Headline Internasional

Kronologi 9 WNI dalam Armada Bantuan Gaza yang Dicegat Israel Akhirnya Dipulangkan

INTENS PLUS – JAKARTA. Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 akhirnya dipastikan segera kembali ke Tanah Air setelah sempat ditahan militer Israel saat membawa bantuan menuju Jalur Gaza, Palestina.

Para WNI yang terdiri dari aktivis kemanusiaan dan jurnalis nasional itu dijadwalkan tiba di Jakarta pada Minggu (24/5/2026) sore setelah menjalani proses pemeriksaan kesehatan dan pengambilan keterangan di Turki.

Kasus pencegatan armada bantuan kemanusiaan ini menjadi sorotan dunia internasional karena terjadi di perairan internasional dan memicu tuduhan pelanggaran hukum humaniter internasional oleh Israel.

Berikut kronologi lengkap penangkapan hingga pemulangan sembilan WNI dalam misi Global Sumud Flotilla 2.0.

Misi Global Sumud Flotilla 2.0 dimulai ketika lebih dari 50 kapal sipil bertolak dari Turki menuju Jalur Gaza pada pertengahan Mei 2026. Armada tersebut membawa hampir 500 aktivis kemanusiaan dari 45 negara.

Tujuan utama pelayaran itu adalah menembus blokade laut Israel di Gaza sekaligus menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa makanan, susu formula bayi, obat-obatan, dan perlengkapan medis bagi warga Palestina.

Dalam rombongan tersebut terdapat sembilan WNI yang berasal dari berbagai organisasi kemanusiaan dan media nasional Indonesia.

Berikut daftar sembilan WNI yang ikut dalam armada Global Sumud Flotilla:

Herman Budianto Sudarsono (GPCI – Dompet Dhuafa)
Ronggo Wirasanu (GPCI – Dompet Dhuafa)
Andi Angga Prasadewa (GPCI – Rumah Zakat)
Asad Aras Muhammad (Spirit of Aqso)
Hendro Prasetyo (SMART 171)
Bambang Noroyono alias Abeng (Republika)
Thoudy Badai Rifan Billah (Republika)
Andre Prasetyo Nugroho (Tempo TV)
Rahendro Herubowo (Tim Media GPCI dan iNews)

Para relawan dan jurnalis tersebut tersebar di sejumlah kapal berbeda seperti Kapal Zapyro, Josef, Kasr-1, BoraLize, dan Ozgurluk.

Israel Keluarkan Peringatan Sebelum Pencegatan

Sebelum aksi intersepsi dilakukan, Kementerian Luar Negeri Israel sempat mengeluarkan peringatan melalui media sosial X. Israel meminta seluruh armada Global Sumud Flotilla mengubah jalur pelayaran dan menuding misi tersebut sebagai aksi provokasi.

Israel mengklaim armada tersebut bukan murni misi kemanusiaan, melainkan bagian dari agenda publikasi yang dinilai mendukung Hamas.

Namun pihak penyelenggara Global Sumud Flotilla menegaskan bahwa seluruh kapal hanya membawa bantuan sipil dan tidak membawa senjata.

Ketegangan memuncak pada Senin (18/5/2026) pagi waktu setempat ketika kapal perang Angkatan Laut Israel mulai mengepung armada Global Sumud Flotilla di perairan internasional sebelah barat Siprus, sekitar 460 kilometer dari Gaza.

Melalui siaran langsung yang sempat tayang di situs resmi GSF, terlihat pasukan Israel bersenjata lengkap mendekati kapal-kapal relawan menggunakan kapal cepat.

Para aktivis dan relawan di atas kapal tampak mengenakan rompi pelampung dan mengangkat tangan saat pasukan Israel mulai menaiki kapal.

Tak lama kemudian, komunikasi dari sejumlah kapal terputus.

Penyelenggara GSF menyebut tindakan Israel sebagai aksi pembajakan terhadap misi kemanusiaan internasional non-kekerasan.

“Kapal-kapal militer saat ini sedang mencegat armada kami dan pasukan Israel menaiki kapal pertama kami di siang bolong,” tulis pihak GSF dalam pernyataan resmi mereka.

Sembilan WNI Ditangkap Bertahap

Penangkapan terhadap para WNI berlangsung secara bertahap.

Lima WNI yakni Andi Angga Prasadewa, Rahendro Herubowo, Andre Prasetyo Nugroho, Thoudy Badai, dan Bambang Noroyono dilaporkan lebih dulu ditangkap pada Senin (18/5/2026).

Sementara Herman Budianto Sudarsono dan Ronggo Wirasanu sempat mengabarkan berhasil lolos dari kejaran kapal Israel karena manuver kapal yang mereka tumpangi.

Namun beberapa jam kemudian, keduanya juga dilaporkan ditangkap pada Selasa (19/5/2026).

Empat jam setelah itu, Asad Aras Muhammad dan Hendro Prasetyo turut mengirimkan pesan darurat yang menyatakan diri mereka telah ditahan tentara Israel.

Sebelum komunikasi diputus, beberapa jurnalis Indonesia sempat mengirimkan video SOS.

Jurnalis Republika, Bambang Noroyono alias Abeng, dalam videonya meminta Pemerintah Indonesia membantu pembebasannya dari penahanan Israel.

Sementara jurnalis Tempo TV, Andre Prasetyo Nugroho, juga mengirim video singkat yang menyatakan dirinya telah ditangkap pasukan Israel.

Dipindahkan ke Israel dan Ditahan

Setelah dicegat di laut, para relawan dipindahkan ke kapal Israel lalu dibawa ke Pelabuhan Ashdod sebelum ditempatkan di fasilitas penahanan Israel.

Total terdapat 422 relawan dari 41 negara yang akhirnya dideportasi oleh Israel pada Kamis (21/5/2026), termasuk sembilan WNI. Selama masa penahanan, sejumlah relawan internasional mengaku mengalami perlakuan tidak manusiawi.

Beberapa relawan mengaku dipukul, disetrum, ditendang, hingga mengalami pelecehan seksual. Penyelenggara Global Sumud Flotilla bahkan menyebut terdapat sedikitnya 15 kasus kekerasan seksual selama penahanan. Aktivis asal Prancis, Meriem Hadjal, mengaku mengalami kekerasan fisik dan pelecehan seksual selama ditahan.

“Saya dipukul, ditampar, disentuh, ditendang di tulang rusuk, rambut saya dijambak,” ujarnya kepada wartawan di Paris.

Aktivis asal Inggris, Richard Johan Anderson, juga menyebut para tahanan diperlakukan secara tidak manusiawi.

“Kami dipukuli, disiksa, dan diperlakukan tidak manusiawi,” katanya saat tiba di Istanbul.

Namun otoritas penjara Israel membantah seluruh tuduhan tersebut dan menegaskan semua tahanan diperlakukan sesuai hukum.

Menlu RI Kecam Perlakuan Israel

Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, mengecam tindakan Israel terhadap para relawan sipil dalam misi kemanusiaan tersebut.

“Tindakan yang merendahkan martabat warga sipil dalam sebuah misi kemanusiaan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional yang tidak dapat ditoleransi,” tegas Sugiono.

Meski demikian, Sugiono menegaskan insiden tersebut bukan termasuk kasus penculikan atau penyanderaan.

Menurutnya, kapal bantuan kemanusiaan tersebut memang diintersepsi Israel karena memasuki wilayah blokade laut Gaza.

Pemerintah Indonesia kemudian melakukan koordinasi intensif melalui KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman untuk memastikan keselamatan para WNI.

Dibebaskan dan Dipulangkan ke Indonesia

Setelah dibebaskan Israel dan diterbangkan ke Turki, para WNI menjalani pemeriksaan kesehatan, visum, serta pengambilan keterangan oleh otoritas Turki dan pihak GSF.

Koordinator Media Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Harfin Naqsyabandy, memastikan seluruh WNI akan segera dipulangkan ke Indonesia.

“Minggu sore sampai Jakarta,” kata Harfin, Sabtu (23/5/2026).

Para WNI dijadwalkan terbang dari Istanbul menuju Dubai pada Sabtu malam menggunakan maskapai Emirates, sebelum melanjutkan penerbangan ke Jakarta dan tiba pada Minggu sore pukul 15.30 WIB.

Pihak KBRI Ankara juga memastikan seluruh WNI dalam kondisi baik dan terus memantau proses pemulangan mereka.

“Kondisi para WNI diterima dan ditangani dengan baik,” kata Minister Counsellor KBRI Ankara, Yudhi Ardian.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *