Headline Yogyakarta

Demo di Simpang Gramedia Jogja, 5 Mahasiswa UGM dan 1 Mahasiswa UNY Terluka

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Aksi demonstrasi di Simpang Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026), berujung pada sejumlah mahasiswa yang mengalami luka dan harus mendapatkan perawatan medis.

Sebanyak enam mahasiswa sempat dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. Mereka terdiri dari lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dan satu mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Direktur Kemahasiswaan UGM, Hempri Suyatna, mengatakan keenam mahasiswa tersebut mengalami sejumlah kondisi berbeda setelah insiden yang terjadi di tengah aksi demonstrasi.

“Enam mahasiswa. Lima mahasiswa dari UGM dan satu mahasiswa dari UNY yang kemarin sempat dirawat di rumah sakit,” ujar Hempri saat ditemui di UGM, Rabu (2/9/2026).

Hempri menjelaskan lima mahasiswa UGM yang sempat mendapat perawatan di RS Panti Rapih mengalami luka mulai dari luka robek hingga memar.

Satu mahasiswa mengalami luka robek pada bagian dahi. Luka tersebut cukup serius hingga membutuhkan jahitan setelah terkena hantaman.

Sementara satu mahasiswa lainnya mengalami luka robek di bagian bibir. Kemudian seorang mahasiswa mengalami luka memar pada bagian pelipis, perut, dan kepala belakang. Dua mahasiswa lainnya mengalami trauma dan sesak napas setelah kejadian di lokasi demonstrasi.

“Yang agak parah ada yang dijahit di sini (menunjuk bagian dahi), kena hantaman,” ungkap Hempri.

Hempri kembali menjelaskan salah satu mahasiswa mengalami luka pada bagian dahi hingga mengeluarkan darah dan mendapatkan jahitan.

“Sempat berdarah, robek di (dahi) sini, ada yang dijahit, di depan,” tandasnya.

Selain lima mahasiswa UGM, terdapat satu mahasiswa UNY yang turut menjalani perawatan di RS Panti Rapih. Mahasiswa tersebut mengalami luka memar pada bagian pelipis. Keenam mahasiswa kemudian mendapatkan penanganan medis di rumah sakit. Hempri memastikan seluruh mahasiswa yang sempat dirawat telah diperbolehkan pulang.

“Alhamdulillah jam setengah satu kemarin sudah pulang dan kembali ke rumah,” tuturnya.

Dengan demikian, tidak ada mahasiswa dari enam korban tersebut yang masih menjalani rawat inap di RS Panti Rapih setelah insiden demonstrasi tersebut.

Hempri mengatakan pihak UGM telah melakukan pemantauan terhadap mahasiswa selama aksi demonstrasi berlangsung. Pemantauan dilakukan Direktorat Kemahasiswaan bersama K5L (Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan dan Lingkungan) UGM. Menurutnya, pemantauan dilakukan sejak sore hingga dini hari.

“Kami di Direktorat Kemahasiswaan, K5L dan sebagainya, kemarin juga memantau adik-adik dari jam empat (sore) sampai dengan malam ya, jam satu dini hari,” ujar Hempri.

Namun, situasi di sekitar lokasi aksi disebut mulai berubah sekitar pukul 22.00 WIB. Hempri mengatakan mahasiswa kemudian didesak mundur oleh kelompok masyarakat tertentu. Menurut keterangan yang diterima pihak kampus, dalam proses tersebut terjadi tindakan kekerasan terhadap mahasiswa.

“Mahasiswa dipukul mundur oleh kelompok-kelompok masyarakat dan ironisnya dengan berbagai bentuk apa tadi, aksi kekerasan yang tidak sepantasnya terjadi,” tuturnya.

Doorstop terkait 6 mahasiswa yang menjadi korban aksi demo simpang Gramedia, Yogyakarta di Gedung UGM | Foto : Ist

Ia menyebut mahasiswa yang mengikuti aksi tidak melakukan tindakan anarkis sebelum kejadian tersebut.

“Adik-adik (mahasiswa) tidak anarkis, tidak ribut dan sebagainya tapi kemudian dipukul mundur dengan tindakan-tindakan yang kemudian ya anarkis,” imbuhnya.

Akibat insiden tersebut, sejumlah mahasiswa mengalami luka fisik hingga trauma dan sesak napas. Enam mahasiswa kemudian sempat dibawa ke RS Panti Rapih untuk mendapatkan penanganan medis.

Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Arie Sudjito, menegaskan bahwa kekerasan tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.

Menurut Arie, penyampaian aspirasi merupakan bagian dari kehidupan demokrasi dan mahasiswa memiliki ruang untuk menyampaikan sikap kritis.

“Jadi apapun itu tidak boleh ada kekerasan. Atas nama kemanusiaan, atas nama demokrasi, atas nama institusi juga kekerasan tidak dibenarkan,” tegas Arie.

Arie juga meminta aparat kepolisian mengambil peran aktif dalam menjaga keselamatan masyarakat dan mahasiswa selama aksi demonstrasi berlangsung.

Ia mengatakan, kondisi lokasi yang padat atau crowded dapat meningkatkan potensi terjadinya gesekan. Karena itu, aparat diharapkan dapat melakukan langkah pencegahan.

“Bahwa situasi crowded dan sebagainya saya berharap kepolisian bisa mengambil perannya untuk melindungi masyarakat, melindungi mahasiswa. Jangan sampai terjadi kekerasan,” ujarnya.

Arie juga mengingatkan agar situasi demonstrasi tidak dimanfaatkan untuk menghadirkan apa yang disebutnya sebagai premanisme politik.

“Jangan sampai terjadi kekerasan. Saya tidak ingin juga premanisme politik terjadi,” tandasnya.

Arie yang merupakan dosen sosiologi UGM mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga ruang demokrasi agar tetap berjalan secara aman.

Ia menilai penyampaian aspirasi mahasiswa merupakan bagian dari sikap kritis yang perlu dihormati.

“Kalau mahasiswa itu menyampaikan aspirasi ya didengarkan. Itu adalah bagian dari sikap kritis,” tuturnya.

Setelah seluruh mahasiswa yang sempat dirawat diperbolehkan pulang, UGM memastikan mahasiswa yang terdampak tetap mendapatkan perhatian dari pihak kampus.

UGM juga menekankan pentingnya menciptakan ruang demokrasi yang aman bagi mahasiswa maupun masyarakat. Penyampaian aspirasi, menurut kampus, seharusnya dapat dilakukan tanpa dibayangi tindakan kekerasan.

Insiden yang terjadi dalam aksi demonstrasi di Simpang Gramedia tersebut menjadi perhatian karena melibatkan mahasiswa dari dua perguruan tinggi di Yogyakarta. Lima mahasiswa UGM dan satu mahasiswa UNY sempat mendapat perawatan medis sebelum akhirnya diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *