INTENS PLUS – BALI. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bersama Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya menyinkronkan langkah strategis pengembangan Bali berbasis pariwisata dan ekonomi kreatif dalam Rapat Koordinasi Tingkat Menteri Pengembangan Wilayah Bali yang berlangsung di Wiswa Sabha Utama, Bali.
Rapat tersebut menjadi forum koordinasi lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah untuk memperkuat pembangunan Bali yang berkelanjutan melalui integrasi kebijakan di sektor infrastruktur, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Langkah ini dinilai penting mengingat Bali tidak hanya menjadi destinasi wisata unggulan Indonesia, tetapi juga etalase budaya dan kreativitas bangsa di tingkat global.
“Kita ingin memastikan Bali tetap menjadi destinasi pariwisata kelas dunia, tetapi pembangunan yang dilakukan juga harus menjaga alam, budaya, dan masyarakatnya. Karena itu diperlukan kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan agar setiap kebijakan yang diambil saling terintegrasi dan memberikan manfaat jangka panjang,” ujar Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan AHY. Senin (20/7/2026).
Menurutnya, tantangan pembanguan tersebut ke depan semakin kompleks seiring meningkatnya aktivitas pariwisata dan ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang terintegrasi agar pertumbuhan ekonomi yang terjadi tidak mengorbankan kualitas lingkungan maupun identitas budaya yang selama ini menjadi daya tarik utama Pulau Dewata.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa ekonomi kreatif memiliki peran strategis yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Bali memiliki posisi penting sebagai salah satu pusat kreativitas Indonesia yang dikenal luas oleh wisatawan mancanegara.
“Bali merupakan salah satu provinsi prioritas pengembangan ekonomi kreatif nasional. Karena itu, kami ingin memastikan pengembangan wilayah Bali berjalan seiring dengan penguatan ekosistem ekonomi kreatif, sehingga karya dan talenta kreatif daerah dapat semakin berkembang sekaligus memperkuat daya saing Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia,” kata Teuku Riefky
Ia menjelaskan, bahwa penguatan ekonomi kreatif tidak hanya berfokus pada peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga menjadi instrumen untuk menciptakan lapangan kerja baru, memperkuat identitas budaya lokal, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Melalui pengembangan ekonomi kreatif, manfaat sektor pariwisata diharapkan dapat dirasakan lebih luas oleh pelaku usaha lokal, komunitas kreatif, hingga masyarakat desa.
Sebagai implementasi Peraturan Presiden Nomor 37 Tahun 2026 tentang Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026–2045, Kementerian Ekraf terus mendorong sinergi lintas kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas, akademisi, dan media dalam pengembangan 21 subsektor ekonomi kreatif nasional.
Melalui Rindekraf, aturan ini mengedepankan strategi penguatan desa kreatif, aktivasi creative hub yang telah tumbuh di berbagai daerah, serta peningkatan kapasitas pelaku ekonomi kreatif agar mampu bersaing di pasar nasional maupun global.
“Melalui Rindekraf, kami tidak memulai dari nol. Fokus kami adalah memperkuat desa kreatif, mengaktivasi creative hub yang telah berkembang di daerah, serta mendorong karya kreatif lokal agar mampu menjadi kebanggaan di pasar nasional maupun global melalui program Creative by Indonesia,” kata Teuku Riefky.
Program Creative by Indonesia sendiri diarahkan untuk memperkuat branding produk kreatif Indonesia sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi para pelaku ekonomi kreatif daerah.
Dengan dukungan tersebut, karya-karya kreatif lokal diharapkan mampu menjadi bagian penting dari pengalaman wisata yang ditawarkan Bali kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.
Sementara itu, Gubernur Bali, I Wayan Koster menyampaikan bahwa Bali saat ini menyumbang sekitar 55 persen devisa pariwisata nasional. Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan posisi strategis Bali dalam perekonomian nasional sekaligus menjadi alasan pentingnya percepatan pembangunan infrastruktur yang mendukung aktivitas masyarakat dan wisatawan.
“Tantangannya, pembangunan ini masih perlu mendapatkan perhatian bersama, mulai dari penanganan sampah, penyediaan air bersih, pengendalian abrasi pantai, hingga peningkatan konektivitas antar kawasan di Bali,” bebernya.
Ia menilai pembangunan infrastruktur yang merata akan memperkuat daya dukung berbagai sektor strategis, termasuk sektor ekonomi kreatif yang kini berkembang semakin pesat di berbagai wilayah Bali.
“Kami mendorong pemerataan pembangunan agar tidak hanya terpusat di kawasan Bali Selatan. Penguatan Bali Utara, Bali Timur, dan Bali Barat menjadi bagian dari strategi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkeadilan,” imbuh Koster.(*)
Penulis : FDA
