Headline Jabodetabek

Kronologi Lahan Terbakar di Sumatra dan Kalimantan Capai 639,23 Hektare, Karhutla Menyebar Sampai Negara Tetangga dan Jakarta

INTENS PLUS – JAKARTA. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada Oktober 2026 memicu penyebaran kabut asap hingga ke berbagai daerah, termasuk Jakarta. Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah seiring meningkatnya titik panas, cuaca kering, serta meluasnya kebakaran di kawasan Sumatra dan Kalimantan.

Berdasarkan laporan BNPB penanganan karhutla pada (12/10/2026), luas lahan yang masih terbakar dan ditangani satuan tugas di enam provinsi prioritas mencapai 639,23 hektare. Wilayah tersebut meliputi Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau.

Kebakaran terbesar dalam laporan tersebut berada di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, dengan luas mencapai 513,89 hektare. Kebakaran di kawasan yang mencakup Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan itu menjadi salah satu fokus penanganan pemerintah.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto ,melaporkan perkembangan penanganan karhutla tersebut dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto pada (12/10).

“Operasi pemadaman menghadapi sejumlah kendala, terutama asap tebal yang mengurangi jarak pandang sehingga menghambat pelaksanaan pemadaman melalui udara,” ungkapnya pada keterangan, Sabtu (17/10/2026).

Diketahui pada awal Oktober, kondisi cuaca kering meningkatkan kerawanan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia. Vegetasi yang mengering lebih mudah terbakar, sedangkan kebakaran di lahan gambut berpotensi berlangsung lama dan menghasilkan asap dalam jumlah besar.

Salah satu kejadian yang tercatat terjadi di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Pada 8 Oktober 2026, kabut asap menyelimuti kota tersebut sejak pagi hingga sore hari. Jarak pandang di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II sempat menurun hingga 400 meter.

BNPB juga mencatat pada 7 Oktober 2026 terdapat 92 titik api yang membakar lahan seluas 390,61 hektare di Sumatera Selatan.

Pada periode yang sama, kebakaran terjadi di sejumlah daerah lain. Di Sulawesi Tengah, kebakaran lahan dilaporkan di Kabupaten Tojo Una-Una dan Kabupaten Parigi Moutong pada 11 Oktober. Di Sulawesi Selatan, kebakaran lahan juga terjadi di Kabupaten Pinrang.

Sementara itu, di Kalimantan Tengah, kebakaran di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting menjadi salah satu titik perhatian karena luas area terdampak mencapai 513,89 hektare berdasarkan laporan penanganan per 12 Oktober.

Kabut asap | Foto : Mas Agung Wilis Yudha Baskoro

Pemerintah kemudian memperkuat upaya pemadaman melalui penambahan personel dan peralatan di lapangan. Operasi udara, termasuk penggunaan helikopter water bombing dan operasi modifikasi cuaca, juga menjadi bagian dari upaya penanganan sesuai kondisi di lapangan.

Kabut Asap Terpantau hingga Jakarta

Dampak karhutla tidak hanya dirasakan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran. Asap yang dihasilkan dapat terbawa angin hingga ke wilayah lain, bergantung pada arah dan kecepatan angin serta kondisi atmosfer.

Pada pertengahan Oktober 2026, pemantauan menunjukkan asap karhutla dari wilayah Sumatra dan Kalimantan terdeteksi hingga Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga melakukan pemantauan terhadap potensi sebaran asap menggunakan citra satelit dan analisis kondisi atmosfer. Simulasi untuk 17 Oktober 2026 memperkirakan sebanyak 208 kabupaten di 26 provinsi berpotensi terdampak asap karhutla.

Angka tersebut merupakan perkiraan wilayah yang berpotensi terdampak, bukan luas sebaran asap dalam satuan hektare atau kilometer persegi.

Adapun sebaran asap hingga negara tetangga dilihat berdasarkan laporan pemantauan pada tanggal dan wilayah tertentu. Pergerakan asap lintas batas negara terjadi ketika angin membawa asap dari sumber kebakaran di Indonesia menuju wilayah negara lain, tetapi cakupan dan intensitasnya tidak selalu sama setiap hari.

El Niño dan Kondisi Kering Tingkatkan Risiko Kebakaran

Suharyanto menjelaskan bahwa kondisi iklim, termasuk El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, dapat memengaruhi pola curah hujan di Indonesia.

“Ketika hujan berkurang dan periode tanpa hujan berlangsung lebih lama, lahan menjadi semakin rentan terbakar,” ucapnya.

Selain faktor cuaca, aktivitas manusia seperti pembukaan lahan dengan cara membakar dan kelalaian yang memicu api juga dapat menyebabkan karhutla.

“Kebakaran di lahan gambut terjadi karena api menjalar di bawah permukaan tanah, kondisi ini yang membuat proses pemadaman lebih sulit dan memungkinkan asap terus muncul meskipun kobaran api tidak terlihat jelas dari permukaan,” kata Suharyanto.(*)

Penulis : FDA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *