Politik Yogyakarta

Pengurus Matahari Pagi Indonesia DIY 2026-2029 Resmi Dilantik, Fadhl Muhammad Firdaus Jadi Ketua

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Pengurus Wilayah Matahari Pagi Indonesia (MPI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) periode 2026-2029 resmi dilantik di Pendopo Parasamya, Sleman, DIY, Jumat (4/9/2026) malam.

Fadhl Muhammad Firdaus, B.I.B., M.Sc., resmi dipercaya menjadi Ketua Pengurus Wilayah MPI DIY periode 2026-2029. Dalam kepemimpinannya, Fadhl berkomitmen menjadikan MPI sebagai organisasi yang tidak sekadar menghadirkan gagasan, tetapi juga mampu melahirkan gerakan dan solusi nyata bagi masyarakat.

Pelantikan tersebut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya pendiri MPI yang juga Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia Dahnil Anzar Simanjuntak serta sejumlah pejabat dan tokoh daerah. Ratusan kader dan pengurus MPI dari berbagai latar belakang turut hadir dalam acara tersebut.

Dalam sambutannya, Fadhl menjelaskan makna filosofis di balik nama Matahari Pagi. Menurutnya, matahari pagi merupakan simbol harapan karena hadir membawa cahaya setelah gelapnya malam.

“Matahari pagi adalah simbol harapan,” ujar Fadhl dalam keterangannya, Sabtu (5/9/2026).

Menurut dia, filosofi tersebut harus menjadi semangat bagi MPI dalam menjalankan organisasi. Matahari Pagi Indonesia diharapkan mampu menjadi cahaya yang menghadirkan gagasan, gerakan, sekaligus solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Fadhl menegaskan, perjuangan organisasi tidak boleh hanya diukur dari nama besar, jabatan, maupun eksistensi kelembagaan. Hal yang lebih penting adalah nilai keikhlasan dalam pengabdian, keberanian untuk bergerak, serta konsistensi memberikan manfaat.

“Sejatinya, sebuah organisasi tidak akan dikenang dari seberapa besar namanya, tetapi dari seberapa besar dampaknya,” katanya.

Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Fadhl menyampaikan empat fokus yang akan menjadi manifesto perjuangan MPI DIY selama periode 2026-2029.

Pertama, akan memperkuat nilai pengabdian dan kepedulian sosial. Organisasi diarahkan untuk menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat, bukan hanya sebagai lembaga yang menyampaikan gagasan.

Kedua, akan mendorong lahirnya generasi muda yang berkarakter, berintegritas, serta memiliki semangat kepemimpinan.

Ketiga, berkomitmen membangun organisasi yang terbuka, kolaboratif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Keterbukaan dinilai penting agar organisasi dapat menjalin kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat.

Keempat, akan menjaga persatuan dan kebersamaan dengan mengedepankan kekuatan kolektif.

Fadhl menyadari perjalanan organisasi tidak selalu berjalan mudah. Perbedaan pandangan maupun dinamika internal merupakan bagian dari proses yang harus dihadapi bersama.

“Selama kita memiliki tujuan yang sama dan dilandasi niat yang baik, maka setiap tantangan dapat kita hadapi bersama,” ujarnya.

Dia pun mengajak seluruh jajaran menjadikan organisasi tersebut sebagai rumah perjuangan yang memberikan ruang kepada masyarakat untuk belajar, bergerak, berkarya, dan mengabdi.

“Mari kita buktikan bahwa Matahari Pagi Indonesia bukan hanya hadir dalam kata-kata, tetapi hadir dalam tindakan nyata. Bukan hanya berbicara perubahan, tetapi menjadi pelaku perubahan,” kata Fadhl.

Kepengurusan baru MPI DIY juga menyiapkan sejumlah program yang menyasar berbagai kelompok masyarakat.

Di bidang kepemudaan, akan menghadirkan Festival Dukungan Masyarakat melalui forum Matahari Pagi Mendengar. Forum tersebut menjadi ruang untuk berdiskusi sekaligus menyerap aspirasi generasi muda.

Selain itu, menyiapkan Akademi Kepemimpinan yang berfokus pada literasi sejarah dan internalisasi nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa.

Di sektor kesehatan dan pengabdian masyarakat, akan menjalankan Layanan Kesehatan Gratis berupa pemeriksaan medis secara berkala bagi warga yang membutuhkan.

Program lainnya adalah Berbagi Pangan dan Sanitasi yang mencakup pembagian makanan gratis serta perbaikan fasilitas sanitasi di sejumlah sekolah.

Pihaknya juga menaruh perhatian pada penguatan toleransi melalui Aksi Sosial Lintas Agama. Kegiatan tersebut diwujudkan dalam bentuk aksi bersih-bersih tempat ibadah, mulai dari masjid, gereja, kelenteng hingga pura.

Program lintas agama tersebut diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan sekaligus menunjukkan bahwa kerja sosial dapat mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Pelaksana Tugas Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Sleman, Wildan Solichin, mengatakan pembangunan daerah tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah.

Menurutnya, organisasi kemasyarakatan memiliki peran penting dalam menghimpun kepedulian, potensi masyarakat, solidaritas, sekaligus menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah.

“Membangun tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri, namun juga melibatkan ormas,” tutur Wildan.

Dia berharap MPI dapat mengambil bagian dalam pembangunan di Kabupaten Sleman. Menurutnya, kontribusi organisasi masyarakat akan semakin kuat apabila dibangun melalui kolaborasi dengan berbagai unsur.

Wildan juga mendorong, untuk memperkuat pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, serta unsur terkait lainnya.

Pembangunan masyarakat, menurut dia, tidak cukup hanya mengejar kemajuan ekonomi. Aspek kebudayaan, toleransi, kepedulian, dan semangat berbagi juga harus diperkuat.

“Rawat komunikasi untuk membangun Sleman,” pesannya.

Sementara itu, amanat Gubernur DIY yang dibacakan Kepala Biro Hukum Setda DIY, Cahyo Widayat, menekankan bahwa ukuran sebuah organisasi bukan semata-mata jumlah orang yang tergabung di dalamnya.

“Ukuran keberhasilan organisasi justru terletak pada manfaat yang mampu diberikan kepada masyarakat. Dalam amanat disampaikan tiga nilai penting yang diharapkan menjadi landasan kepengurusan MPI DIY, yakni kehadiran, kebermanfaatan, dan kebersamaan,” terangnya.

Kehadiran dimaknai sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat. Kebermanfaatan berarti kemampuan menerjemahkan gagasan menjadi aksi nyata. Sementara kebersamaan berarti kemampuan melewati berbagai sekat kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

“Semoga kepengurusan yang dilantik dapat menjadi ruang inklusif, produktif, dan berpihak kepada kemanusiaan,” demikian amanat Gubernur DIY yang dibacakan Cahyo.

Pendiri MPI sekaligus Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, dalam kesempatan tersebut menekankan pentingnya persatuan dan kolaborasi dalam membangun organisasi maupun bangsa.

Dahnil mengaitkan semangat tersebut dengan karakter masyarakat Yogyakarta yang memiliki hubungan kuat dengan alam dan kebudayaan.

Dia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan sebagaimana pesan Alquran dalam Surah Ali Imran ayat 102-104 yang dibacakan dalam acara pelantikan.

“Bangsa Indonesia sejak awal dibangun melalui gagasan untuk menyatukan berbagai perbedaan. Para pendiri bangsa, kata dia, berusaha mempertemukan berbagai gagasan dan kelompok untuk membangun Indonesia,” kata Dahnil.

Karena itu, era saat ini membutuhkan pola kolaborasi yang tidak menegasikan kelompok lain.

Dahnil menyebut pendekatan tersebut sebagai blue ocean management, yakni membangun ruang kerja sama dan menciptakan nilai baru tanpa harus saling meniadakan.

“Kita tidak akan besar bila tidak bisa merangkai perbedaan. Inilah eranya,” ujar Dahnil.

Dia mengatakan MPI sejak awal dibangun sebagai gerakan yang mempersatukan berbagai elemen dengan latar belakang berbeda. Karena itu, kepengurusan MPI DIY diharapkan tidak membatasi diri berdasarkan latar belakang organisasi maupun pilihan politik.

Dahnil meminta Fadhl sebagai Ketua MPI DIY tidak ragu merangkul berbagai kelompok.

“Untuk ketua umum MPI DIY, jangan sungkan-sungkan merangkul siapapun tanpa melihat latar organisasinya, parpolnya juga macam-macam,” katanya.

Menurut Dahnil, seluruh elemen tersebut dapat dikumpulkan menjadi sebuah gerakan bersama.

“Kami kumpulkan semua di sini sebagai gerakan akumulatif advantage. Ini yang harus dilakukan DIY,” lanjutnya.

Dahnil menegaskan, MPI bukan gerakan politik, melainkan gerakan kebudayaan yang bertujuan mengakumulasi berbagai kebaikan dari pengalaman dan kepemimpinan sebelumnya.

Dia mengingatkan agar masyarakat tidak terus-menerus menyalahkan generasi maupun pemimpin sebelumnya. Setiap generasi, menurutnya, harus mengambil berbagai hal baik dari kepemimpinan terdahulu untuk kemudian dikembangkan.

“Ambil yang lebih dari para pemimpin sebelumnya, semua kebaikan diambil. Mikul duwur mendem jero,” ujarnya.

Struktur Pengurus MPI DIY 2026-2029

Kepengurusan PW MPI DIY periode 2026-2029 disahkan melalui Surat Keputusan Pengurus Besar Matahari Pagi Indonesia Nomor 001/SK/PB-MPI/IX/2026 yang ditetapkan di Jakarta pada 3 September 2026.

Dalam struktur tersebut, Fadhl Muhammad Firdaus menjabat Ketua Pengurus Wilayah. Posisi Wakil Ketua ditempati Drs. Bambang Wahyu Nugroho, M.A.

Sekretaris dijabat H. Heriwanto, S.Pd.I., M.P.I., M.E., sedangkan Wakil Sekretaris adalah M. Masud Azhari, S.Pd. Muhammad Ibnu Bakar dipercaya sebagai Bendahara dan Guspito sebagai Wakil Bendahara.

Sejumlah bidang juga dibentuk untuk mendukung program organisasi, yakni Bidang Humas, Media, dan Publikasi; Pendidikan; Seni dan Budaya; Ekonomi dan Pemberdayaan Umat; Pemuda dan Olahraga; Kesehatan dan Pengabdian Masyarakat; Riset dan IPTEK; Hukum dan HAM; serta Hubungan Antar Lembaga.

Dengan dilantiknya kepengurusan baru tersebut, MPI DIY periode 2026-2029 diharapkan mampu menerjemahkan semangat Matahari Pagi sebagai simbol harapan ke dalam kerja nyata.

“Kehadiran organisasi tidak hanya diukur melalui aktivitas kelembagaan, tetapi dari seberapa jauh program yang dijalankan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat Yogyakarta. Semangat kehadiran, kebermanfaatan, kebersamaan, kolaborasi, dan persatuan pun menjadi pondasi bagi MPI DIY untuk menjalankan gerakan sosial selama tiga tahun ke depan,” tutup Dahnil.(*)

Penulis : Elis

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *