INTENS PLUS – SOLO. Regenerasi musisi menjadi salah satu tantangan industri musik Indonesia, di tengah persaingan yang semakin ketat, kemampuan bermusik saja tidak cukup. Musisi muda juga perlu memahami proses produksi rekaman, distribusi karya, pengelolaan karier, hingga bisnis musik.
Tantangan tersebut menjadi salah satu fokus program Bintang Muda Lokananta (BML) Vol. 3 yang diluncurkan PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) atau PPA bersama Lokananta di Surakarta. Peluncuran yang dikemas dalam konferensi pers bersama wartawan se-Surakarta ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan 70 tahun Lokananta, institusi rekaman bersejarah yang terus berupaya menjaga relevansinya dalam perkembangan industri musik nasional.
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di bidang pendidikan tersebut, PPA dan Lokananta berupaya menyiapkan musisi muda agar mampu berkembang sebagai pelaku industri kreatif. Peserta tidak hanya memperoleh pembinaan musikal, tetapi juga kesempatan mengenal ekosistem industri musik secara lebih menyeluruh.
Rangkaian program BML mencakup proses kurasi, Lokananta Studio Gigs, pendampingan oleh praktisi industri, rekaman profesional, perilisan karya, hingga tur promosi. Pendekatan ini dirancang untuk memberikan pengalaman praktis kepada peserta dalam membangun karier musik yang berkelanjutan.
Program tersebut membuka kesempatan bagi musisi dari Solo dan berbagai daerah di Indonesia untuk mengembangkan kemampuan, memperluas jejaring profesional, serta memperkenalkan karya mereka kepada publik.
Direktur Utama PPA, M. Teguh Wirahadikusumah, mengatakan revitalisasi Lokananta tidak cukup hanya dilakukan melalui pemugaran bangunan. Aset negara tersebut perlu terus dioptimalkan agar menghasilkan nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat sosial dan budaya.
“Revitalisasi Lokananta tidak berhenti pada pemugaran gedung. Aset negara ini harus terus produktif dan menciptakan nilai. Lewat BML, Lokananta kembali melakukan hal yang dulu membuatnya besar: menemukan musisi, merekam karya baru, dan membawanya ke publik,” ujar Teguh. Kamis (29/10/2026).
Menurutnya, keberlanjutan program tersebut menjadi bagian dari upaya PPA mengoptimalkan aset negara melalui kegiatan produktif yang memberikan dampak lebih luas kepada masyarakat.
Kepala Grup Komunikasi Perusahaan dan TJSL PPA, Agrie Pratama, mengatakan Lokananta memiliki sejarah panjang dalam perkembangan musik Indonesia. PPA berupaya mengembangkan Lokananta agar menjadi unit usaha yang sehat sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“PPA membina Lokananta menjadi unit usaha yang sehat. Selama tiga tahun ini, pendapatan Lokananta mencapai Rp36 miliar dengan tingkat kunjungan cukup tinggi,” ungkap Agrie saat wawancara.
Ia juga menjelaskan, hasil pengukuran Social Return on Investment (SROI) dari kegiatan yang didukung PPA menunjukkan peningkatan, dari 7,13 menjadi 7,46 pada 2025 dan 2026.
“Artinya selalu ada peningkatan dan tingkat pengembalian investasi di bidang sosial di angka 700 persen lebih,” terangnya.
Memasuki penyelenggaraan ketiga, Bintang Muda Lokananta menjadi salah satu upaya menghubungkan warisan sejarah musik Indonesia dengan kebutuhan regenerasi musisi masa kini.
Agrie menjelaskan, pengembangan Bintang Muda Lokananta berkaitan dengan upaya menjadikan Lokananta sebagai pusat kegiatan kreatif dan komersial atau creative and commercial hub.
Sejak direvitalisasi dan kembali dibuka untuk publik pada 2023, Lokananta berkembang sebagai ruang yang mengintegrasikan pelestarian warisan musik, produksi kreatif, pertunjukan, kolaborasi komunitas, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Berdasarkan data yang disampaikan kerjasama antara PPA dan Lokananta, tempat tersebut telah mencatat menghasilkan 1.246.440 kunjungan dan menjadi lokasi penyelenggaraan 497 kegiatan sejak kembali dibuka untuk publik.
“Capaian ini menunjukkan bahwa Lokananta tidak hanya berfungsi sebagai tempat merawat sejarah rekaman musik Indonesia, tetapi juga menjadi ruang pertemuan bagi musisi, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat,” ucapnya.
Salah satu upaya pengembangan tersebut dilakukan melalui pengaktifan kembali peran Lokananta Records sebagai wadah untuk menemukan, merekam, memproduksi, dan mendistribusikan karya musisi generasi baru.
“Dengan demikian, pelestarian warisan musik diharapkan dapat berjalan beriringan dengan penciptaan karya baru. Tempat ini tidak hanya menjaga rekaman dan kekayaan intelektual masa lalu, tetapi juga berkontribusi dalam membangun perjalanan industri musik pada masa mendatang,” imbuhnya.
Agrie menyebut, keberlanjutan Bintang Muda Lokananta turut didukung oleh hasil evaluasi dampak sosial program. Pada penyelenggaraan Vol. 1, program tersebut mencatat skor Social Return on Investment (SROI) sebesar 7,13. Angka itu meningkat menjadi 7,46 pada Vol. 2.
SROI merupakan pendekatan untuk mengukur nilai sosial yang dihasilkan suatu program dibandingkan dengan investasi yang dikeluarkan. Namun, interpretasi angka tersebut tetap bergantung pada metodologi, asumsi, dan komponen dampak yang digunakan dalam penghitungan.
Peningkatan skor tersebut, menjadi salah satu indikator perkembangan nilai sosial program yang disampaikan PPA. Meski demikian, keberhasilan pembinaan musisi muda juga perlu dilihat dari hasil jangka panjang, seperti keberlanjutan karier peserta, karya yang dihasilkan, serta peluang mereka untuk masuk dan bertahan dalam industri musik.
Melalui Bintang Muda Lokananta, PPA berupaya menghubungkan pengelolaan aset negara dengan pengembangan sumber daya manusia dan penguatan ekonomi kreatif.
“Di tengah persaingan industri musik yang terus berkembang, keberadaan ruang inkubasi seperti BML diharapkan dapat membantu musisi muda mengubah potensi kreatif menjadi karya yang memiliki nilai artistik sekaligus peluang ekonomi,” lanjut Agrie.
CEO Lokananta, Wendi Putranto, mengatakan pelestarian warisan musik tidak semestinya hanya berorientasi pada karya-karya yang telah dihasilkan pada masa lalu. Pelestarian juga perlu membuka kesempatan bagi generasi baru untuk melahirkan karya yang akan menjadi bagian dari sejarah musik Indonesia berikutnya.
“Bintang Muda Lokananta adalah wujud nyata dari semangat musisi, kami ingin Lokananta menjadi tempat di mana talenta muda tidak hanya ditemukan dan direkam, tetapi juga dibekali pengetahuan, jejaring, serta kesempatan untuk membangun karier yang berkelanjutan,” kata Wendi.
Ia menambahkan, masa depan musik Indonesia perlu dipersiapkan melalui pembinaan dan pemberian kesempatan kepada musisi muda untuk berkembang.
Dalam pelaksanaannya, BML melibatkan sejumlah musisi dan profesional industri sebagai juri maupun mentor. Mereka antara lain Iga Massardi, Lafa Pratomo, Kukuh Rizal, Endah Widiastuti, Ferry Dermawan, dan Satria Ramadhan.
Keterlibatan praktisi tersebut diharapkan dapat mempertemukan talenta baru dengan pengalaman dan dinamika industri musik profesional.
Salah satu perwakilan juri Bintang Muda Lokananta Vol. 3, Bonita, turut menyoroti pentingnya pemahaman teknik vokal dasar bagi penyanyi muda. Menurutnya, kemampuan olah suara yang tinggi perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai cara menggunakan dan melatih pita suara secara benar.
“Banyak penyanyi yang mempunyai teknik tinggi dalam olah suara. Tapi mereka banyak lupa hal-hal dasar. Seperti menggunakan pita suara yang sebenarnya adalah otot yang harus dilatih dan tidak boleh dipaksa digunakan untuk menyanyi dengan cara yang salah,” jelas Bonita kepada wartawan.
Manfaat program juga dirasakan oleh peserta sebelumnya. Dwiki dari Barmy Blokes, salah satu finalis Bintang Muda Lokananta Vol. 2, menilai program tersebut memberikan kesempatan bagi band yang masih merintis perjalanan untuk memperoleh pengalaman yang sulit didapatkan secara mandiri.
“Menurut saya, pada saat saya ikut finalis Bintang Muda Lokananta Vol. 2. Saat mengikuti rekaman secara profesional, dan juga mengikuti tur untuk promosi, hal itu memberikan tambahan wawasan sekaligus juga membuka peluang untuk memperluas jaringan di industri musik,” ungkapnya.
Menurutnya pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan musisi muda tidak cukup berhenti pada pencarian bakat.
‘Disini saya merasakan sendiri, selama jadi finalis. Dari akses fasilitas produksi, pendampingan yang profesional, dan saya belajar darisini, bahwa kesempatan memperkenalkan karya juga menjadi bagian penting dalam proses pengembangan sebuah karier bermusik,” kata Dwiki.
Pendaftaran Bintang Muda Lokananta Vol. 3 Dibuka hingga 31 Desember 2026
Pendaftaran Bintang Muda Lokananta Vol. 3 resmi dibuka pada 29 Oktober hingga 31 Desember 2026. Program ini dapat diikuti secara gratis oleh musisi dari Solo maupun berbagai daerah di Indonesia.
Penyelenggaraan edisi ketiga ini diharapkan memperluas kesempatan bagi musisi muda untuk memperoleh pembinaan, pengalaman produksi profesional, serta akses promosi.
Pada usia ke-70 tahun, tantangan Lokananta bukan hanya mempertahankan posisinya sebagai bagian dari sejarah musik Indonesia, melainkan juga memastikan warisan tersebut tetap hidup melalui karya dan generasi baru.
Melalui Bintang Muda Lokananta, regenerasi musisi menjadi salah satu cara menjembatani sejarah panjang industri rekaman Indonesia dengan masa depan musik nasional.
Tertarik ingin menjadi bagian jadi peserta Bintang Muda Lokananta Vol. 3, untuk informasi dan pendaftaran bisa dilihat melalui situs resmi Lokananta di www.lokanantabloc.com.(*)
Penulis : Elis
