News Yogyakarta

DPRD DIY Tinjau Talud Ambrol di Banguntapan, Kerusakan Disebut Kian Mengkhawatirkan

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Kerusakan talud di bantaran Sungai Gajah Wong, Dusun Sampangan, Kalurahan Wirokerten, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, mendapat perhatian serius dari DPRD DIY. Kondisi talud yang terus mengalami ambrol dinilai semakin mengkhawatirkan karena berpotensi mengancam keberadaan jembatan di sekitar lokasi apabila tidak segera ditangani.

Menindaklanjuti laporan masyarakat, Komisi C DPRD DIY melakukan peninjauan langsung ke lokasi pada Rabu (20/5). Kunjungan tersebut dipimpin Ketua Komisi C DPRD DIY, Nur Subiyantoro, bersama anggota Komisi C yakni Aslam Ridlo, Lilik Syaiful Ahmad, Suwardi, dan Ispriyatun Katir.

Peninjauan juga dihadiri perwakilan BBWS Serayu Opak, Dinas PUP ESDM DIY, Pemerintah Kabupaten Bantul, serta Lurah Wirokerten, Rakhmawati Wijayaningrum.

“Saat ini panjang talud yang ambrol mencapai sekitar 40 meter dengan tinggi kurang lebih 5 meter dan lebar sekitar 5 meter. Jika tidak segera ditangani, kerusakan dikhawatirkan akan terus meluas hingga mengancam jembatan yang berada tidak jauh dari lokasi,” ujar Lurah Wirokerten, Rakhmawati Wijayaningrum.

Ia menjelaskan bahwa kerusakan talud di wilayah Sampangan sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 2024. Awalnya, kerusakan hanya berupa retakan kecil yang kemudian diperbaiki secara swadaya oleh masyarakat setempat.

Menurutnya, lokasi talud yang berada di tikungan Sungai Gajah Wong menyebabkan arus air menghantam sisi bantaran dengan cukup kuat sehingga mempercepat pengikisan tanah dan konstruksi talud.

Rakhmawati menambahkan, warga sekitar mulai khawatir karena kerusakan terus melebar dari waktu ke waktu. Terlebih, lokasi talud berada tidak jauh dari akses penghubung warga yang setiap hari dilalui masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi, atas respons cepat Komisi C DPRD DIY yang sudah turun langsung ke lokasi serta memfasilitasi koordinasi bersama lintas instansi terkait. Kami berharap penanganan darurat segera direalisasikan sehingga kerusakan talud tidak semakin membahayakan lingkungan sekitar maupun infrastruktur jembatan di kawasan Sungai Gajah Wong,” kata Rakhmawati.

Dalam peninjauan tersebut, Anggota Komisi C DPRD DIY, Aslam Ridlo, mengatakan hasil koordinasi di lapangan menyepakati pembagian peran antar instansi untuk percepatan penanganan sementara.

Menurutnya, BBWS Serayu Opak siap membantu penyediaan kawat bronjong, sementara pihak kalurahan akan menyiapkan tenaga kerja. Adapun Pemerintah Kabupaten Bantul diminta menyediakan material batu sebagai penanganan awal di lokasi talud ambrol.

“Pihak BBWS Serayu Opak siap membantu kawat bronjong, pihak kalurahan menyiapkan tenaga kerja, sedangkan Pemerintah Kabupaten Bantul diminta menyiapkan material batu untuk penanganan sementara,” jelas Aslam.

Ia berharap langkah darurat dapat segera dilakukan agar kerusakan tidak semakin meluas ketika debit air Sungai Gajah Wong meningkat saat hujan deras.

Anggota Komisi C DPRD DIY lainnya, Lilik Syaiful Ahmad, mengatakan kondisi talud saat ini sudah berada pada tahap yang cukup mengkhawatirkan. Pasalnya, titik kerusakan disebut hanya berjarak sekitar 40 meter dari jembatan yang ada di kawasan tersebut.

“Apabila talud kembali tergerus arus sungai saat musim hujan, maka kerusakan bisa menjalar hingga mendekati pondasi jembatan. Kalau tidak segera ditangani, karena ini sangat berpotensi merembet ke jembatan. Penanganannya harus segera dilakukan sebelum musim hujan datang,” tegas Lilik.

Hal senada disampaikan Suwardi yang meminta Pemerintah Kabupaten Bantul segera mengalokasikan dana darurat kebencanaan guna mempercepat proses penanganan talud ambrol tersebut.

“Penanganan cepat sangat penting untuk mencegah kerugian yang lebih besar, terutama apabila kerusakan sampai berdampak pada infrastruktur publik maupun akses masyarakat,” ucapnya.

Ketua Komisi C DPRD DIY, Nur Subiyantoro, mengatakan kolaboratif menjadi kunci utama dalam penanganan kerusakan talud di Sungai Gajah Wong.

Menurutnya, apabila perbaikan tidak segera dilakukan sebelum musim penghujan tiba, maka potensi kerusakan akan semakin besar dan penanganannya menjadi lebih sulit.

“Kalau nanti musim penghujan tiba sementara talud belum diperbaiki, maka kerusakan akan semakin meluas dan penanganannya akan jauh lebih berat karena sudah mengancam jembatan. Kami akan terus mengawal proses penanganan agar koordinasi antar instansi berjalan efektif,” Kata Nur.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *