INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Pewarta Foto Indonesia (PFI) Yogyakarta menggelar doa bersama untuk mendoakan keselamatan lima jurnalis dan tiga kru speedboat yang hilang kontak di perairan Selat Sunda saat menjalankan tugas jurnalistik di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Doa bersama tersebut berlangsung di Namburan Lor Nomor 7, Kemantren Keraton, Kota Yogyakarta, Jumat, (11/9). Kegiatan itu menjadi bentuk solidaritas sekaligus dukungan moral bagi keluarga lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hingga kini masih menunggu kabar keselamatan mereka.
Lima jurnalis yang hilang tersebut yakni M Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto atau Yudhis dari iNews, Firdaus Wajidi atau Daus dari Anadolu, serta Donal Husni, jurnalis lepas.
Mereka diketahui berada di kawasan perairan Gunung Anak Krakatau untuk menjalankan tugas peliputan aktivitas gunung api tersebut.
Selain kelima jurnalis, PFI Yogyakarta juga mendoakan tiga kru speedboat Arupadhatu 1, yakni Warta (55) sebagai kapten, Surakman (60) sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto (49) sebagai pemandu.
Ketua PFI Yogyakarta, Andreas Fitri Atmoko, mengatakan doa bersama menjadi bentuk kepedulian keluarga besar PFI terhadap para jurnalis yang sedang menjalankan tugas sekaligus kepada keluarga yang tengah menanti kepastian kabar.
“Kami berkumpul hari ini untuk melangitkan doa bersama, memohon agar lima rekan kami segera ditemukan. Kami berharap pencarian yang dilakukan hari ini dan seterusnya membawa kabar baik, dan yang paling utama, mereka semua dapat ditemukan dalam keadaan selamat,” ujar Andreas pada keterangan, Sabtu (12/9/2026).
Andreas mengatakan, seluruh keluarga besar PFI Yogyakarta terus mengikuti perkembangan pencarian. Ia berharap tim SAR dapat menemukan kelima jurnalis dan tiga kru kapal dalam kondisi selamat.
Menurut dia, situasi tersebut kembali mengingatkan insan pers mengenai tingginya risiko pekerjaan jurnalistik di lapangan. Jurnalis sering kali harus mendatangi lokasi bencana dan wilayah dengan kondisi yang sulit diprediksi untuk mendapatkan informasi serta mendokumentasikan peristiwa.
Karena itu, Andreas menilai solidaritas antar jurnalis menjadi penting ketika seorang rekan menghadapi situasi darurat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian. Ada keluarga, rekan-rekan jurnalis, dan komunitas pers yang terus menunggu serta mendoakan mereka. Kami juga memberikan dukungan kepada keluarga yang saat ini tentu berada dalam situasi yang sangat berat,” katanya.
Ia juga mengapresiasi, berbagai unsur yang terlibat dalam operasi pencarian. Andreas berharap pencarian dapat terus dilakukan secara maksimal dengan tetap memperhatikan keselamatan seluruh personel yang berada di lapangan.
“Kami juga mendoakan Tim Basarnas maupun relawan yang saat ini terus melakukan pencarian kepada rekan-rekan kami,” ucapnya.
Pencarian Jurnalis Hilang di Selat Sunda Terus Berlanjut
Hingga hari keempat setelah rombongan tersebut dilaporkan hilang kontak, pencarian masih terus dilakukan. Tim pencari menyisir kawasan perairan dan pulau-pulau kecil di sekitar Gunung Anak Krakatau.
“Kami berharap operasi pencarian dapat memberikan titik terang mengenai keberadaan lima jurnalis dan tiga kru speedboat tersebut,” lanjut Andreas.
Andreas juga meminta keluarga para korban tetap mendapatkan dukungan selama proses pencarian berlangsung.
“Untuk keluarga tetap optimis seluruh tim dapat segera ditemukan dengan selamat. Semoga mereka semua dapat ditemukan dalam keadaan selamat serta kembali berkumpul dengan keluarga dan orang-orang yang menanti kepulangan mereka,” imbuhnya.
Doa untuk Jurnalis Hilang Juga Digelar di Daerah Lain
Anggota PFI Yogyakarta yang dituakan, Becky Subekhi, mengatakan doa bersama untuk lima jurnalis dan tiga kru kapal tidak hanya dilakukan di Yogyakarta.
Menurut Becky, solidaritas juga ditunjukkan anggota PFI di sejumlah daerah lain, termasuk Malang dan Surabaya.
“Saya meyakini bahwa kelima rekan kita yang sampai saat ini belum ada kepastian kabar keselamatannya, apa yang kita lakukan di sini dan ribuan teman-teman menjadi penguat untuk mengumpulkan tenaga dan kembali lagi itu yang kita doakan,” kata Becky.
Menurutnya, keselamatan harus menjadi bagian penting dalam setiap aktivitas peliputan di lapangan.
“Ini tamparan juga bagi PFI. Sepenting-pentingnya kejadian, momen lebih penting nyawa. Ada wacana keamanan peliputan akan dimasukkan pada materi uji kompetensi,” ujarnya.
Anggota PFI Yogyakarta, Dwi Oblo, mengaku mengenal kelima jurnalis yang hilang. Namun, ia memiliki kedekatan personal dengan Ari Basuki atau yang akrab disapa Arbas.
Oblo mengatakan dirinya telah mengenal Arbas selama lebih dari 20 tahun. Keduanya bahkan pernah menjalankan tugas jurnalistik bersama ketika meliput erupsi Gunung Merapi pada 2006. Saat itu, Ari Basuki masih bekerja sebagai jurnalis Tempo.
Bagi Oblo, Arbas merupakan sosok jurnalis yang supel dan kerap mencairkan suasana dengan candaan. Ia juga mengagumi karya-karya fotografi Arbas.
“Foto-fotonya memang dahsyat. Saya kagumi foto-fotonya. Dua tahun lalu sempat menang award, dapat penghargaan,” ujar Oblo.
Oblo juga mengenang Arbas sebagai fotografer yang memiliki perhatian besar terhadap aspek keselamatan ketika menjalankan tugas jurnalistik di lokasi bencana.
Menurut dia, Arbas tidak hanya mengejar momen fotografi, tetapi juga memikirkan mitigasi apabila terjadi kondisi darurat.
“Sangat, dia sangat peduli dan memikirkan kalau ada sesuatu lari ke mana. Sangat peduli dengan itu,” katanya.
Karena itu, Oblo mengaku terkejut dan sedih ketika mendengar kabar rombongan Arbas kehilangan kontak di perairan Selat Sunda.
Ia berharap tim SAR dapat segera menemukan seluruh rombongan dalam kondisi selamat.
“Harapannya tim SAR bisa menemukan. Paling tidak mungkin terdampar karena di sekitar Krakatau ada pulau-pulau. Harapannya bisa ditemukan di salah satu pulau dan terdampar. Harapan kita semua,” pungkasnya.(*)
Penulis : Elis
