INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Mahasiswa semester dua Fakultas Desain Elementer Institut Seni Indonesia Yogyakarta angkatan 2026 menggelar pameran bertajuk Kembang Telon yang menampilkan ragam karya abstrak berbasis nirmana tiga dimensi. Pameran tersebut berlangsung selama lima hari, mulai 15 hingga 19 Mei 2026 di Galeri Jomblang Kemuning, Kasongan, Yogyakarta.
Pameran Kembang Telon menghadirkan sebanyak 76 karya dari 76 mahasiswa Desain Produk ISI Yogyakarta. Seluruh karya merupakan hasil eksplorasi tugas mata kuliah desain elementer yang berfokus pada trimatra atau nirmana tiga dimensi.
Ketua pameran, Kirana, mengatakan kegiatan tersebut menjadi pameran kedua yang digelar mahasiswa Desain Produk angkatan 2026. Sebelumnya, mereka juga pernah mengadakan pameran karya nirmana dua dimensi.
“Acara pameran kita dari Desain Produk ISI Yogyakarta angkatan 2026, adalah pameran kedua kita dari desain elementer, judulnya Kembang Telon,” ujar Kirana. Kamis (21/5/2026).
Ia menjelaskan, karya-karya yang dipamerkan merupakan hasil proses kreatif mahasiswa selama satu semester perkuliahan. Melalui pameran tersebut, mahasiswa ingin memperlihatkan perkembangan ide dan eksplorasi bentuk abstrak kepada masyarakat luas.
“Isi pamerannya itu tugas-tugas kita selama satu semester tentang trimatra Nirmana tiga dimensi,” katanya.

Menurut Kirana, pameran tidak hanya menjadi bagian dari tugas akademik, tetapi juga ruang apresiasi seni sekaligus sarana mahasiswa memperkenalkan karya kepada publik.
“Harapannya kita pengen nunjukkin karya-karya yang selama ini kita kerjain ke khalayak umum, sekaligus memberikan inspirasi dari bentuk-bentuk nirmana yang sudah dibuat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kegiatan pameran seperti ini kemungkinan besar akan terus dilakukan setiap tahun sebagai bagian dari pembelajaran mahasiswa desain produk ISI Yogyakarta.
“Ini sebenarnya bagian dari tugas dosen juga, semacam nilai tambahan. Jadi setiap tahun pasti ada pameran, walaupun nanti tugasnya bisa berbeda,” jelas Kirana.
Tak hanya menjadi media apresiasi, pameran mahasiswa juga membuka peluang komersial terhadap karya seni yang dihasilkan. Kirana menyebut pada pameran sebelumnya terdapat karya mahasiswa yang berhasil menarik perhatian pengunjung hingga akhirnya dibeli.
“Dulu ada karya nirmana dua dimensi yang dijadikan media papan skateboard. Ada yang tertarik, lalu menghubungi pembuat karyanya dan akhirnya membeli desain tersebut,” ujarnya.
Salah satu karya yang mencuri perhatian dalam pameran Kembang Telon adalah karya berjudul Pixelated milik mahasiswa Desain Produk, Ferly Danendra Ardian. Karya tersebut menggunakan bentuk kotak-kotak yang terinspirasi dari visual game digital bergaya pixel.
Ferly mengatakan, karya tersebut menggambarkan pohon gersang yang kekurangan air sebagai simbol kekosongan dan kehilangan harapan.
“Nama karyanya Pixelated karena bentuknya kotak, imajinasinya diambil dari game dengan desain pixel. Ini nyeritain tentang pohon gersang yang kering karena kekurangan air, karena memang nggak diisi sama harapan,” kata Ferly.

Ia menjelaskan, konsep nirmana sendiri merupakan bentuk seni abstrak yang tidak selalu memiliki makna visual secara langsung. Dalam karya tersebut, ia mencoba menggambarkan perasaan kosong dan ketidakpastian yang sering dirasakan seseorang.
“Ini menggambarkan kekosongan, nggak tahu mikirin apa, nggak tahu ada apa-apa, pokoknya dijalani aja,” tuturnya.
Ferly berharap pengunjung dapat melihat bahwa karya seni abstrak tidak hanya sekadar bentuk visual, tetapi juga menyimpan pesan dan interpretasi mendalam.
“Harapannya orang bisa berpikir kalau karya yang dianggap biasa saja ternyata punya arti tertentu yang nggak bisa dijabarkan langsung,” katanya.
Pameran Kembang Telon menjadi bukti bagaimana mahasiswa muda ISI Yogyakarta mampu mengolah tugas akademik menjadi ruang kreatif yang komunikatif dan inspiratif.
Selain memperkenalkan karya kepada masyarakat, pameran ini juga memperlihatkan perkembangan eksplorasi seni dan desain generasi muda di Yogyakarta.(*)
Penulis : Elis
