INTENS PLUS – MAGELANG. Antusiasme penonton Magelang terhadap film Piye To Kih? mendapat apresiasi dari sutradara sekaligus produser film tersebut, Ito Mavin. Ia mengaku senang melihat sambutan masyarakat Magelang saat agenda screening film drama komedi bernuansa romansa dan supranatural itu berlangsung.
Ito menyebut setiap kota memiliki cerita dan keistimewaan masing-masing. Menurutnya, Magelang menjadi salah satu daerah yang memberikan pengalaman istimewa melalui antusiasme penontonnya.
“Orang-orangnya luar biasa. Sekali lagi, kami mengucapkan terima kasih banyak untuk yang sudah mau menonton dan membeli tiket di Magelang. Pokoknya top banget semuanya, untuk teman-teman yang hari ini hadir di screening, warga Magelang Bledos, meledak, menyala!,” ungkap Ito dengan antusias saat diwawancara di Artos Mal Magelang. Sabtu (24/10/2026).
Ia mengaku sempat menyamar sebagai penonton untuk melihat langsung suasana di dalam bioskop. Dari pengamatannya, banyak kursi telah terisi, bahkan hampir penuh.
Melihat sambutan pengemar dari Magelang tersebut, Ito berharap masyarakat terus memberikan dukungan terhadap film Piye To Kih? dan hadir menyaksikannya di bioskop yang tayang secara serempak pada tanggal 19 Oktober 2026.
Ide Cerita Piye To Kih? Berawal Sejak 2004
Di balik film Piye To Kih?, Ito Mavin mengungkapkan bahwa ide dasar ceritanya telah ia susun sejak pertengahan 2004. Setelah mengembangkan rangkaian adegan dan alur cerita, ia kemudian bekerja sama dengan Endik Koeswoyo untuk menyelesaikan skenario film tersebut.
Proses penulisan skenario berlangsung sekitar tiga setengah hingga empat bulan. Kedekatan budaya Jawa menjadi salah satu faktor yang memudahkan keduanya dalam mengembangkan dialog dan menentukan pilihan kata yang sesuai dengan karakter cerita.
Ito yang berasal dari Ponorogo, Jawa Timur, menilai kesamaan latar budaya membantu proses kreatif, terutama dalam menghadirkan dialog berbahasa Jawa yang terasa alami.
Film produksi Miracle Pictures yang menggandeng kreator lokal Woko Channel ini mengusung perpaduan komedi, drama, romansa, dan unsur supranatural.
Perpaduan Komedi, Romansa, dan Kisah Cinta Beda Alam
Film Piye To Kih? menceritakan Mukidi, diperankan Heri Chandra, seorang pria yang patah hati dan berusaha memantaskan diri untuk menikahi perempuan yang dicintainya dengan membeli rumah murah.
Namun, rumah tersebut ternyata menyimpan misteri. Mukidi bertemu dengan Sukma, perempuan dari alam berbeda yang diperankan Dara Sarasvati. Bersama dua sahabatnya, Gendut dan Penyok, Mukidi mengalami berbagai kejadian janggal sekaligus mengundang tawa.
Film ini tidak hanya mengandalkan humor, tetapi juga menghadirkan adegan emosional yang menuntut kemampuan akting para pemainnya. Dara Sarasvati, misalnya, mengaku harus berulang kali membangun emosi ketika menjalani adegan menangis, terutama saat pengambilan gambar perlu diulang akibat kendala teknis.
Sementara itu, Heri Chandra mengaku banyak belajar dalam memadukan akting natural dan komedi selama proses produksi. Gabriella Desta, pemeran Bunga, juga mengungkapkan bahwa menahan tawa ketika beradu akting dengan Heri menjadi salah satu tantangan tersendiri.
Sekitar 85 persen dialog film ini menggunakan bahasa Jawa dengan dukungan subtitle. Pilihan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan nuansa budaya lokal sekaligus membawa cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat kepada penonton secara lebih luas.(*)
Penulis : Elis
