Politik Yogyakarta

Gantikan Koeswanto, Cintya Amanda Resmi Jadi Anggota DPRD DIY Termuda di Usia 24 Tahun

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Cintya Amanda Labetta Arie Seno, S.H., M.H. resmi menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DPRD DIY) melalui mekanisme Pengganti Antar Waktu (PAW) sisa masa jabatan 2024-2029.

Cintya Amanda dilantik dalam Rapat Paripurna Pengucapan Sumpah/Janji Anggota DPRD DIY PAW yang berlangsung di Gedung Rapat Paripurna DPRD DIY. Ia menggantikan H. Koeswanto, S.I.P., anggota DPRD DIY dari Fraksi PDI Perjuangan Daerah Pemilihan (Dapil) DIY 5 Sleman yang meninggal dunia pada 19 Maret 2026.

Dengan usia 24 tahun, Cintya Amanda kini menjadi anggota DPRD DIY termuda. Ia melanjutkan sisa masa jabatan Koeswanto hingga 2029 sebagai wakil rakyat dari Dapil DIY 5 Sleman. Pengangkatan sebagai anggota DPRD DIY ditetapkan melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 100.2.1.4-1989 Tahun 2026 tentang Peresmian Pengangkatan Pengganti Antar Waktu.

Sementara itu, pemberhentian Koeswanto ditetapkan melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 100.2.1.4-1988 Tahun 2026.

Usai mengucapkan sumpah dan janji jabatan, Cintya Amanda menyampaikan rasa syukur atas amanah yang kini diembannya sebagai anggota DPRD DIY. Ia menilai jabatan tersebut merupakan amanah Tuhan sekaligus kepercayaan masyarakat Yogyakarta yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

“Tentunya saya senang sekali karena saya percaya bahwa amanah yang saya emban saat ini tidak lain karena kuasa dan anugerah Tuhan Yang Maha Esa dan juga atas kepercayaan masyarakat Jogja yang telah dititipkan kepada saya,” ujar Cintya. Senin (21/9/2026).

Cintya mengatakan, pelantikan tersebut menjadi awal pengabdiannya untuk masyarakat. Ia berkomitmen memperjuangkan aspirasi warga yang telah memberikan kepercayaan kepadanya.

“Saya berharap ke depannya saya bisa memperjuangkan aspirasi masyarakat seperti yang saya sumpah tadi,” katanya.

Sebagai anggota DPRD DIY termuda, Cintya juga ingin membawa perspektif generasi muda dan perempuan dalam menjalankan tugas kedewanan.

Ia menyebut dirinya memiliki tanggung jawab untuk membersamai anak muda, perempuan, dan masyarakat DIY secara lebih luas.

“Saya juga berharap bisa membersamai anak muda, perempuan, dan seluruh masyarakat DIY untuk mewujudkan aspirasi serta memajukan DIY seperti yang kita harapkan,” ujarnya.

Cintya mengungkapkan, sejumlah persoalan anak muda menjadi aspirasi yang banyak ia temui ketika turun ke masyarakat selama masa kampanye. Ia menyebut anak muda masih menghadapi persoalan terkait keterwakilan suara, pekerjaan, hingga kebutuhan keterampilan. Sebagian anak muda Ia merasa, keterlibatan mereka dalam pembangunan belum cukup kuat.

“Banyak sekali isu yang saya temui karena ketika kampanye saya sering bersama ibu-ibu MKM, KWT, dan juga anak-anak muda. Banyak yang meresahkan bagaimana posisi saat ini anak muda tidak terlalu didengar suaranya, hanya sebagai tokenisme,” tuturnya.

Selain keterwakilan, Cintya juga menyoroti persoalan lapangan pekerjaan yang dihadapi generasi muda. Menurutnya, kebutuhan dunia kerja saat ini tidak hanya mengandalkan kemampuan yang diperoleh melalui pendidikan formal. Anak muda juga membutuhkan berbagai keterampilan yang sesuai dengan perkembangan dunia kerja.

“Mereka juga banyak meminta pelatihan. Saat ini banyak sekali skill yang dibutuhkan di luar dari yang formal tadi,” katanya.

Karena itu, Cintya ingin ikut mendorong adanya ruang pelatihan dan pengembangan keterampilan bagi generasi muda di DIY. Dan juga membawa gagasan untuk membangun ruang atau hub bagi anak muda di Yogyakarta.

Ruang tersebut nantinya diharapkan menjadi tempat anak muda berkumpul, berdiskusi, bertukar gagasan, dan mengembangkan kreativitas. Cintya melihat Yogyakarta memiliki modal kuat sebagai kota pelajar sekaligus kota kreativitas.

“Saya ingin membuat suatu hub agar anak-anak muda bisa berkumpul. Yang saya lihat di Jogja ini kota pelajar, kota kreativitas, jadi kita harusnya bisa berkumpul dan kemudian berdiskusi untuk mengembangkan kreativitas tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, budaya dan kreativitas menjadi salah satu daya tarik utama Yogyakarta. Karena itu, potensi tersebut perlu terus dikembangkan dengan melibatkan generasi muda.

Ia berharap ruang tersebut dapat menjadi wadah bagi anak muda untuk mengembangkan ide dan kemampuan mereka. Sebagai wakil rakyat dari Dapil DIY 5 Sleman, Cintya mengatakan dirinya sudah mengenal sejumlah konstituen sejak masa kampanye. Ia menilai turun langsung ke masyarakat menjadi cara penting untuk memahami persoalan warga.

“Tentunya dari kampanye saya sudah turun lapangan dan saya sudah berkenalan dengan para konstituen saya,” katanya.

Cintya mengatakan dirinya tidak ingin hanya bekerja dari balik meja. Ia berkomitmen untuk terus turun ke lapangan dan mendengarkan aspirasi masyarakat.

“Kalau saya tidak turun ke lapangan, saya tidak akan mengenal konstituen saya. Saya tidak akan tinggal diam, tapi saya akan terus turun dan bersama masyarakat,” tegasnya.

Ia juga berencana menyambangi kembali masyarakat yang sebelumnya telah menyampaikan aspirasi kepada Koeswanto. Hal tersebut menjadi bagian dari tanggung jawabnya sebagai penerus kursi DPRD DIY yang sebelumnya ditempati Koeswanto.

Cintya menyadari bahwa dirinya tidak hanya membawa agenda pribadi setelah dilantik menjadi anggota DPRD DIY.

Sebagai anggota PAW, ia juga memiliki tugas untuk melanjutkan sisa masa jabatan sekaligus memperhatikan aspirasi masyarakat yang sebelumnya menjadi bagian dari kerja Koeswanto.

“Sekarang Pak H. Koeswanto di Komisi C dan saya melanjutkan. Lebih kepada masyarakat-masyarakat yang kemarin menitipkan aspirasinya, tentunya nanti akan saya sambangi karena saya juga sebagai pengganti beliau,” ungkap Cintya.

Ketua DPRD DIY, Nuryadi, yang memimpin rapat paripurna menyampaikan penghormatan atas pengabdian almarhum H. Koeswanto.

Menurut Nuryadi, mekanisme PAW merupakan bagian dari sistem konstitusional untuk menjaga keberlanjutan fungsi DPRD dalam menjalankan tugas sebagai lembaga perwakilan rakyat.

“Pergantian Antar Waktu adalah mekanisme konstitusional yang menjamin kesinambungan fungsi kelembagaan DPRD tetap berjalan, agar hak-hak masyarakat yang diwakili tidak berhenti hanya karena adanya perubahan personel,” kata Nuryadi.

Nuryadi juga menyampaikan selamat kepada Cintya Amanda yang kini resmi bergabung sebagai anggota DPRD DIY.

Ia berharap Cintya dapat segera beradaptasi dengan lingkungan kerja DPRD DIY dan membangun sinergi dengan pimpinan serta anggota DPRD lainnya.

Nuryadi juga mengingatkan, Cintya untuk menjadikan falsafah Jawa sepi ing pamrih, rame ing gawe sebagai salah satu landasan dalam menjalankan amanah sebagai wakil rakyat.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Bawono X, yang hadir dalam rapat paripurna tersebut juga menyampaikan pesan kepada para wakil rakyat.

Sri Sultan mengatakan masyarakat menaruh harapan besar kepada para wakilnya agar mandat dan kepercayaan yang diberikan dapat diwujudkan melalui kerja nyata.

“Di tengah dinamika kehidupan publik yang bergerak semakin cepat, masyarakat menaruh harapan yang besar kepada para wakilnya agar setiap mandat dan kepercayaan yang diberikan dapat dijawab dengan kerja nyata dan hasil yang dirasakan langsung,” ujar Sri Sultan.

Sri Sultan juga mengingatkan pentingnya menjadikan semangat Hamemayu Hayuning Bawana sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pemerintahan di DIY.

Menurutnya, kewenangan yang dimiliki pemerintah maupun wakil rakyat pada akhirnya harus memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Setiap kewenangan pada hakikatnya bermuara pada kemanfaatan bagi masyarakat, serta keberhasilan pemerintah tidak hanya diukur dari capaian program, tetapi dari semakin meningkatnya kualitas kehidupan warga yang lebih baik, bermartabat, dan berkeadilan,” tegas Sri Sultan.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *