INTENS PLUS – YOGYAKARTA. PT PLN Energi Primer Indonesia bersama PT PLN (Persero) terus memperkuat dukungan terhadap transisi energi nasional melalui pengembangan program Electrifying Agriculture berbasis digital di Kalurahan Gombang, Kabupaten Gunungkidul.
Program ini menjadi bagian dari pengembangan biomassa untuk mendukung skema cofiring di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sekaligus memberdayakan masyarakat desa melalui teknologi pertanian modern.
Kolaborasi Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) tersebut dilaksanakan pada Kamis (7/5/2026) dengan fokus utama pengembangan rumah bibit tanaman energi berbasis teknologi digital dan sistem pertanian berkelanjutan.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan mengatakan program Electrifying Agriculture menjadi salah satu langkah strategis dalam mendorong modernisasi sektor pertanian pemanfaatan energi listrik dan teknologi digital. Sistem pembibitan seperti ini mampu meningkatkan efisiensi sekaligus produktivitas petani di wilayah pedesaan.
“Program ini dirancang untuk mendorong modernisasi sektor pembibitan berbasis masyarakat melalui pemanfaatan energi listrik dan teknologi digital sehingga lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan,” ujar Mamit pada keterangan, sabtu (9/5/2026).
Dalam pengembangannya, rumah bibit kini dilengkapi sistem penyiraman otomatis berbasis Internet of Things (IoT). Teknologi tersebut memungkinkan proses penyiraman dilakukan secara otomatis dan terjadwal melalui perangkat telepon genggam.
Sistem digital ini membantu petani mengurangi pekerjaan manual sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan air, terutama di kawasan kering seperti wilayah Gunungkidul.
Selain itu, penerapan teknologi digital juga membuat kualitas bibit tanaman lebih terjaga karena kelembapan dan kebutuhan air tanaman dapat dikontrol secara optimal.
“Pengembangkan berbagai jenis tanaman energi seperti indigofera dan kaliandra yang nantinya dimanfaatkan sebagai bahan biomassa campuran batubara dalam program cofiring PLTU,” ungkapnya.
Skema cofiring sendiri merupakan salah satu strategi pemerintah dan PLN dalam menekan emisi karbon dengan mencampurkan biomassa ke dalam bahan bakar batu bara pada operasional pembangkit listrik tenaga uap.
Melalui pengembangan biomassa berbasis masyarakat ini, tidak hanya mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.
Dikembangkan Sejak 2023
Diketahui, program Electrifying Agriculture Rumah Bibit Gombang telah mulai dikembangkan sejak tahun 2023 melalui program TJSL PLN EPI. Pengelolaannya dilakukan oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Mulya dengan dukungan berbagai fasilitas modern.
Selain instalasi listrik dan digitalisasi penyiraman, para petani juga mendapatkan pelatihan pengelolaan rumah bibit modern agar mampu menjalankan sistem secara mandiri dan berkelanjutan.
Panewu Kapanewon Ponjong, Asih Tri Wahyuni menilai program tersebut sangat relevan dengan kondisi wilayah Gunungkidul yang didominasi lahan kering dan kawasan kritis.
Menurutnya, inovasi pertanian berbasis teknologi menjadi solusi penting untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Pendampingannya tidak hanya berhenti pada program, tetapi juga sampai masyarakat mampu mandiri mengelola rumah bibit,” ucapnya.
Ia menjelaskan manfaat program kini mulai dirasakan masyarakat. Selain sebagai tanaman energi, daun indigofera yang dibudidayakan warga juga mulai dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami untuk kebutuhan eco print.
Selain itu, Manager PLN UP3 Jogja dan Wonosari, Agung Pratomo, menyebut pengembangan biomassa berbasis masyarakat menjadi model kolaborasi yang penting dalam mendukung keberlanjutan energi nasional.
Ia menegaskan keterlibatan masyarakat dalam penyediaan biomassa memberikan kontribusi langsung terhadap upaya pengurangan emisi di sektor energi.
“Tanaman energi ini nantinya digunakan sebagai campuran bahan bakar batubara di PLTU melalui cofiring. Jadi masyarakat ikut berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan energi,” katanya.
Sementara itu, Ketua Gapoktan Tani Mulya Kalurahan Gombang, Satiman mengaku program tersebut memberikan dampak nyata terhadap pengelolaan rumah bibit kelompok tani.
Menurut Satiman, penerapan sistem listrik dan digital membuat pekerjaan petani menjadi lebih ringan dan efisien.
“Dengan adanya sistem listrik dan digital ini, pengelolaan rumah bibit menjadi jauh lebih mudah dan efisien. Kami juga lebih yakin dalam menghasilkan bibit yang berkualitas, sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan bagi anggota kelompok,” ujarnya.
PLN EPI mencatat program Electrifying Agriculture Rumah Bibit Gombang memiliki kapasitas dukungan hingga 25 ribu bibit tanaman multifungsi dan biomassa.
Bibit tersebut tidak hanya diarahkan untuk mendukung kebutuhan cofiring PLTU, tetapi juga untuk program penghijauan dan penguatan ekonomi masyarakat lokal.(*)
Penulis : Elis
