Headline Yogyakarta

DPR RI Pantau Proyek Jembatan Kewek Rp19 Miliar, Target Fungsional Saat Libur Nataru

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Proyek penggantian Jembatan Kewek di Kota Yogyakarta terus dikebut. Pemerintah menargetkan jembatan yang menjadi salah satu jalur penyangga kawasan Malioboro tersebut sudah dapat difungsikan pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2027.

Progres pembangunan Jembatan yang menggelontorkan anggaran Rp19 Miliar tersebut, mendapat perhatian dari DPR RI. Anggota Komisi V DPR RI, Danang Wicaksana Sulistya, bersama Ketua Komisi C DPRD DIY, Nur Subiyantoro, meninjau langsung proyek tersebut.

Kunjungan itu dilakukan untuk memastikan perkembangan pembangunan berjalan sesuai rencana, sekaligus melihat kesiapan proyek yang memiliki peran penting terhadap konektivitas kawasan Malioboro.

Danang diterima jajaran Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (Satker PJN) Wilayah Provinsi DIY dan Plt Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak, Parlinggoman Simanungkalit.

Danang mengatakan peninjauan Jembatan Kewek merupakan bagian dari fungsi pengawasan Komisi V DPR RI terhadap program yang dijalankan mitra kerja, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum.

“Ini bagian dari tugas pengawasan kami di Komisi V DPR RI. Kami melihat apa yang dilaksanakan oleh mitra kami, dalam hal ini Kementerian PU,” ujar Danang usai meninjau pada, Selasa (11/8/2026).

Menurutnya, pembangunan Jembatan Kewek perlu mendapat perhatian karena keberadaannya tidak hanya berkaitan dengan akses transportasi, tetapi juga memiliki nilai historis bagi Kota Yogyakarta.

Jembatan yang berada di atas Sungai Code tersebut selama ini menjadi salah satu akses penting menuju kawasan Malioboro. Karena itu, proses pembangunan jembatan baru diharapkan tidak menghilangkan karakter lama yang menjadi bagian dari identitas kawasan.

Danang menegaskan pembangunan Jembatan Kewek merupakan proses pembaruan, bukan penghilangan jembatan bersejarah tersebut.

“Jembatan Kewek ini perlu diperbarui, bukan dihilangkan seperti yang sempat viral. Desainnya akan mengikuti desain lama dan sudah mendapat persetujuan dari Ngarso Dalem. Artinya, sisi tradisional dan historisnya tetap dipertahankan,” katanya.

Kepala Satker PJN Wilayah DIY, Tisara Sita, mengatakan pembangunan Jembatan Kewek saat ini telah memasuki tahapan penting. Selain itu, sejumlah pekerjaan struktur lanjutan juga terus dilakukan sebagai persiapan pemasangan girder.

“Untuk pekerjaan pondasi sudah selesai. Kemudian sudah ada second pile dan saat ini kami mempersiapkan rencana erection girder yang ditargetkan pada akhir September,” ujar Tisa.

Tisa menambahkan, pemasangan girder menjadi salah satu tahapan penting dalam pembangunan struktur utama jembatan. Setelah tahapan tersebut, pekerjaan akan berlanjut pada struktur dan fasilitas pendukung hingga jembatan siap difungsikan.

Ia mengatakan pihaknya terus mengejar target penyelesaian agar Jembatan Kewek dapat kembali digunakan masyarakat pada penghujung 2026.

“Harapan kami pada akhir tahun, saat Nataru, jembatan ini sudah bisa fungsional,” katanya.

Dalam proses pembangunan, proyek Jembatan Kewek sempat menghadapi kendala teknis berupa kondisi tanah yang mengalami ambles pada salah satu bagian pekerjaan. Namun, persoalan tersebut telah ditangani melalui langkah teknis dan kondisi lokasi saat ini dinyatakan aman.

“Kemarin sempat ada yang ambles, tetapi sudah bisa ditangani secara teknis dan sekarang sudah aman,” jelas Tisa.

Danang juga mengingatkan agar proses pembangunan tetap memperhatikan kondisi lapangan dan mengikuti spesifikasi teknis yang telah ditentukan.

Menurutnya, percepatan pembangunan tetap harus dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan dan kualitas konstruksi. Dengan demikian, target jembatan dapat difungsikan saat Nataru tidak mengurangi standar pekerjaan yang telah ditetapkan.

Ketua Komisi C DPRD DIY, Nur Subiyantoro, menilai Jembatan Kewek memiliki posisi strategis bagi Kota Yogyakarta. Jalur tersebut menjadi salah satu penyangga kawasan filosofis Malioboro.

Keberadaan Jembatan Kewek dinilai tidak hanya mendukung mobilitas masyarakat, tetapi juga berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi dan pariwisata di sekitar Malioboro.

“Kita tahu Jembatan Kewek ini adalah jalur penyangga kawasan filosofis Malioboro. Oleh karena itu, kami berharap pembangunan ini segera selesai pada Nataru sehingga aktivitas masyarakat bisa berjalan dengan baik dan menopang perekonomian di kawasan Malioboro,” ujar Nur.

Menurutnya, penyelesaian proyek tepat waktu menjadi penting karena periode Natal dan Tahun Baru biasanya diikuti peningkatan mobilitas masyarakat dan wisatawan di Kota Yogyakarta.

Dengan kembali berfungsinya Jembatan Kewek, diharapkan konektivitas menuju kawasan Malioboro dapat lebih optimal dan membantu mengurangi tekanan lalu lintas di sejumlah ruas jalan di sekitarnya.

Nilai Proyek Jembatan Kewek Rp19 Miliar

Proyek penggantian Jembatan Kewek dikerjakan menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dengan nilai kontrak sekitar Rp19 miliar.

Proyek tersebut memiliki masa pelaksanaan selama 240 hari kalender dengan target penyelesaian atau Provisional Hand Over (PHO) pada 25 Desember 2026.

Jembatan baru menggunakan struktur balok girder. Berdasarkan Detailed Engineering Design (DED) dari Pemerintah Kota Yogyakarta, jembatan memiliki panjang sekitar 30 meter dengan lebar total 16 meter.

Lebar tersebut terdiri atas badan jalan beraspal sekitar 11 meter. Sementara trotoar dibangun di kedua sisi jembatan dengan masing-masing lebar 2,5 meter.

Pembangunan diawali dengan pembongkaran struktur jembatan lama. Setelah itu dilakukan pembangunan fondasi dan struktur jembatan baru.

Paket pekerjaan juga mencakup penataan jalan pendekat atau oprit. Penataan tersebut bertujuan membuat akses menuju jembatan lebih landai dan aman bagi pengguna jalan.

Selain itu, pembangunan Dinding Penahan Tanah (DPT) juga dilakukan pada tebing Sungai Code untuk membantu mencegah erosi serta menjaga stabilitas struktur di sekitar jembatan.

Penataan Sungai Code Ikut Didorong

Pembangunan Jembatan Kewek juga berkaitan dengan penataan kawasan di sekitar Sungai Code. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak terlibat karena memiliki kewenangan terhadap alur sungai tersebut.

Danang mengatakan, pembenahan kawasan tidak berhenti pada pembangunan jembatan. Penataan alur Sungai Code akan dilakukan sesuai kebutuhan, sementara pengembangan ruang terbuka hijau di kawasan sekitar juga dapat dilanjutkan melalui program Pemerintah Kota Yogyakarta.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah diperlukan agar pembangunan infrastruktur tidak hanya menghasilkan konektivitas yang lebih baik, tetapi juga menciptakan kawasan yang lebih tertata.

“Jadi ada kolaborasi antara bidang bina marga dan sumber daya air. Kami bahagia melihat kolaborasi ini. Kawasan sekitar Malioboro akan semakin cantik, mendukung Yogyakarta berhati nyaman dan Jogja istimewa,” ungkap Danang.

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *