Sorotan Yogyakarta

Pemadaman Listrik Meluas di DIY, PLN Akui Ada Defisit Daya dan Gangguan Pembangkit

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Pemadaman listrik yang terjadi di sejumlah wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam beberapa hari terakhir memicu keluhan masyarakat. Gangguan pasokan listrik yang berlangsung di berbagai titik tersebut bahkan memunculkan spekulasi mengenai penyebab utama terganggunya sistem kelistrikan, termasuk isu berkurangnya pasokan batu bara untuk pembangkit listrik.

Menanggapi kondisi tersebut, General Manager PLN Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Ketenagalistrikan, Mochamad Soleh, mengakui bahwa saat ini sistem kelistrikan memang tengah menghadapi berbagai tantangan yang menyebabkan terjadinya defisit daya.

Menurutnya, persoalan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan pasokan batu bara, tetapi juga melibatkan sejumlah faktor lain yang saling berkaitan sehingga berdampak pada keandalan pasokan listrik.

“Memang permasalahan yang dihadapi cukup banyak oleh PLN sendiri. Jadi permasalahan yang sudah berlangsung cukup lama ini tidak hanya masalah batu bara, tetapi juga kesiapan maupun gangguan teknis pembangkitan. Sehingga kondisi menjadi seperti berlipat, ada kekurangan pasokan gas, kekurangan pasokan batu bara, kemudian ditambah beberapa pembangkit yang sedang menjalani pemeliharaan dan pekerjaan teknis yang harus dilakukan,” ujar Soleh saat ditemui usai mengikuti Dialog Indonesia Punya Kamu di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Jumat (12/6/2026).

Soleh menjelaskan, kombinasi berbagai persoalan tersebut menyebabkan terjadinya defisit neraca daya dalam sistem kelistrikan. Kondisi ini membuat pasokan listrik yang tersedia tidak sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan beban yang harus dilayani.

Ia menambahkan, bahwa isu kekurangan batu bara yang ramai dibicarakan masyarakat memang menjadi salah satu faktor, namun bukan satu-satunya penyebab pemadaman yang terjadi.

“Sehingga terjadilah sekarang defisit neraca daya. Jadi memang tidak hanya pasokan batu bara saja yang dikabarkan kurang, tetapi ada banyak permasalahan yang cukup kompleks yang dihadapi oleh pembangkitan PLN,” katanya.

Defisit daya sendiri merupakan kondisi ketika kapasitas pembangkit yang tersedia lebih rendah dibandingkan kebutuhan listrik yang harus dipenuhi. Dalam situasi tertentu, kondisi tersebut dapat memaksa operator sistem melakukan pengaturan beban atau pemadaman bergilir guna menjaga stabilitas jaringan secara keseluruhan.

Dalam keterangannya, Soleh menyebut bahwa selain batu bara, pasokan gas juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi operasional pembangkit listrik.

Ketika pasokan energi primer mengalami kendala secara bersamaan, kemampuan pembangkit untuk beroperasi secara optimal ikut terdampak.

Di sisi lain, sejumlah unit pembangkit juga sedang menjalani pemeliharaan maupun perbaikan teknis. Kondisi tersebut semakin mempersempit cadangan daya yang tersedia dalam sistem.

Menurutnya, PLN saat ini terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak untuk memastikan pasokan energi primer tetap tersedia serta mempercepat penyelesaian gangguan teknis yang terjadi pada pembangkit.

“Kita memastikan koordinasi berjalan intens. Pasokan batu bara harus berjalan, bahan bakar harus lancar, kemudian pembangkit yang mengalami gangguan bisa kita selesaikan. Kalau ada masalah teknis pada peralatannya, kita pastikan bisa selesai tepat waktu,” ujarnya.

Soleh juga mengatakan, saat ini pihaknya sedang berupaya mempercepat berbagai pekerjaan pemeliharaan dan perbaikan yang tengah berlangsung agar sistem dapat kembali beroperasi normal secepat mungkin.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya defisit daya yang lebih besar dan memastikan pasokan listrik bagi masyarakat dapat kembali stabil.

“Kita usahakan dipercepat penyelesaian pekerjaannya untuk mencegah defisit neraca daya yang terjadi di sistem,” kata Soleh.

“Pemulihan sistem kelistrikan menjadi prioritas utama kami, mengingat listrik merupakan kebutuhan dasar yang sangat berpengaruh terhadap aktivitas masyarakat, dunia usaha, hingga layanan publik,” ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Soleh juga menanggapi kasus viral seorang siswi sekolah dasar yang gagal menuntaskan ujian Olimpiade Sains Nasional (OSN) karena listrik padam.

Kasus tersebut terjadi di SDN Gandasoli, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada awal Juni 2026. Seorang siswi bernama Nadya Putrinda Paramitha dilaporkan tidak dapat melanjutkan ujian berbasis komputer setelah terjadi pemadaman listrik total selama kurang lebih tiga jam.

Saat kejadian berlangsung, waktu ujian yang tersisa hanya sekitar 15 menit. Akibat gangguan tersebut, Nadya tidak dapat menyelesaikan seluruh soal yang harus dikerjakan.

Menanggapi peristiwa itu, Soleh mengaku baru mendengar informasi tersebut. Namun ia menyampaikan rasa simpati atas kejadian yang menimpa siswi tersebut.

“Sejujurnya saya baru dengar. Saya bersimpati untuk adik ini. Dari sisi kami, PLN sudah berusaha cukup keras untuk memastikan penyediaan listrik yang andal dan tersedia cukup bagi seluruh masyarakat,” tuturnya.

Ia mengakui bahwa kondisi yang tengah dihadapi sistem kelistrikan saat ini merupakan situasi yang sulit dihindari karena terjadi akibat kombinasi berbagai faktor yang berlangsung bersamaan.

“Ini memang kondisi yang tidak bisa kami hindari. Terpaksa harus terjadi dan kita alami bersama. Saya ikut bersimpati untuk adik ini, semoga nanti ada solusi yang lebih baik atau peluang lain dari kejadian ini,” katanya.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *