Pendidikan Yogyakarta

Alumni FEB UGM Bogat Agus Riyono Sisihkan 1 Persen Transaksi Mataram City untuk Beasiswa Mahasiswa

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Kesuksesan seorang alumni tidak hanya diukur dari pencapaian karier dan bisnis yang diraih, tetapi juga dari kontribusinya dalam membuka peluang bagi generasi berikutnya.

Semangat tersebut diwujudkan oleh alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Bogat Agus Riyono, melalui program beasiswa yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan Mataram City di Yogyakarta.

Bogat yang merupakan alumni Jurusan Akuntansi FEB UGM angkatan 1983 kini menjabat sebagai Direktur Utama PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID). Bersama CEO Saraswanti Group, Hari Hardono, ia mengembangkan Mataram City sebagai kawasan hunian vertikal dan hospitality yang menjadi salah satu pusat pertumbuhan baru di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Di balik pengembangan bisnis tersebut, terdapat komitmen kuat untuk mendukung pendidikan tinggi melalui program beasiswa yang diperuntukkan bagi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).

Melalui kerja sama antara SWID dan UGM, perusahaan berkomitmen mengalokasikan dana beasiswa sebesar 1 persen dari setiap transaksi pembelian unit properti serta penggunaan fasilitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) di jaringan hotel milik SWID yang dilakukan oleh sivitas akademika UGM.

Program ini menjadi model kolaborasi yang menghubungkan aktivitas bisnis dengan dukungan langsung terhadap dunia pendidikan. Dana yang terkumpul dari setiap transaksi akan diakumulasi dan disalurkan secara resmi setiap tahun untuk mendukung mahasiswa UGM yang membutuhkan bantuan pendidikan.

“Sebagai bentuk nyata kontribusi terhadap dunia pendidikan, kerja sama ini menghadirkan skema timbal balik yang inovatif melalui program beasiswa. Dana yang terkumpul akan diakumulasikan dan disalurkan secara resmi setiap tahun untuk mendukung mahasiswa UGM,” ujar Bogat, Jumat (5/6/2026).

Tidak hanya menghadirkan program beasiswa, kerja sama tersebut juga memberikan berbagai keuntungan bagi sivitas akademika UGM. Mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, keluarga inti, hingga jaringan alumni memperoleh akses berbagai fasilitas khusus yang disediakan SWID.

Fasilitas tersebut antara lain berupa diskon pemesanan kamar hotel serta harga spesial untuk kepemilikan unit apartemen dan villa yang dikembangkan perusahaan.

Bogat mengungkapkan, bahwa kerja sama ini merupakan bentuk penghormatan dan rasa terima kasih kepada almamater yang telah memberikan banyak bekal dalam perjalanan hidupnya.

“Bagi kami, bekerja sama dengan UGM adalah bentuk bakti nyata kepada almamater. UGM memberikan banyak sekali bekal kehidupan dalam bentuk ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental untuk dapat bersaing di dunia usaha dan kehidupan pada umumnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa UGM merupakan pengubah nasib kami menjadi manusia yang berdaya dan berguna. Kini, saatnya kami kembali untuk memberikan sumbangsih,” ucapnya.

Selain menjabat sebagai Direktur Utama SWID, Bogat juga aktif sebagai Wakil Ketua Umum KAFEGAMA. Baginya, hubungan antara alumni dan almamater tidak boleh berhenti setelah kelulusan, melainkan harus terus dijaga melalui berbagai bentuk kontribusi yang bermanfaat.

Komitmen Bogat terhadap UGM tidak lahir secara instan. Ia mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan kampus yang telah menjadi tempatnya menimba ilmu dan membangun jaringan pertemanan.

Bogat mengenang masa kuliah ketika aktivitas akademik masih berlangsung di Gedung Pusat UGM. Saat itu, masa studi mahasiswa relatif lebih panjang dibanding saat ini. Namun menurutnya, kondisi tersebut justru menciptakan hubungan yang erat antarmahasiswa.

Ia menuturkan, mahasiswa pada masa itu tidak hanya mengenal teman satu angkatan, tetapi juga memiliki kedekatan dengan mahasiswa dari berbagai angkatan lainnya. Hubungan tersebut bahkan tetap terjaga hingga puluhan tahun setelah mereka lulus.

“Dulu masa kuliah terhitung cukup panjang, sekitar lima hingga delapan tahun. Namun durasi itulah yang justru membuat ikatan persaudaraan di antara kami terjalin sangat erat. Bayangkan saja, kami bahkan bisa saling mengenal hingga lima atau enam angkatan sekaligus,” kenangnya.

Menurut Bogat, pengalaman tersebut menjadi salah satu faktor yang membentuk karakter, semangat gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama alumni maupun almamater.

Bogat menilai keberhasilan yang diraih para alumni tidak dapat dilepaskan dari peran pendidikan yang diberikan kampus. Oleh karena itu, sudah sewajarnya para alumni memberikan kontribusi kembali kepada institusi yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup mereka.

Program beasiswa yang dijalankan SWID menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi tersebut. Melalui skema yang diterapkan, setiap transaksi bisnis tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat sosial yang berkelanjutan.

Model ini sekaligus menunjukkan bagaimana kolaborasi antara dunia usaha dan perguruan tinggi dapat menciptakan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. Dukungan terhadap pendidikan tidak hanya bergantung pada donasi langsung, tetapi juga dapat dibangun melalui sistem yang terintegrasi dengan aktivitas ekonomi.

Dengan demikian, setiap pembelian unit properti maupun penggunaan fasilitas hotel oleh sivitas akademika UGM akan turut berkontribusi dalam membantu mahasiswa memperoleh akses pendidikan yang lebih baik.

Saat ditanya mengenai pentingnya menjaga solidaritas terhadap almamater, Bogat menitipkan pesan kepada seluruh alumni UGM untuk terus memelihara nilai-nilai kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas keluarga besar UGM.

Menurutnya, semangat guyub, hidup rukun, dan memberikan manfaat bagi sesama harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Teruslah menjaga semangat untuk saling guyub, hidup rukun, dan senantiasa migunani bagi sesama serta almamater tercinta,” pesannya.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *