INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Sebanyak 20 desainer asal Yogyakarta menampilkan karya mereka dalam IFC Fashion Trend 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian Jogja Fashion Week (JFW) 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Minggu (16/8/2026).
Fashion show yang digelar Indonesian Fashion Chamber (IFC) Yogyakarta tersebut mengusung tema “Recode”, yang menjadi interpretasi baru terhadap masa depan fashion Indonesia yang lebih berkelanjutan, relevan, dan bermakna.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan mengapresiasi penyelenggaraan IFC Fashion Trend sebagai ruang kreativitas sekaligus peluang bisnis bagi para desainer. Menurutnya, fashion tidak sekadar pertunjukan di atas runway, tetapi memiliki keterkaitan dengan identitas, kreativitas, teknologi, keterampilan, kewirausahaan, hingga penggerak ekonomi.
“Kami melihat IFC Fashion Trend bukan semata-mata sebagai sebuah fashion show. Tetapi sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem fashion dan ekonomi kreatif di Yogyakarta,” kata Wawan. Minggu (16/8/2026).
Wawan menilai, karya yang ditampilkan para desainer memiliki kualitas yang matang dan berpotensi menembus pasar global. Eksplorasi material dan motif, termasuk kekayaan wastra Indonesia, dinilai mampu dikembangkan menjadi produk fashion bernilai tambah.
Menurutnya, pengembangan industri fashion membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, desainer, pelaku UMKM, industri, komunitas, akademisi, media, buyer, dan masyarakat.

Sementara itu, Advisory Board dan kurator IFC sekaligus desainer Yogyakarta, Lia Mustafa, mengatakan IFC Fashion Trend merupakan agenda yang wajib digelar setiap chapter IFC dan khusus diikuti anggota IFC.
Lia menyebut, IFC Fashion Trend 2026 menjadi momentum bagi IFC Yogyakarta untuk mulai memperkenalkan tren fashion tahun depan. Ia berharap ajang tersebut dapat mendorong pergerakan ekonomi kreatif sekaligus menjadi acuan perkembangan mode Indonesia.
“Harapannya menggiring ekonomi kreatif. Menggiring masyarakat dengan konsep trend ini berarti kita bisa melihat acuan mode Indonesia,” ujar Lia.
Lia juga menilai banyak desainer Yogyakarta telah memiliki kemampuan untuk masuk pasar internasional. Tantangannya kini adalah menjaga konsistensi dan memperkuat ekosistem dari hulu hingga hilir agar industri fashion Yogyakarta semakin berkembang.
Dalam ajang tersebut, Lia turut menampilkan karya Terralom Rinjani dengan dominasi warna alam dan nuansa kain ecoprint. Karya tersebut menjadi salah satu bentuk eksplorasi material dan warna untuk menghadirkan fashion yang dinamis dan futuristik.



(*)
Penulis : Elis
