Headline Jabodetabek

5 Peserta SPPI Meninggal dalam Sepekan, Kemhan Buka Kronologi dan Penyebabnya

INTENS PLUS – JAKARTA. Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengungkap kronologi dan penyebab meninggalnya lima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Tahun 2026 yang mengikuti Latihan Bela Negara dan Manajerial (Latsarmil). Dalam kurun waktu sekitar sepekan, lima peserta yang dipersiapkan menjadi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) meninggal dunia dengan penyebab medis yang berbeda-beda.

Peristiwa ini menjadi perhatian publik dan memunculkan desakan agar pelaksanaan program dievaluasi secara menyeluruh. Kementerian Pertahanan menegaskan seluruh peserta telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur, sementara DPR RI meminta pelaksanaan Latsarmil dihentikan sementara hingga evaluasi selesai dilakukan.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Pertahanan Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya lima peserta SPPI.

“Pertama-tama atas nama Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Panitia Seleksi Nasional, dan seluruh penyelenggara Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya lima peserta Program SPPI Tahun 2026 yang sedang mengikuti latihan bela negara dan manajerial,” ujar Ketut dikutip, Senin (29/6/2026).

Menurutnya, kelima peserta memiliki kondisi kesehatan dan karakteristik yang berbeda. Mereka juga telah mendapatkan penanganan medis sejak mengalami keluhan hingga dirujuk ke rumah sakit.

“Seluruh peserta telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur di fasilitas kesehatan satuan maupun rumah sakit rujukan,” katanya.

Daftar Lima Peserta SPPI yang Meninggal

Lima peserta yang meninggal dunia selama mengikuti Latsarmil SPPI 2026 adalah:

  1. Yonanda Muhammad Taufiq
  2. Anisa Muyassaroh
  3. Novia Rahmadhani Sihotang
  4. Muhammad Rifki Renaldi Gunawan
  5. Nola Dya Sari

Mereka mengikuti pendidikan di satuan latihan yang berbeda dengan penyebab kematian yang juga berbeda berdasarkan hasil pemeriksaan medis.

Kronologi Meninggalnya Yonanda Muhammad Taufiq

Yonanda Muhammad Taufiq merupakan lulusan Program Studi Manajemen Universitas Bung Hatta. Ia mengikuti pendidikan di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja.

Pada 17 Juni 2026, Yonanda mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan berupa berjalan kaki. Seusai kegiatan tersebut, kondisinya tiba-tiba menurun hingga mengalami penurunan kesadaran.

Tim pelatih segera membawa Yonanda ke Pos Kesehatan satuan sebelum dirujuk ke RS dr. Noesmir Baturaja untuk mendapatkan penanganan lanjutan.

Meski telah mendapatkan perawatan medis, Yonanda dinyatakan meninggal dunia pukul 18.30 WIB dengan diagnosis cardiac arrest atau henti jantung.

Kronologi Meninggalnya Anisa Muyassaroh

Anisa Muyassaroh merupakan alumni Program Studi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga. Ia mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan.

Pada Kamis, 18 Juni 2026 sekitar pukul 13.35 WITA, sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, Anisa mengeluhkan sesak napas disertai mual.

Ia langsung dievakuasi ke Pos Kesehatan Dodikjur dan diperiksa dokter satuan pada pukul 14.00 WITA. Karena kondisinya memburuk, Anisa dirujuk ke Rumah Sakit dr. R. Hardjanto Balikpapan.

Meski telah mendapatkan penanganan intensif, hasil pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) menunjukkan flat asystole. Dokter kemudian menyatakan Anisa meninggal dunia pada pukul 19.00 WITA.

Berdasarkan keterangan medis, penyebab kematiannya adalah heat stroke, yakni kondisi ketika suhu tubuh meningkat secara ekstrem hingga mengganggu fungsi organ vital.

Kronologi Meninggalnya Novia Rahmadhani Sihotang

Novia Rahmadhani Sihotang merupakan lulusan Program Studi Hukum Ekonomi Syariah UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan.

Ia menjalani pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau, pada 22 Juni 2026. Novia mengalami batuk berdahak, sesak napas, dan demam sehingga dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa. Hasil pemeriksaan menunjukkan Novia menderita tuberkulosis (TB) paru aktif.

Meski telah menjalani perawatan, kondisinya terus memburuk hingga akhirnya meninggal dunia pada 23 Juni 2026 pukul 15.13 WIB akibat komplikasi penyakit tersebut.

Kronologi Meninggalnya Muhammad Rifki Renaldi Gunawan

Muhammad Rifki Renaldi Gunawan merupakan lulusan Program Studi Teknik Elektro UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia mengikuti pendidikan di Satdik Yon Para Raider 465.

Pada 25 Juni 2026, Rifki mengeluhkan sesak napas dan tubuh terasa lemas saat mengikuti Latsarmil. Setelah sempat membaik, kondisinya kembali menurun sehingga dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa.

Rifki menjalani perawatan intensif di ruang ICU. Namun pada 26 Juni 2026 pukul 00.28 WIB, ia dinyatakan meninggal dunia akibat pneumonia yang disertai komplikasi medis.

Kronologi Meninggalnya Nola Dya Sari

Nola Dya Sari merupakan lulusan Program Studi Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Ia mengikuti pendidikan di Satdik C Kalimantan.

Pada Jumat, 26 Juni 2026, Nola mengikuti kegiatan pembelajaran sosiologi dan teknik perkebunan tanpa mengeluhkan gangguan kesehatan. Namun sekitar pukul 18.45 WIB, ia mendadak mengeluhkan sesak napas disertai tubuh terasa panas.

Tim kesehatan satuan segera memberikan penanganan awal sebelum merujuknya ke IGD Rumah Sakit Singkawang dan kemudian ke RSUD Abdul Aziz Singkawang.

Dalam proses penanganan, Nola mengalami henti jantung sehingga dilakukan resusitasi jantung dan tindakan kardioversi. Meski berbagai upaya penyelamatan dilakukan, Nola dinyatakan meninggal dunia pada pukul 21.03 WIB.

Kemhan menyebut Nola sebelumnya telah lolos pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti pendidikan, meski memiliki catatan kelebihan berat badan.

Kemhan Tegaskan Latsarmil Bukan Pendidikan Militer

Menanggapi berbagai sorotan, Kemhan menegaskan bahwa Latihan Bela Negara dan Manajerial bukan merupakan pendidikan militer seperti yang dijalani calon prajurit TNI.

Menurut Ketut, latihan tersebut bertujuan membentuk karakter, disiplin, kepemimpinan, integritas, profesionalisme, serta semangat pengabdian kepada masyarakat.

Ia menjelaskan aktivitas fisik yang dijalani peserta masih dalam kategori ringan, seperti senam, jalan kaki, Peraturan Baris Berbaris (PBB), dan Peraturan Penghormatan Militer (PPM).

“Belum ada kegiatan fisik berat sebagaimana pendidikan militer,” ungkapnya.

Ketut mengatakan, seluruh peserta telah melewati proses seleksi kesehatan sesuai ketentuan sebelum mengikuti SPPI. Namun, menurutnya, terdapat beberapa penyakit yang tidak berhasil terdeteksi saat pemeriksaan awal.

“Dari proses awal sebelumnya sudah dilaksanakan proses oleh Panitia Seleksi Nasional, namun di kenyataannya memang ada penyakit-penyakit yang tidak terdeteksi. Selanjutnya Kami akan memperkuat pemeriksaan kesehatan lanjutan, melakukan profiling kesehatan peserta, meningkatkan pengawasan medis, menyesuaikan intensitas kegiatan, serta memperkuat koordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan rumah sakit TNI,” tutup Ketut.(*)

Penulis : FDA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *