INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana, menyerahkan sertifikat halal kepada 123 perwakilan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Wisata Jatimulyo.
Penyerahan ini menjadi bagian dari program percepatan sertifikasi halal yang dijalankan pemerintah untuk memperkuat ekosistem pariwisata halal dan meningkatkan daya saing produk lokal di destinasi wisata.
Kegiatan tersebut dilakukan bersama Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal, Haikal Hasan, sebagai bentuk sinergi antara Kementerian Pariwisata dan BPJPH dalam mendorong semakin banyak pelaku UMKM di desa wisata memiliki sertifikasi halal.
“123 Sertifikasi halal tidak hanya menjadi dokumen legalitas bagi produk UMKM, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk meningkatkan kualitas usaha, memperluas pasar, dan memperkuat kepercayaan konsumen,” ujar Menpar Widiyanti, Minggu (31/5/2026).
Ia melanjutkan, bahwa kehadirannya hari ini bukan hanya untuk menyerahkan sertifikat halal. Tetapi juga untuk menjaga komitmen bersama dalam membangun ekosistem pariwisata yang semakin berkualitas, inklusif, dan memberikan manfaat langsung pada masyarakat.
Desa Wisata Jatimulyo dipilih sebagai lokasi penyerahan sertifikat halal karena dinilai berhasil menjadi salah satu desa wisata unggulan di Indonesia. Hingga 30 Mei 2026, desa yang berada di kawasan Perbukitan Menoreh tersebut telah mencatatkan sebanyak 123 pelaku UMKM dan 139 produk berhasil memperoleh sertifikat halal.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi bagian dari keberhasilan program percepatan sertifikasi halal yang sejak Juli 2025 mulai diterapkan melalui proyek percontohan di 20 desa wisata. Setelah menunjukkan hasil positif, program kemudian diperluas ke 1.500 desa wisata di seluruh Indonesia sejak akhir 2025.
Secara nasional, kolaborasi antara Kementerian Pariwisata dan BPJPH telah menghasilkan 31.548 sertifikat halal yang diterbitkan untuk pelaku usaha di 1.116 desa wisata yang tersebar di 34 provinsi.
Program ini sekaligus menjadi salah satu upaya mendukung penguatan destinasi wisata pada 15 provinsi, peserta Indonesia Muslim Travel Index 2025 yang menjadi tolok ukur pengembangan wisata ramah muslim di Indonesia.
Widiyanti memaparkan, capaian tersebut patut diapresiasi karena setiap sertifikat halal yang diterbitkan mencerminkan proses panjang berupa pendampingan usaha, peningkatan mutu produk, serta pembukaan akses pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal.
“Di balik setiap sertifikat halal terdapat proses pendampingan usaha, peningkatan kualitas produk, serta terbukanya peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya di desa wisata,” katanya.
Widiyanti menegaskan bahwa sertifikasi halal kini menjadi salah satu faktor penting dalam industri pariwisata modern. Selain memberikan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan, sertifikasi halal juga mampu meningkatkan daya saing produk dan layanan yang ditawarkan pelaku usaha.
Menurutnya, wisatawan saat ini semakin memperhatikan aspek kualitas, keamanan, dan transparansi produk yang mereka konsumsi selama berwisata.
“Ketika UMKM tersertifikasi halal, daya saingnya meningkat. Kepercayaan konsumen bertambah, akses pasar semakin terbuka, baik untuk wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini berada di posisi kelima nasional dalam jumlah sertifikat halal yang telah diterbitkan. Posisi tersebut berada di bawah Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, dan Riau.
Pencapaian tersebut menunjukkan tingginya komitmen pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam mendukung pengembangan industri halal di sektor pariwisata.
Pemilihan Desa Wisata Jatimulyo sebagai lokasi penyerahan sertifikat halal juga tidak terlepas dari berbagai prestasi yang telah diraih desa tersebut.
Jatimulyo berhasil meraih Juara I Kategori Desa Wisata Maju dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024. Selain itu, desa ini juga telah memperoleh fasilitasi sertifikasi desa wisata berkelanjutan sejak tahun 2020.
Dengan berbagai pencapaian tersebut, Jatimulyo dinilai mampu menjadi contoh pengembangan desa wisata yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan secara berkelanjutan.
Keberadaan UMKM yang semakin berkembang melalui sertifikasi halal juga diharapkan dapat memperkuat posisi Jatimulyo sebagai salah satu destinasi unggulan di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kepala BPJPH, Haikal Hasan, mengatakan bahwa konsep halal saat ini telah berkembang jauh melampaui kebutuhan wisatawan muslim semata.
Menurutnya, halal kini telah menjadi simbol kualitas yang identik dengan kebersihan, kesehatan, transparansi, dan kepercayaan sehingga dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Halal kini menjadi simbol kesehatan, kebersihan, kepercayaan, dan transparansi yang dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat,” kata Haikal.
Ia menjelaskan bahwa sejumlah negara seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Korea Selatan juga mulai mengembangkan sektor pariwisata halal sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Karena itu, BPJPH optimistis sinergi yang terjalin dengan Kementerian Pariwisata dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat industri halal dunia sekaligus mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional pada 2028–2029.
“Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut dan diperluas ke lebih banyak daerah sehingga manfaatnya dapat dirasakan semakin luas oleh masyarakat,” ujarnya.
Mewakili Gubernur DIY, Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan tersebut di Desa Wisata Jatimulyo.
Menurut Imam, sertifikasi halal memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar memenuhi aspek administrasi usaha.
“Ketika produk-produk UMKM di desa wisata memperoleh sertifikasi halal, yang sedang kita bangun bukan hanya legalitas produk, melainkan peradaban usaha yang lebih bermartabat. Kita sedang menegaskan bahwa desa mampu menjadi ruang ekonomi yang maju tanpa kehilangan keluhuran nilainya,” katanya.
Sementara itu, Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, berharap semakin banyak destinasi wisata di wilayahnya yang memiliki sertifikasi halal sehingga mampu meningkatkan kenyamanan wisatawan dan mendongkrak kunjungan wisata.
“Kami sangat bangga dan berterima kasih atas kepercayaan ini. Kami akan terus berupaya agar semakin banyak destinasi wisata di Kulon Progo yang memiliki sertifikasi halal,” ucap Agung.(*)
Penulis : Elis
