Sports Yogyakarta

GIK UGM Kembali Gelar Run’n Shine 2026, Padukan Olahraga, Seni, Musik, dan Kuliner Khas Yogyakarta

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menghadirkan ajang lari kreatif Run’n Shine 2026 yang akan digelar pada 18-20 September 2026 di Yogyakarta. Kegiatan yang memadukan olahraga, seni, musik, dan kuliner lokal ini menjadi ruang perayaan gaya hidup sehat sekaligus apresiasi terhadap budaya dan kreativitas kota Yogyakarta.

Run’n Shine 2026 diselenggarakan oleh GIK UGM bersama Keluarga Alumni Hukum Gadjah Mada (Kahgama). Event ini mengusung konsep “Sporty & Artsy”, sebuah pendekatan yang menggabungkan aktivitas olahraga dengan pengalaman seni dan budaya sehingga peserta tidak hanya berlari, tetapi juga menikmati suasana khas Yogyakarta melalui berbagai elemen kreatif yang disajikan sepanjang acara.

Ketua Kahgama, Paripurna P. Sugarda mengatakan, penyelenggaraan Run’n Shine merupakan bentuk kontribusi nyata alumni Fakultas Hukum UGM untuk masyarakat dan Kota Yogyakarta.

“Kegiatan ini bentuk kontribusi nyata kami, alumni Fakultas Hukum UGM, untuk Yogyakarta. Kami ingin ikut merawat kebersamaan dan rasa cinta pada kota ini lewat kegiatan yang sehat dan kreatif,” ujarnya dalam konferensi pers di Yogyakarta, Jumat (11/7/2026).

Ajang ini kembali digelar setelah sukses menarik perhatian ribuan peserta pada penyelenggaraan tahun 2025 yang diikuti sebanyak 2.449 pelari. Antusiasme tersebut menjadi motivasi bagi penyelenggara untuk menghadirkan pengalaman yang lebih berkesan pada tahun ini.

Pada Run’n Shine 2026, peserta dapat mengikuti dua kategori lomba, yakni 5 kilometer (5K) dan 10 kilometer (10K). Menariknya, konsep penyelenggaraan tahun ini mengusung pendekatan “5K” yang terdiri atas Kampus, Komunitas, Keraton, Kampung, dan Korporasi.

Melalui konsep tersebut, setiap rute dirancang untuk memperlihatkan kekayaan lanskap dan karakter khas Yogyakarta. Peserta akan diajak menikmati suasana kota dari berbagai sudut yang merepresentasikan identitas daerah, mulai dari kawasan pendidikan, pusat aktivitas masyarakat, kawasan budaya dan sejarah, hingga area ekonomi yang menjadi denyut kehidupan kota.

Race Director Run’n Shine, Roostian, menjelaskan bahwa lintasan lari tahun ini dirancang secara khusus untuk menghubungkan lima elemen penting pembentuk identitas Yogyakarta.

“Lintasan dirancang menghubungkan kawasan pendidikan, kawasan bersejarah, pusat ekonomi, kampung, dan ruang publik keseharian warga. Melalui rute ini, Run’n Shine menawarkan cara baru mengenal Yogyakarta,” katanya.

Tidak hanya menghadirkan pengalaman berlari yang berbeda, Run’n Shine 2026 juga tetap mempertahankan tradisi kolaborasi dengan pelaku seni dan industri kreatif. Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia menggandeng duo seniman Tempa untuk menciptakan karya eksklusif yang dituangkan dalam desain jersey dan medali resmi peserta.

Karya bertajuk “Shine Beats” tersebut menggambarkan semangat para pelari yang menyatu dengan lanskap dan landmark ikonik Yogyakarta. Berbagai elemen budaya seperti arca dan guci ditampilkan dalam gaya kontemporer sebagai simbol bahwa akar budaya Yogyakarta tetap hidup dan terus berkembang mengikuti zaman.

Head of Program Experience GIK UGM, Gilang, menilai konsep Sporty & Artsy semakin relevan dengan perkembangan gaya hidup masyarakat Yogyakarta saat ini.

“Sporty & Artsy menjadi salah satu gaya hidup yang tumbuh di Yogyakarta. Keseimbangan olahraga dan olah rasa ternyata dapat dirayakan secara bersama. Semangat ini kami rayakan kembali dalam Run’n Shine 2026,” ujarnya.

Senada dengan itu, Direktur Sedekat Imaji Rupa, Galih Satrio, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik dan pengalaman emosional dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, manusia yang utuh adalah mereka yang mampu merawat raga dan rasa secara berimbang. Karena itu, Run’n Shine 2026 tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga ruang pertemuan berbagai ekspresi kreatif yang memperkaya pengalaman peserta.

“Festival ini merupakan perwujudan olahraga dan olahrasa. Di sini, seni ikut berlari, musik ikut bernapas, dan rasa ikut merayakan. Semuanya bertemu dalam satu ruang perayaan yang utuh,” katanya.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *