INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Perhelatan ARTJOG 2026 ARS LONGA: GENERATIO resmi berakhir setelah berlangsung di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta, Minggu (30/8). Pameran seni rupa tahunan ini mencatat sekitar 75 ribu pengunjung selama penyelenggaraan.
CEO ARTJOG, Heri Pemad, mengatakan jumlah tersebut memang mengalami penurunan dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya yang mencapai sekitar 90 ribu pengunjung berbayar. Namun, menurutnya, penurunan tersebut tidak terlalu signifikan karena masih berada di bawah 10 persen jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya.
“Kalau kunjungan kami hampir tidak jauh beda. Kalau dibilang turun memang turun, tapi tidak banyak. Enggak sampai 10 persen,” kata Heri Pemad saat penutupan ARTJOG 2026 di JNM, dikutip Senin (31/8/2026).
Heri menyebut faktor ekonomi menjadi salah satu kemungkinan yang memengaruhi jumlah kunjungan tahun ini. Meski demikian, ia menilai berbagai isu yang berkembang tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap minat masyarakat untuk datang ke ARTJOG.
ARTJOG, menurut Heri, memiliki basis pengunjung yang cukup loyal. Sebagian pengunjung bahkan datang kembali setiap tahun karena ingin mendapatkan pengalaman berbeda dari karya dan seniman yang ditampilkan.
“Secara kecil-kecilan kita sudah meriset setiap hari melalui pengunjung. Mereka tahu dari mana. Mereka justru tahu dari adanya ramai-ramai. Sebagian besar mereka datang,” ujarnya.
Salah satu catatan menarik dari penyelenggaraan ARTJOG 2026 adalah komposisi asal pengunjung. Heri mengatakan pengunjung yang berasal dari Yogyakarta justru hanya sekitar 25 persen.
Sementara itu, sekitar 70 persen pengunjung disebut berasal dari luar Yogyakarta. Kondisi tersebut menunjukkan ARTJOG tidak hanya menjadi agenda seni bagi masyarakat lokal, tetapi juga menjadi salah satu magnet yang mendorong wisatawan datang ke Yogyakarta.
Heri menilai keberadaan festival seni dan budaya memiliki peran penting dalam menjaga daya tarik Yogyakarta sebagai destinasi wisata. Menurutnya, wisatawan tidak hanya datang karena destinasi konvensional seperti Malioboro, Keraton Yogyakarta, maupun Pantai Parangtritis.
Event kreatif seperti ARTJOG, festival musik, dan berbagai agenda seni lainnya justru memberikan alasan baru bagi wisatawan untuk kembali datang ke Yogyakarta.
“Yang kemudian mendatangkan lagi dan datang lagi ke Jogja itu tidak selalu Malioboro, Kraton, dan Parangtritis. Tapi justru event-event seperti ARTJOG dan festival-festival yang ada di Jogja,” kata Heri.
Ia mencontohkan sejumlah agenda kreatif lain seperti Customfest, Ngayogjazz, hingga Prambanan Jazz Festival yang turut memberikan pengalaman berbeda kepada pengunjung.
Menurutnya, kekuatan utama festival terletak pada kreativitas para penyelenggara, kreator, dan seniman yang mampu menghadirkan pengalaman baru setiap tahun.
“Jadi itu peran sebenarnya kekuatan festival untuk tetap bisa mendatangkan pengunjung dengan pengalaman yang selalu berbeda setiap tahunnya,” jelasnya.
Heri juga melihat, perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, terutama generasi muda, turut membantu ARTJOG menjangkau pengunjung dari luar daerah.
“ARTJOG selama ini memilih mengandalkan media sosial sebagai saluran utama publikasi. Penyelenggara tidak menggunakan pola promosi konvensional seperti baliho, spanduk, poster, banner, maupun umbul-umbul dalam skala besar,” bebernya.
Menurut Heri, strategi tersebut membuat informasi mengenai ARTJOG mudah ditemukan calon pengunjung melalui telepon seluler mereka.
“Artinya, secara publikasi kita hanya ada di sosial media. Tidak ada di fisik, spanduk, umbul-umbul, baliho, poster, banner. Kita tolak, kita anti itu,” ujarnya.
Informasi melalui media sosial tersebut dinilai efektif menjangkau mahasiswa, termasuk mahasiswa baru yang baru datang ke Yogyakarta.
Heri mengatakan pihaknya menemukan cukup banyak mahasiswa baru yang datang ke ARTJOG pada periode awal perkuliahan, khususnya setelah mereka kembali dari kampung halaman.
Fenomena tersebut menunjukkan ARTJOG telah menjadi bagian dari agenda yang dicari ketika seseorang datang atau kembali ke Yogyakarta.
Dengan jumlah pengunjung mencapai 75 ribu orang dan harga tiket reguler Rp80 ribu, muncul pertanyaan mengenai pendapatan yang diperoleh ARTJOG 2026.
Namun, Heri mengatakan pihaknya belum dapat menyampaikan angka pendapatan karena tidak seluruh pengunjung membayar tiket dengan harga penuh, Ia memberikan potongan harga bagi pelajar. Diskon tersebut dapat mencapai sekitar 20 persen.
“Tidak semuanya itu full 100 persen membayar di angka Rp80 ribu. Karena banyak pelajar kita diskon sampai 20 persen. Jadi secara penghasilan aku belum bisa ngecek,” katanya.
Ia menjelaskan, proses pengecekan pendapatan belum dilakukan karena penyelenggara masih harus menyelesaikan berbagai kebutuhan produksi dan administrasi setelah pameran berakhir.
Berakhirnya ARTJOG 2026 sekaligus menjadi awal persiapan menuju penyelenggaraan ARTJOG tahun depan yang memiliki arti khusus. Heri mengatakan ARTJOG akan memasuki usia 20 tahun.
Konsep ARTJOG ke depan akan berkaitan dengan tema besar Ars Longa, yang diteruskan melalui trilogi tema. Salah satu tema yang disiapkan adalah Ars Longa: Legatum Mundus.
Kata legatum dimaknai sebagai warisan atau legacy. Tema tersebut akan menjadi bagian penting dalam perayaan perjalanan ARTJOG selama dua dekade.
Heri mengatakan, ARTJOG 2027 akan memberikan penghormatan khusus kepada para seniman dan pelaku seni yang telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan seni rupa, khususnya dalam perjalanan dua dekade terakhir.
Sejumlah seniman yang telah meninggal dunia juga akan menjadi bagian dari perhatian ARTJOG melalui ruang tribut. Nama seperti Nasirun dan Joko Pekik disebut sebagai seniman yang akan dipertimbangkan untuk mendapatkan penghormatan tersebut.
Selain itu, Ia juga berencana mengundang kembali sejumlah seniman yang sebelumnya pernah terlibat sebagai seniman utama maupun seniman komisi. Mereka antara lain Robi Dwi Antono, Anusapati, Agus Waki, Dani T. Rubi, Mela Jasma, dan Handi Wirman.
Menurut Heri, penyelenggaraan tahun depan akan menjadi momentum untuk mempertemukan kembali para seniman yang pernah menjadi bagian dari perjalanan ARTJOG.
“Jadi bisa dikatakan tahun depan ARTJOG adalah banyak seniman-seniman besar yang akan hadir,” ujarnya.
Sementara itu, seniman Entang Wiharso dipastikan menjadi seniman komisi pada ARTJOG 2027. Seniman yang tinggal di Yogyakarta namun banyak berkarya di Amerika Serikat tersebut akan kembali ke Yogyakarta untuk menghadirkan gagasan baru dalam perhelatan ARTJOG.
Heri berharap keterlibatan Entang Wiharso dapat memberikan perspektif baru dalam perayaan 20 tahun ARTJOG.
“Komision artisnya Entang Wiharso. Seniman yang tinggal di Jogja sebenarnya, tapi dia banyak berkarya di Amerika,” katanya.
Mengenai perkembangan teknologi dan penggunaan kecerdasan buatan atau AI dalam seni, Heri menegaskan ARTJOG tidak memberikan batasan khusus kepada seniman. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada seniman mengenai medium dan teknologi yang digunakan dalam karya mereka.
Jika seniman menggunakan teknologi digital maupun AI sebagai bagian dari proses penciptaan, karya tersebut tetap dapat dipertimbangkan untuk ditampilkan selama memenuhi standar kuratorial ARTJOG, teknologi AI dapat menjadi alat maupun pemantik gagasan bagi seniman.
“Seniman sangat terbantu juga oleh AI, maka bukan hal yang tabu kita memakai karya seni yang kemudian melibatkan AI,” ujarnya.
ARTJOG sendiri telah menampilkan karya yang menggunakan teknologi AI pada penyelenggaraan sebelumnya.
Di tengah semakin banyaknya agenda seni dan pameran yang muncul di Yogyakarta, Heri Pemad justru menyambut positif kehadiran event-event baru yang memiliki skala dan kualitas besar.
Ia mengatakan, tidak masalah apabila muncul pameran yang memiliki konsep atau skala yang mirip dengan ARTJOG. Menurutnya, semakin banyak pameran berkualitas, semakin besar pula manfaatnya bagi ekosistem seni Yogyakarta.
“Saya justru sangat mendukung dan sangat berharap. Bahkan saya sudah mengatakan dari dulu, tolong bikin pameran yang sebaik-baiknya. Mau konsepnya kayak ARTJOG, kayak biennale, kayak festival, terserah. Tapi intinya harus bikin di Jogja,” tegasnya.
Heri menilai, Yogyakarta memiliki jumlah seniman yang sangat besar. Namun, persoalan utama yang masih dihadapi adalah keterbatasan ruang untuk mempresentasikan karya mereka. Karena itu, ia berharap semakin banyak pihak berani membuat pameran seni berskala besar di Yogyakarta.
Menurut Heri, kehadiran event lain tidak harus dilihat sebagai kompetitor. Sebaliknya, kompetisi yang sehat justru dapat memperkuat ekosistem seni sekaligus membuka lebih banyak kesempatan bagi seniman untuk berkarya dan mempresentasikan hasil karyanya.
“Kita butuh rival. ARTJOG itu butuh rival,” katanya.
Heri menilai kebutuhan terhadap ruang seni representatif di Yogyakarta sudah berada pada tahap mendesak. Ia menyebut banyak seniman membutuhkan tempat yang memadai untuk mempresentasikan karya sekaligus mempertanggungjawabkan proses kreatif mereka kepada publik.
“Kita itu punya aset seniman luar biasa banyak. Kita itu kekurangan yang namanya ruang untuk presentasi,” ujarnya.
Menurutnya, ruang pamer yang tersedia saat ini belum mampu sepenuhnya mengakomodasi perkembangan karya seni rupa kontemporer yang semakin beragam dan kompleks. Ia bahkan menilai persoalan ruang bukan hanya terjadi di Yogyakarta, tetapi juga menjadi persoalan yang lebih luas di Indonesia.
Heri menyebut terdapat lebih dari 5.000 seniman yang sangat aktif di Yogyakarta. Jumlah tersebut membutuhkan ruang yang memadai untuk pameran, presentasi, sekaligus pemasaran karya.
“Di Jogja saja lebih dari 5.000 seniman, itu yang sangat aktif. Mereka butuh ruang untuk presentasi dan juga ruang buat memasarkan,” katanya.
Bagi Heri, keterbatasan ruang tersebut menjadi tantangan serius bagi perkembangan ekosistem seni rupa. Ia berharap pemerintah maupun pihak swasta dapat melihat kebutuhan tersebut sebagai bagian dari investasi kebudayaan jangka panjang.
“Dengan semakin banyaknya festival dan pameran seni berkualitas, Yogyakarta tidak hanya akan semakin kuat sebagai kota wisata, tetapi juga sebagai salah satu pusat perkembangan seni rupa Indonesia,” Tutup Heri.(*)
Penulis : Elis
