Lifestyle Yogyakarta

Michael Learns To Rock Hipnotis Belasan Ribu Penonton di Prambanan Jazz Festival 2026

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Grup pop legendaris asal Denmark, Michael Learns To Rock (MLTR) sukses menghipnotis belasan ribu penonton pada hari pertama Prambanan Jazz Festival 2026 yang digelar di Pelataran Candi Prambanan, Jumat (3/7). Membawakan deretan lagu romantis yang telah menjadi soundtrack generasi 1990-an, penampilan MLTR berubah menjadi malam penuh nostalgia yang membuat penonton larut bernyanyi dari awal hingga akhir konser.

Festival musik yang tahun ini mengusung tema Celebrate The Joy itu menjadikan Michael Learns To Rock sebagai salah satu penampil utama. Kehadiran trio yang digawangi Jascha Richter, Mikkel Lentz, dan Kåre Wanscher menjadi magnet bagi ribuan penggemar yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Sejak naik ke atas panggung, suasana langsung pecah. Namun sebelum memulai penampilannya, vokalis Jascha Richter melempar candaan yang langsung disambut riuh penonton.

“Malam ini bukan Michael Learns To Rock, tetapi Michael Learns To Jazz,” ujar Jascha disambut sorak dan tepuk tangan meriah.

Candaan tersebut menjadi pembuka yang mencairkan suasana sekaligus menggambarkan penampilan MLTR malam itu. Sejumlah lagu dibawakan dengan sentuhan aransemen yang lebih lembut dan bernuansa jazz, menyesuaikan karakter festival tanpa menghilangkan identitas pop romantis yang telah melekat pada band tersebut selama lebih dari tiga dekade.

Michael Learns To Rock membuka konser dengan lagu Someday. Baru beberapa bait dinyanyikan, belasan ribu penonton sudah ikut bernyanyi bersama.

Sepanjang kurang lebih 90 menit penampilan, MLTR menghadirkan lagu-lagu terbaik yang telah menemani perjalanan hidup jutaan penggemarnya. Satu per satu lagu hits seperti Complicated Heart, Sleeping Child, 25 Minutes, Paint My Love, The Actor, Out of the Blue, That’s Why (You Go Away), Take Me to Your Heart, hingga Wild Women dibawakan secara apik.

Setiap lagu disambut paduan suara penonton yang seolah tak pernah lupa setiap liriknya. Suasana di pelataran Candi Prambanan berubah menjadi konser nostalgia yang mempertemukan berbagai generasi dalam satu panggung. Salah satu momen paling emosional terjadi ketika Jascha Richter memperkenalkan lagu Sleeping Child.

“Lagu ini saya persembahkan untuk anak-anak di seluruh dunia,” katanya.

Sesaat kemudian, ribuan penonton menyalakan lampu ponsel secara bersamaan. Cahaya putih yang memenuhi kawasan konser berpadu dengan megahnya siluet Candi Prambanan, menciptakan pemandangan yang memukau.

Seluruh penonton kemudian ikut menyanyikan lagu tersebut bersama-sama. Suasana haru begitu terasa, menjadikan Sleeping Child sebagai salah satu penampilan paling berkesan sepanjang malam.

Popularitas Michael Learns To Rock di Indonesia memang tidak pernah benar-benar surut. Lagu-lagu mereka dikenal memiliki melodi yang sederhana, mudah dinyanyikan, serta lirik berbahasa Inggris yang mudah dipahami.

Tema cinta, persahabatan, kehilangan, dan harapan yang diangkat dalam lagu-lagu mereka membuat karya MLTR tetap relevan lintas generasi.

Tak heran apabila lagu seperti Paint My Love, 25 Minutes, dan That’s Why (You Go Away) masih menjadi bagian dari kenangan masa muda banyak masyarakat Indonesia yang tumbuh pada era 1990-an.

“Bagi yang masa mudanya pada 90-an, lagu-lagu Michael Learns To Rock memang menjadi nostalgia,” kata Herry Santoso, salah seorang penonton asal Sleman.

Menurut Herry, menyaksikan MLTR secara langsung di kawasan bersejarah seperti Candi Prambanan memberikan pengalaman berbeda dibandingkan hanya mendengarkan lagu mereka melalui kaset atau platform musik digital.

CEO Prambanan Jazz Festival, Anas Syahrul Alimi, mengatakan kehadiran Michael Learns To Rock merupakan bagian dari komitmen festival menghadirkan musisi lintas generasi yang mampu menjangkau penonton dari berbagai usia.

Menurutnya, Prambanan Jazz Festival tidak hanya menjadi ajang pertunjukan musik, tetapi juga ruang bertemunya berbagai generasi melalui karya-karya yang memiliki nilai emosional.

“Prambanan Jazz menjadi ruang perjumpaan lintas generasi. Yang tampil datang dari generasi yang berbeda dan membawa kenangan yang berbeda pula bagi para penontonnya,” ujar Anas.

Konsep tersebut sejalan dengan tema Celebrate The Joy, yang ingin menghadirkan kebahagiaan melalui musik sekaligus menciptakan pengalaman tak terlupakan di salah satu situs warisan budaya paling ikonik di Indonesia.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *