Ekonomi Headline

LPG, LNG, dan CNG Ternyata Berbeda, Ini Penjelasan Dirjen Migas

INTENS PLUS – JAKARTA. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai mendorong pemanfaatan gas bumi sebagai alternatif energi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG). Di tengah rencana tersebut, masih banyak masyarakat yang belum memahami perbedaan antara LPG, Liquefied Natural Gas (LNG), dan Compressed Natural Gas (CNG).

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman menjelaskan bahwa ketiga jenis energi tersebut memiliki kandungan dan karakteristik yang berbeda, baik dari sisi bentuk fisik, tekanan penyimpanan, hingga penggunaannya.

“Jadi kalau LNG sama CNG itu kontennya sama, sama-sama mayoritas C1 dan sedikit C2. Tapi kalau LPG dia C3 dan C4. Nah lapangan kita itu sedikit yang menghasilkan LPG,” kata Laode dalam Podcast Bukan Abuleke Kementerian ESDM, dikutip Rabu (20/5/2026).

Menurut Laode, LPG didominasi kandungan propana (C3) dan butana (C4), sedangkan LNG dan CNG mayoritas mengandung metana (C1). Perbedaan kandungan tersebut membuat sifat fisik ketiganya juga berbeda.

Perbedaan LPG, LNG, dan CNG

LPG yang selama ini digunakan masyarakat Indonesia untuk kebutuhan rumah tangga berbentuk cair dalam tekanan tertentu. Gas ini relatif mudah dicairkan sehingga praktis untuk didistribusikan menggunakan tabung.

Sementara itu, CNG merupakan gas bumi yang dimampatkan dengan tekanan tinggi sekitar 200 hingga 250 bar. Berbeda dengan LPG, CNG tetap berada dalam bentuk gas meski volumenya diperkecil melalui proses kompresi.

Adapun LNG merupakan gas bumi yang dicairkan melalui proses pendinginan ekstrem hingga suhu sekitar minus 162 derajat Celsius. LNG umumnya digunakan untuk distribusi energi dalam jumlah besar melalui kapal atau terminal khusus.

“Jadi LPG itu C3, C4 fasenya cair. Kita sedikit sehingga pada tahun 93, 94 kita sudah mulai memikirkan walaupun implementasinya di atas tahun 2000 untuk menggantikan minyak tanah menjadi LPG,” ujar Laode.

Menurut pemerintah, Indonesia memiliki cadangan gas bumi yang cukup besar sehingga pemanfaatan CNG dan LNG dinilai lebih potensial dibandingkan terus bergantung pada impor LPG.

Pemerintah Kaji CNG 3 Kg Pengganti LPG Subsidi

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah saat ini tengah mengkaji pengembangan tabung CNG ukuran 3 kilogram sebagai alternatif pengganti LPG subsidi.

Langkah tersebut dilakukan untuk menekan tingginya impor LPG yang selama ini membebani devisa negara.

“CNG ini untuk 3 kilogram, masih kita melakukan exercise dan uji coba terhadap tabungnya. CNG ini diharapkan dalam rangka mencari salah satu alternatif terhadap substitusi impor kita yang besar,” kata Bahlil.

Pemerintah mencatat impor LPG Indonesia saat ini mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan konsumsi domestik. Kondisi tersebut membuat negara harus mengeluarkan devisa hingga Rp130-140 triliun setiap tahun hanya untuk membeli LPG dari luar negeri.

Selain itu, subsidi LPG yang harus ditanggung pemerintah juga mencapai sekitar Rp80-87 triliun per tahun.

“Bayangkan kita impor per tahun itu 8,6 juta ton untuk konsumsi. Di saat bersamaan devisa kita setiap tahun hanya untuk membeli LPG saja sekitar Rp130 sampai Rp140 triliun,” ujarnya.

ESDM Klaim CNG Lebih Aman

Di tengah wacana penggunaan CNG untuk rumah tangga, aspek keamanan menjadi perhatian utama pemerintah. Laode menegaskan bahwa penggunaan CNG akan didukung teknologi tabung dan katup khusus yang dirancang mampu menahan tekanan tinggi.

“Faktor yang paling nomor satu itu dulu. Kuncinya kalau CNG ini adalah bagaimana menyiapkan tabung dan valve-nya ini benar-benar kuat aman,” katanya.

Menurut Laode, meskipun tekanan CNG jauh lebih tinggi dibandingkan LPG, risiko kebakarannya justru relatif lebih rendah jika terjadi kebocoran di ruang terbuka.

Ia menjelaskan bahwa tekanan semburan gas CNG mampu menghalau oksigen di sekitar titik kebocoran sehingga api sulit terbentuk. Hal itu mengacu pada teori “segitiga api” yang menyebut kebakaran hanya dapat terjadi jika terdapat bahan bakar, oksigen, dan sumber panas secara bersamaan.

“CNG kalau dia kebocorannya dalam tekanan yang besar itu, tiupan tekanannya lebih besar daripada daya oksigen berada diam di ruangan,” paparnya.

Pemerintah juga akan menggunakan tabung Tipe 4 berbahan komposit fiber yang diklaim lebih ringan namun memiliki kekuatan tinggi untuk menahan tekanan gas.

“Sekarang kan dua nih tekanannya selain sosialisasi harus aman. Sedikit ada sesuatu langsung meledak. Nah ini yang mungkin bagi kami di Ditjen Migas harus menyiapkan mekanisme ini sebaik mungkin,” tandasnya.

Kementerian ESDM memproyeksikan penggunaan CNG sebagai alternatif LPG 3 kg dapat mengurangi beban subsidi energi hingga 30-40 persen.

Laode menyebut efisiensi tersebut berasal dari pemanfaatan gas bumi domestik yang jauh lebih murah dibandingkan LPG impor.

“Subsidi itu berkurang tadi bisa 30 sampai 40 persen karena proses efisiensinya kita. CNG ini yang punya kita sendiri dibanding dengan kita harus impor,” ujarnya.

Meski investasi awal tabung CNG cukup besar karena menggunakan material khusus, pemerintah menilai secara keseluruhan biaya energi akan jauh lebih efisien karena pasokan gas berasal dari dalam negeri.

“Gas kita punya banyak melimpah, harganya murah, tapi tabungnya yang mahal karena materialnya khusus,” kata Laode.

Selain itu, implementasi CNG dirancang agar masyarakat tidak perlu mengganti peralatan memasak. Sistem katup pada tabung akan dibuat plug and play sehingga kompatibel dengan kompor rumah tangga yang sudah ada saat ini.

“Artinya ini akan jadi sebuah terobosan baru untuk kemandirian energi karena kita nggak mungkin bergantung terus dari impor apalagi kondisi geopolitik seperti saat ini,” tambahnya.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *