Rabu (7/10) malam.

Gelaran ini menjadi puncak peringatan HUT ke-270 Kota Yogyakarta sekaligus menandai satu dekade penyelenggaraan WJNC sejak 2016.

Ribuan peserta dari 14 Kemantren di Kota Yogyakarta ikut memeriahkan WJNC ke-10. Sejumlah daerah juga mengirimkan delegasi, antara lain DKI Jakarta, Mojokerto, Ponorogo, Brebes, Magelang, Bantul dan Sleman.

WJNC 2026 mengangkat tema “Gana Kalajaya” yang merupakan saduran karya Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 2021. Tema tersebut membawa pesan “ora mingkuh”, yakni sikap tidak menghindar dan tidak menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan Gana menggambarkan kekuatan masyarakat, Kala berarti tantangan zaman, sedangkan Jaya bermakna kejayaan bersama.

“Nilai tersebut sejalan dengan semangat HUT ke-270 Kota Yogyakarta, Gana dimaknai sebagai kekuatan masyarakat, Kala sebagai tantangan zaman, dan Jaya sebagai kejayaan bersama. Sedangkan, ‘Otentik Konkret’. Otentik berarti tetap menjaga jati diri, budaya dan nilai-nilai yang menjadi ciri Yogyakarta. Konkret berarti semua itu terus diwujudkan dalam karya, kreativitas, kolaborasi dan manfaat nyata bagi masyarakat,” jelas Hasto.

Menurut Hasto, gelaran tersebut menjadi bukti bahwa budaya Yogyakarta terus berkembang. Wayang tetap menjadi akar pertunjukan, kemudian dikembangkan melalui koreografi, musik, kostum, tata cahaya, karya visual serta kreativitas dari 14 Kemantren.

Hasto menambahkan, peringatan hari jadi kota tidak hanya menjadi momentum seremonial, tetapi juga ruang refleksi bagi seluruh warga untuk memperkuat identitas dan karakter Yogyakarta sebagai kota budaya.

Karena itu, Ia berharap nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tema Gana Kalajaya tidak berhenti sebagai tontonan, melainkan dapat menjadi tuntunan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu juga, mampu memberikan dampak bagi sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Keramaian di Malioboro hingga Titik Nol Kilometer diyakini ikut menggerakkan UMKM, kuliner, perdagangan, jasa, perhotelan dan ekonomi kreatif.

“Dengan rute yang lebih panjang, kita ingin WJNC semakin dekat dengan masyarakat dan dapat dinikmati oleh lebih banyak orang. Malioboro malam ini menjadi panggung besar masyarakat Yogyakarta, tempat budaya, kreativitas, pariwisata dan kegiatan ekonomi bertemu,” katanya.

WJNC tahun ini, juga kembali masuk dalam 10 Top Kharisma Event Nusantara (KEN). Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X menilai, capaian tersebut menjadi kebanggaan karena WJNC tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga memperkenalkan tradisi dan kisah-kisah luhur kepada masyarakat.

“Selain mengangkat budaya, tahun ini mengusung konsep Green Event melalui penggunaan eco costume, edukasi lingkungan dan kepedulian terhadap kebersihan ruang kota. Para pelajar juga datang dari penjuru negeri untuk menimba ilmu di kota ini. Harapannya, ilmu menjadi kecakapan dan pengabdian sejalan dengan Hamemayu Hayuning Bawana, memakmurkan dan menjaga keharuman,” paparnya.

Ia berharap, pertunjukan tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan tradisi sekaligus membuat kisah-kisah luhur semakin dikenal dan dihayati oleh masyarakat DIY.

“Saya berharap, panggung WJNC ini menjadi ruang kreasi dan keakraban masyarakat Yogyakarta,” imbuhnya.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *