INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Jelajah Semesta Boardgametopia 2026 memperkenalkan board game Becik, permainan edukatif anti perundungan karya lima siswa SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. Permainan ini dirancang untuk mengajarkan anak-anak tentang empati, bahaya perundungan (bullying), dan cara menyelesaikan masalah sosial melalui aktivitas bermain.
Pengenalan Becik berlangsung dalam konferensi pers Jelajah Semesta Boardgametopia 2026 yang diselenggarakan Yayasan Koneksi Hati Indonesia bekerja sama dengan Gamestory Board Game & Cafe di Minomartani, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Becik merupakan karya Arkatama Shifan Winatra, Lintang Sari Wardana, Nabil Alfarizqi, Elmyra Shanum Prasia, dan Cakra Kalani Al Ghifari. Mereka mengembangkan permainan tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap kasus perundungan yang terjadi di lingkungan teman sebaya.
“Kami punya ide untuk mengedukasi teman-teman akan bahaya bila membiarkan bullying di sekitar kita, kita harus lawan. Permainan anti perundungan ini, kita buat bersama selama 3 bulan,” ungkap Lintang, salah satu anggota tim pengembang, senin (26/10/2026).
Permainan tersebut berhasil meraih medali emas dalam kategori Social Science, Environmental Protection, and Agriculture, serta penghargaan Best Prize for The Most Creative Idea pada ajang International Young Inventors Award (IYIA) 2026 di Jakarta.
Lintang melanjutkan, setelah pulang sekolah, mereka berkumpul untuk menyusun cerita, mengembangkan konsep, dan merancang permainan agar pesan anti perundungan dapat disampaikan secara menarik kepada anak-anak.
Menurut Lintang, proses tersebut menjadi pengalaman bagi timnya untuk mengembangkan gagasan kreatif sekaligus menghadirkan solusi edukatif terhadap persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan pelajar.
Becik Dikembangkan dalam Versi Bahasa Inggris
Selain versi bahasa Indonesia, tim pengembang juga membuat Becik dalam versi bahasa Inggris agar permainan tersebut dapat digunakan oleh lebih banyak kalangan.
Elmyra Shanum Prasia menjelaskan, bahwa dirinya turut menyusun naskah bahasa Inggris berdasarkan cerita awal yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Kemampuan bahasa Inggrisnya didukung pengalaman tinggal selama beberapa tahun di Australia.
Sementara itu, Arkatama Shifan Winatra dan Cakra Kalani Al Ghifari turut mengembangkan elemen-elemen kreatif yang membentuk permainan Becik hingga siap dimainkan.
“Saya yakin, melalui pendekatan permainan ini, pelaku perundungan dapat memahami persoalan perundungan melalui pengalaman bermain yang interaktif. Pesan mengenai empati, kepedulian terhadap teman, dan keberanian menghadapi perilaku perundungan disampaikan melalui konsep permainan, bukan hanya melalui penjelasan satu arah,” sela Lintang.
Becik menjadi salah satu contoh pemanfaatan kreativitas siswa untuk menghadirkan media pembelajaran yang relevan dengan persoalan sosial di lingkungan sekolah.

Selain itu, Founder Yayasan Koneksi Hati Indonesia, Dwi Retno Utami, M.B.A., mengatakan Jelajah Semesta Boardgametopia tahun ini, merupakan penyelenggaraan kedua. Kegiatan utama yang direncanakan pada 5 Desember 2026 tersebut akan melibatkan ratusan pemain dan menghadirkan lima board game unggulan karya kreator Indonesia.
Menurut Retno, Board Game tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana belajar, melatih kemampuan berpikir, dan mempererat hubungan antaranggota keluarga.
“Tujuan dari mengadakan acara ini adalah menguatkan hubungan antara anggota keluarga, antara ayah, ibu, dan anak-anaknya. Board game dapat mengurangi ketergantungan anak pada gadget, merekatkan komunikasi antaranggota keluarga,” terangnya.
Pembina sekaligus pengajar edukasi board game di Yogyakarta, Dokter Muhammad Abdurrahman, Sp.B., atau Dokter Mamad, menambahkan bahwa permainan papan dapat menstimulasi kemampuan kognitif anak.
“Permainan board Game ini, dapat menstimulasi kemampuan kognitif anak. Termasuk dalam memahami informasi, juga menyusun strategi, dan cara memecahkan masalah,” tambahnya.
Sementara itu, owner Gamestory Board Game & Cafe, Dr. Yosua Adi Kristariyanto, menilai pengembangan komunitas board game menjadi salah satu cara untuk memperluas pemanfaatan permainan sebagai media pendidikan.
“Bagi saya, mengembangkan komunitas Board Game adalah hal yang menarik. Tidak melulu menjadi target utama pendapatan dari bisnis yang saya kelola. Bisnis kami berfokus di wedding event. Sementara, untuk membantu komunitas Board Game adalah cara saya ikut serta, menyebarkan pendidikan lewat permainan,” kata Dr. Yosua.
Dukungan juga disampaikan Perwakilan Asosiasi Pegiat Industri Board Gim Indonesia (APiBGI), Rakha Abiyan Saputra, yang menyebut komunitas dan industri board game Indonesia terus berkembang serta menjalin kerja sama dengan berbagai pihak di dalam dan luar negeri.
“Saat ini, kami berada di bawah Kementrian Ekonomi Kreatif. Kami juga menjalin kerjasama dengan entitas dalam dan luar negeri. Beberapa anggota kami memenangkan penghargaan dari luar negeri untuk produk Board Game yang menarik perhatian dunia Internasional,” ucap Rakha.
Diketahui, Board game asal Indonesia yang memenangkan penghargaan Spiel des Jahres 2026 di Berlin, Jerman, adalah JinxO (dikenal secara internasional dengan judul Dito!).
JinxO mengalahkan 570 game papan dari berbagai negara dan mencatat sejarah sebagai karya pertama dari Indonesia, serta Asia Tenggara yang meraih penghargaan bergengsi tersebut. Kreatornya Martin Ang (asal Surabaya) dengan penerbit Table Toys Games (Indonesia)
Jelajah Semesta Boardgametopia 2026 menjadi event yang paling ditunggu para pegiat dan pemain Board Game di Indonesia. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang pertemuan bagi pegiat board game, komunitas pendidikan, dan pelaku industri untuk memperluas pemanfaatan permainan papan dalam berbagai bidang.
Permainan ini dihadirkan, bertujuan agar mempererat hubungan antar keluarga. Lewat komunikasi bermain game, selain mengajak berpikir dan juga berstrategi.(*)
Penulis : Elis
