Headline Yogyakarta

Nasirun Berpulang, Maestro Lukis Indonesia yang Mengangkat Budaya Lokal ke Dunia

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Dunia seni rupa Indonesia berduka. Maestro seni lukis Indonesia, Nasirun, meninggal dunia pada Sabtu (1/8/2026) sekitar pukul 05.58 WIB di Rumah Sakit AMC Muhammadiyah Yogyakarta.

Seniman kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, yang selama puluhan tahun menetap dan berkarya di Yogyakarta, itu berpulang pada usia 61 tahun.

Kabar duka tersebut dengan cepat menyebar di kalangan seniman, budayawan, kolektor, hingga masyarakat luas yang mengenal sosok Nasirun sebagai pelukis dengan gaya khas yang berhasil membawa nilai-nilai budaya lokal Indonesia ke panggung seni nasional dan internasional.

Salah seorang tetangga Nasirun di Perum Bayeman Permai, Onggobayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Bimo Aditya, membenarkan kabar wafatnya sang maestro.

“Benar, ini saya persiapan menuju ke rumah duka,” ujar Bimo saat dihubungi pada Sabtu (1/8/2026) pagi.

Menurutnya, kabar tersebut cukup mengejutkan karena sehari sebelumnya Nasirun masih sempat beraktivitas dan berbincang dengan orang-orang di sekitarnya. Meski demikian, dalam beberapa waktu terakhir almarhum diketahui sempat mengeluhkan kondisi kesehatannya.

“Tapi memang akhir-akhir ini mengeluh dada sakit dan ada asam lambung,” katanya.

Jenazah Nasirun kemudian disemayamkan sebelum dimakamkan di Taman Makam Seniman dan Budayawan Giri Sapto, Imogiri, Bantul, pada Sabtu siang.

Kepergian Nasirun menjadi kehilangan besar bagi dunia seni rupa Indonesia. Selama lebih dari tiga dekade berkarya, ia dikenal sebagai salah satu pelukis paling berpengaruh yang berhasil memadukan tradisi lokal dengan bahasa seni rupa kontemporer.

Lahir di Cilacap pada 1965, Nasirun tumbuh menjadi seniman yang memiliki identitas visual kuat. Karya-karyanya banyak menampilkan simbol-simbol budaya Jawa, tokoh pewayangan, unsur spiritualitas, hingga refleksi sosial yang dituangkan dalam gaya ekspresif dan penuh energi.

Melalui lukisan-lukisannya, Nasirun memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada publik yang lebih luas. Tidak sedikit karya-karyanya yang dipamerkan di berbagai kota besar di Indonesia maupun mancanegara, menjadikannya salah satu seniman Indonesia yang berhasil mengangkat budaya lokal ke level global.

Kritikus dan pengamat seni kerap menilai bahwa kekuatan utama karya Nasirun terletak pada kemampuannya menggabungkan tradisi dan modernitas tanpa kehilangan akar budaya yang menjadi sumber inspirasinya.

Di balik kesuksesannya, perjalanan karier Nasirun tidak selalu berjalan mulus. Pada era 1990-an hingga awal 2000-an, namanya melambung tinggi di pasar seni Indonesia.

Popularitas tersebut membuat dirinya kerap mendapat label sebagai “seniman gorengan”, istilah yang merujuk pada seniman yang karya-karyanya mengalami lonjakan harga secara cepat di pasar seni.

Namun, Nasirun pernah mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah menjadikan pasar sebagai orientasi utama dalam berkarya.

Ia mengaku lebih fokus pada proses kreatif dan pencarian artistik dibandingkan mengejar nilai jual karya. Baginya, melukis merupakan kebutuhan batin yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya.

Dalam sebuah kesempatan wawancara, Nasirun membeberkan bahwa dirinya termasuk sosok yang tidak terlalu memikirkan dinamika pasar seni. Ia lebih tertarik menciptakan karya-karya yang mampu memberi semangat bagi dirinya sendiri sekaligus memberikan inspirasi kepada masyarakat.

Meski pernah mendapat berbagai label, Nasirun tetap konsisten berkarya dan terus mengeksplorasi medium maupun teknik baru dalam proses penciptaan seni.

Museum Pribadi dan Kepedulian pada Sejarah Seni

Selain dikenal sebagai pelukis, Nasirun juga memiliki perhatian besar terhadap pelestarian sejarah seni rupa Indonesia.

Di kawasan Kasihan, Bantul, ia membangun museum pribadi yang menyimpan ribuan karya seni. Museum tersebut bukan hanya menjadi tempat penyimpanan karya-karyanya sendiri, tetapi juga rumah bagi koleksi karya para seniman Indonesia dari berbagai generasi.

Bagi Nasirun, mengoleksi karya seni bukan semata-mata soal nilai ekonomi. Ia memiliki kekhawatiran bahwa banyak seniman penting Indonesia yang perlahan dilupakan oleh generasi muda karena kurangnya dokumentasi dan perhatian terhadap karya mereka.

Karena itulah, ia berupaya mengumpulkan berbagai karya dari sejumlah seniman untuk menjaga keberlangsungan memori sejarah seni Indonesia.

Nasirun juga membuka ruang bagi para peneliti, mahasiswa, dan generasi muda yang ingin mempelajari karya-karya seni yang tersimpan di museumnya.

Baginya, seni bukan hanya persoalan estetika, melainkan juga sumber pengetahuan dan sejarah yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

Seniman Nyentrik yang Dekat dengan Semua Kalangan

Di mata banyak orang, Nasirun bukan hanya dikenal melalui karya-karyanya, tetapi juga lewat kepribadiannya yang hangat dan sederhana.

Penampilannya yang khas dengan rambut keriting dan sarung membuat sosoknya mudah dikenali. Ia dikenal ramah kepada siapa saja, mulai dari kolektor seni, mahasiswa, jurnalis, hingga warga sekitar tempat tinggalnya.

Nasirun juga dikenal gemar berbagi ilmu kepada seniman muda. Banyak perupa muda Yogyakarta yang menganggapnya sebagai sosok senior yang terbuka dan tidak pelit berbagi pengalaman.

Semangat keguyuban yang dimilikinya menjadikan Nasirun sebagai salah satu figur penting dalam ekosistem seni Yogyakarta yang selama ini dikenal hidup dan dinamis.

Selain itu, kreativitas Nasirun tidak hanya diwujudkan melalui kanvas konvensional. Ia juga dikenal sebagai pelukis yang gemar menggunakan media tidak biasa, termasuk bodi mobil.

Sejumlah kendaraan dari berbagai merek pernah dijadikan “kanvas berjalan” untuk menuangkan ekspresi artistiknya. Karya-karya tersebut menjadi salah satu ciri khas yang membuat namanya semakin dikenal publik.

Sepanjang kariernya, Nasirun juga mencatatkan sejumlah prestasi membanggakan. Tiga karyanya tercatat memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), yang semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu seniman paling produktif dan inovatif di Indonesia.

Diantar Ratusan Pelayat ke Peristirahatan Terakhir

Kepergian Nasirun meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga, sahabat, dan komunitas seni.

Ratusan orang memadati rumah duka di Kasihan, Bantul, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sang maestro. Setelah prosesi doa dan sambutan dari keluarga, warga, serta perwakilan seniman, jenazah diberangkatkan menuju Taman Makam Seniman dan Budayawan Giri Sapto di Imogiri.

Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman. Isak tangis keluarga dan sahabat terdengar saat keranda jenazah dibawa menuju ambulans yang mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir.

Sastrawan sekaligus wartawan senior, Sindhunata mengenang Nasirun sebagai pribadi yang selalu membawa kegembiraan di tengah pergaulan.

Menurutnya, Nasirun merupakan sosok yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menghadirkan tawa dan kehangatan bagi orang-orang di sekitarnya.

“Nasirun telah memberikan kontribusi besar dalam memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia melalui karya-karyanya yang sangat khas, berakar pada tradisi lokal, namun memiliki daya tarik universal,” ucapnya.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *