INTENS PLUS – JAKARTA. Harga emas mengalami penguatan tipis pada senin (5/5/2025), didorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan potensi perkembangan dalam negosiasi dagang AS-China.
Harga emas spot tercatat naik 0,5% menjadi US$3.255,95 per ons, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni menguat 0,7% ke level US$3.266,67 per ons.
Kenaikan ini menyusul pelemahan 2% pada pekan sebelumnya, yang terjadi akibat meningkatnya selera risiko pasar global seiring meredanya tensi dagang antara dua ekonomi terbesar dunia.
Pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,2%, menjadi faktor utama pendorong penguatan emas, membuat logam mulia ini lebih menarik bagi pembeli luar negeri.
Menurut Tim Waterer, Chief Market Analyst KCM Trade, “Dolar AS terlihat melemah menjelang pertemuan The Fed minggu ini, sehingga emas mendapat angin segar untuk naik tipis.”
Perkiraannya harga emas akan bergerak di kisaran US$3.200 – US$3.350 per ons menjelang pengumuman resmi kebijakan bank sentral.
Fokus pasar saat ini tertuju pada pertemuan kebijakan moneter The Fed yang akan berlangsung pekan ini.
Ekspektasi suku bunga akan tetap ditahan, seiring sikap hati-hati The Fed dalam mengkaji dampak kebijakan tarif dan inflasi.
Meski demikian, laporan tenaga kerja AS yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja di atas ekspektasi membuat para investor mulai memperkirakan pemangkasan suku bunga hingga 80 basis poin mulai Juli mendatang.
Sebagai aset tanpa imbal hasil, emas biasanya menguat saat suku bunga rendah dan menjadi aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Selain pengaruh The Fed, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kemungkinan dimulainya kembali dialog dagang AS-China.
Pemerintah China menyatakan terbuka untuk pembicaraan, dengan syarat adanya “ketulusan” dan pencabutan tarif sepihak.
Presiden AS Donald Trump pun mengonfirmasi negaranya tengah menjajaki kesepakatan dagang dengan beberapa negara, termasuk China, yang disebutnya sebagai “prioritas utama”.(*)
Penulis : Elis
