INTENS PLUS – JAKARTA. Salah satu film yang kini tengah diputar di bioskop adalah The Architecture of Love (TAOL). Mengusung genre drama romantis, film ini turut mengusung isu mental health atau kesehatan metal.
Film yang disutradarai Teddy Soeriaatmadja ini merupakan adaptasi dari novel karya Ika Natassa dengan judul yang sama. Sebelumnya, Ika Natassa sukses dengan film Critical Eleven (2017) dan Twivortiar (2019). Dalam film kali ini, pelakon utama diperankan oleh Putri Marino dan Nicholas Saputra.
Putri Marino memerankan Raia, seorang penulis laris yang tak bisa lagi berkarya setelah menghadapi perselingkuhan suaminya. Raia memutuskan terbang ke New York untuk mencari inspirasi menulis buku.
Di sini ia bertemu dengan River (Nicholas Saputra), seorang arsitek dari Jakarta, dan menjalin pertemanan rahasia.
Pertemuan pertama mereka menciptakan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Mereka memutuskan untuk mengitari kota big apple itu bersama. Raia mencari inspirasi untuk karyanya, sedang River mencari inspirasi untuk sketsanya.
Kegiatan itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka sampai mengundang tanda tanya akan pilihan masing-masing. Begitu pula dengan manusia, setiap orang mempunyai masa lalu masing-masing, entah itu menyenangkan atau menyakitkan.
Satu di antara rahasia Raia, ia masih terjebak dengan perceraiannya. Sementara River, menyimpan misteri tentang rahasia dirinya. Mereka bisa saling menyembuhkan tapi bisa juga saling melukai.
Film The Architecture of Love tidak hanya menyajikan kisah cinta, juga menyinggung sebuah kehilangan dan isu kesehatan mental (mental health). Para pemeran film, memiliki pesan dan kesan tersendiri soal konflik yang diangkat dalam film ini.
Hal ini diungkap Nicholas Saputra saat jumpa pers jelang penayangan film The Architecture of Love. Ia menyebut kesehatan mental setelah kehilangan menjadi tema yang paling kuat karena kerap kali dialami banyak orang.
“Kehilangan itu bagian hidup kita, karena kita menemukan tadi. Kehilangan juga proses, harus melaluinya,” kata Nicholas. Minggu(5/4/2024).
Sementara itu, Putri Marino menyebut kehilangan memang sesuatu yang tidak mengenakkan. Ia mengungkapkan setiap orang untuk mengatasi kehilangan, trauma, butuh waktu yang berbeda.
“Ada yang mungkin seminggu sudah bisa lupa akan kehilangannya, namun ada juga yang butuh waktu bertahun-tahun untuk mengatasi kehilangan dan traumanya,” ucap Putri Marino.
Pemeran Raia dalam film The Architecture of Love mengingatkan bahwa pada akhirnya semua akan merasa baik-baik saja.
Nicholas Saputra pemeran karakter River dalam film The Architecture of Love menceritakan proses pembuatannya yang memakan waktu 35 hari di New York. Ia menyebut jet lag dan faktor cuaca yang dingin menjadi tantangan tersendiri.
“Dingin banget,” kata Nicolas.
Senada dengan lawan mainnya, Putri mengaku kerap ingusan karena dinginnya suhu udara di New York. Udara dingin membuatnya berulang kali menyeka tisu, sehingga tatanan riasnya hilang.
“Aku pribadi itu kalau dingin suka ingusan. Jadi make up suka ilang karena tisu terus,” ujar Putri.
Istri dari aktor Chicco Jerikho itu juga mengungkapkan bahwa yang paling menantang saat pengambilan adegan di mercusuar. Sebab di tengah dinginnya udara, ia tidak bisa mengenakan jaket.
“Di rumah pantau, di bagian mercusuar dinginnya beneran super dingin dan angin. Adegannya di situ Raia tidak pakai jaket sehingga dingin banget,” bebernya.
Pada kesempatan yang sama, sutradara film TAOL Teddy Soeriaatmadja menyampaikan keistimewaan lain dari film ini.
“Nicholas dan Putri adalah keistimewaan. Lebih istimewa lagi karena film ini merupakan kerja kolaborasi dari para kru film Indonesia dan kru Amerika, untuk menciptakan dunia dalam film TAOL yang romantis melalui lanskap arsitektur New York,” tandas Teddy Soeriaatmadja.(*)
Penulis : Fatimah Purwoko
Jabodetabek
Lifestyle
TAOL: Drama Romantis Usung Isu Mental Health dengan Lanskap Arsitektur New York
- by Redaksi
- 05/05/2024
- 0 Comments
- 2 minutes read
- 809 Views

Berita Terkait ...