Pendidikan Yogyakarta

Pendidikan Khas keJogjaan Dinilai Penting, Gus Hilmy: Momentum Membentuk Duta Budaya dari Kalangan Pelajar

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Anggota DPD RI asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. atau Gus Hilmy, mengapresiasi inisiatif Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meluncurkan Pendidikan Khas keJogjaan (PKJ) yang diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan, termasuk di tingkat perguruan tinggi.

Gus Hilmy menilai PKJ menjadi langkah strategis untuk memperkuat identitas, karakter, sekaligus pemahaman pelajar dan mahasiswa terhadap sejarah, budaya, tradisi, bahasa, hingga filosofi kehidupan masyarakat Yogyakarta.

Menurutnya, pendidikan khas Jogja tersebut juga dapat menjadi jembatan bagi pelajar dan mahasiswa pendatang untuk lebih mengenal serta menghargai budaya Yogyakarta.

“Jika pelajar dan mahasiswa mengenal Jogja dengan karakteristiknya yang unik, mereka akan lebih hormat dan menghargai peradaban kota ini,” ujar Gus Hilmy dalam keterangan tertulis, Minggu (23/8/2026).

Ia berharap kurikulum PKJ disusun secara komprehensif sehingga para pelajar dan mahasiswa tidak hanya mengenal Yogyakarta melalui pergaulan sehari-hari, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya secara lebih mendalam.

Gus Hilmy juga melihat peluang besar untuk menjadikan mahasiswa dan pelajar pendatang sebagai duta budaya Yogyakarta. Setelah menyelesaikan pendidikan dan kembali ke daerah asal, mereka diharapkan mampu menceritakan sekaligus mempromosikan sisi positif Yogyakarta.

“Mereka datang dari luar Jogja, itu artinya mereka menaruh hormat pada budaya kita. Maka sudah sepantasnya kita berikan pengenalan yang benar. Kita ingin mereka menjadi ‘Duta Jogja’ yang mampu bercerita dan mempromosikan citra positif Yogyakarta,” jelasnya.

Lebih jauh, Gus Hilmy berharap Pendidikan Khas keJogjaan dapat turut memperkuat karakter generasi muda. Penanaman nilai kemanusiaan dan keberadaban sejak dini dinilai dapat menjadi salah satu upaya preventif untuk menekan berbagai persoalan sosial, termasuk kenakalan remaja, klitih, dan penyalahgunaan narkoba.

“Tidak semua daerah memiliki kesempatan untuk memberikan pendidikan budaya secara khusus seperti yang dilakukan Yogyakarta. Karena itu, PKJ diharapkan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai luhur budaya Jogja di tengah keberagaman masyarakat dan pelajar yang tinggal di Yogyakarta,” ucapnya.

Sebelumnya, PKJ mulai diluncurkan di gedung Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Kamis 20 Agustus 2026. Materi tentang Pendidikan Khas Kejogjaan tersebut mulai dimasukkan dalam ruang perkuliahan di Perguruan Tinggi di DIY.

Hal ini tertuang dalam kesepakatan antara Pemda DIY dengan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Yogyakarta.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengatakan PKJ untuk perguruan tinggi diadakan berdasarkan realitas sosial di sekitar sivitas akademika. Ia mencontohkan jarak ruang kuliah dan kampung yang secara fisik dekat, tetapi menjadi jauh karena keilmuan tidak hadir di tengah masyarakat.

“Ia berangkat dari buku teks, menuju ujian, menuju ijazah, dan kadang, tidak pernah benar-benar pulang, ke kehidupan yang menghidupinya,” kata Sri Sultan pada Kamis, (20/8).

Ia menambahkan, PKJ untuk perguruan tinggi diluncurkan untuk memperpendek jarak tersebut. Menurutnya, PKJ bukan sekadar menambah mata kuliah sebagai formalitas, melainkan mengajak ilmu pengetahuan kembali pada nilai sebelum diterapkan di dunia.

PKJ mengenal tiga ruang yang harus terus dipertemukan, yaitu keraton, kampus, dan kampung. Keraton menghadirkan nilai, kampus menghadirkan daya kritis berbasis pengetahuan, sedangkan kampung menjadi ruang penerapan nilai dan ilmu dalam kehidupan. Ketiganya bukan hierarki, melainkan sebuah ekosistem.

“Ilmu modern akan semakin kuat, apabila memiliki kerendahan hati, untuk mendengarkan pengetahuan yang hidup di kampung, dalam cara masyarakat menjaga air, merawat tanah, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Sebaliknya, pengetahuan lokal akan semakin relevan, apabila diberi ruang untuk diuji dan disambungkan dengan kebutuhan zaman,” katanya.

Selain itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) Wilayah V Setyabudi Indartono mengatakan PKJ di perguruan tinggi tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa. Seluruh sivitas akademika di kampus juga perlu menerapkannya.

“PKJ di perguruan tinggi menanamkan karakter tak hanya pada mahasiswa, namun juga dosen dan tenaga kependidikan,” ungkap dia.

Peluncuran panduan PKJ dihadiri Rektor UNY, Sumaryanto, juga para pimpinan perguruan tinggi, termasuk pimpinan Universitas Tidar Magelang. Kampus UNY sendiri telah siap menerapkan PKJ kepada sekitar 18 ribu mahasiswa D3, D4, dan S1 serta 4 ribu mahasiswa program magister dan doktor.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *