Headline Yogyakarta

Usai Diserbu 85 Ribu Pengunjung, Prambanan Jazz Festival Siap Perluas Area Konser pada 2027

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Kesuksesan penyelenggaraan Prambanan Jazz Festival 2026 menjadi tonggak baru bagi festival musik yang digelar di kawasan Candi Prambanan. Selama tiga hari pelaksanaan, 3-5 Juli 2026, festival ini berhasil menarik total 85 ribu pengunjung, jumlah terbanyak sepanjang 12 tahun penyelenggaraannya.

Lonjakan antusiasme tersebut mendorong penyelenggara untuk mulai menyiapkan rencana besar pada edisi berikutnya. Salah satunya dengan memperluas area konser agar mampu menampung lebih banyak penonton sekaligus meningkatkan kenyamanan selama festival berlangsung.

CEO Prambanan Jazz Festival, Anas Syahrul Alimi, mengatakan tingginya jumlah pengunjung tahun ini menjadi bukti bahwa festival musik tersebut telah berkembang menjadi salah satu destinasi wisata musik terbesar di Indonesia.

“Selama kurang lebih tiga hari ini, total crowd yang hadir, termasuk penonton, UMKM, kru dan lainnya mencapai sekitar 85 ribu orang,” ujar Anas, dikutip Senin (6/7/2026).

Pada hari kedua, saat penampilan penyanyi Indonesia yang kini berkarier di Amerika Serikat, NIKI, jumlah penonton bahkan mencapai sekitar 35 ribu orang, menjadikannya puncak keramaian selama festival berlangsung.

Meski mencatat rekor baru, Anas mengakui tingginya jumlah penonton menghadirkan sejumlah tantangan yang menjadi bahan evaluasi penyelenggara.

“Kami melihat masih ada beberapa titik yang menjadi bottleneck atau penumpukan pengunjung. Itu menjadi evaluasi internal agar pelaksanaan tahun depan bisa jauh lebih maksimal,” katanya.

Melihat tingginya animo masyarakat, Anas telah berdiskusi dengan pengelola kawasan Candi Prambanan mengenai kemungkinan memperluas area festival pada penyelenggaraan tahun depan.

Menurut Anas, perluasan area menjadi solusi agar distribusi penonton lebih merata sehingga pengalaman menikmati konser semakin nyaman.

“Tahun depan kemungkinan areanya akan kami besarkan lagi. Kami sudah berdiskusi dengan pengelola, bahkan memungkinkan membuka area yang lebih luas sehingga festival menjadi lebih ideal,” ujarnya.

Konsep festival yang mengusung suasana piknik di ruang terbuka dinilai, membutuhkan ruang lebih lega agar penonton dapat menikmati pertunjukan tanpa berdesakan.

Panitia juga mengaku langsung melakukan berbagai perbaikan selama festival berlangsung. Salah satu yang menjadi perhatian adalah antrean panjang toilet pada hari pertama.

Closing Statement bersama Founder dan Festival Director Prambanan Jazz Festival | Foto : Elis

Sebagai respons cepat, panitia menambah sekitar 100 unit toilet pada hari berikutnya sehingga kepadatan pengunjung dapat dikurangi. Selain itu, panitia juga mengubah pola arus keluar-masuk penonton agar tidak terjadi penumpukan di beberapa titik.

“Bagi kami yang terpenting adalah cepat merespons keluhan penonton. Semua masukan menjadi bahan evaluasi agar festival semakin baik,” kata Anas.

Anas juga menyoroti masih rendahnya kepatuhan sebagian pengunjung, terhadap aturan membawa kursi lipat. Meski telah diberikan informasi bahwa kursi hanya diperbolehkan di area tertentu, masih banyak penonton yang membawanya ke zona festival sehingga mengganggu kenyamanan pengunjung lain.

“Kami perlu terus mengedukasi penonton mengenai aturan yang sudah dibuat demi kenyamanan bersama,” ujarnya.

Di balik membludaknya pengunjung, Prambanan Jazz Festival 2026 juga memberikan dampak ekonomi yang besar bagi Yogyakarta.

Menurut Anas, hampir seluruh hotel mengalami okupansi penuh selama festival berlangsung. Tiket pesawat maupun kereta menuju Yogyakarta juga ludes, sementara restoran serta pusat kuliner dipadati wisatawan.

“Efek ekonominya sangat luar biasa. Hotel penuh, penerbangan habis, kereta habis, restoran dan rumah makan ramai. Dampak bergandanya sangat besar,” katanya.

Data penyelenggara menunjukkan lebih dari 70 persen penonton berasal dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta, memperlihatkan bahwa festival ini telah menjadi magnet wisata nasional.

Mengusung tema “Celebrate The Joy”, Prambanan Jazz Festival 2026 menghadirkan deretan musisi nasional dan internasional seperti NIKI, Michael Learns To Rock, Henry Moodie, The Rose, Xdinary Heroes, Joey Alexander, hingga berbagai penampil lintas genre dalam program Playing Jazz.

Festival juga menghadirkan kolaborasi seni melalui pertunjukan Wayang Bocor karya Eko Nugroho bersama dalang Ki Catur Kuncoro, komposer Ari Wulu, koreografer Eko Supriyanto, dan maestro tari Didik Nini Thowok.

Menurut Anas, perpaduan musik, seni rupa, budaya, hingga instalasi artistik menjadi identitas khas Prambanan Jazz yang terus dikembangkan setiap tahun.

“Kami ingin festival ini menjadi rumah bagi banyak genre musik sekaligus ruang edukasi budaya. Perlahan kami mengenalkan jazz kepada generasi muda melalui berbagai pendekatan,” ujarnya.

Setelah mencetak rekor jumlah penonton, penyelenggara kini membidik target yang lebih tinggi untuk edisi 2027. Selain memperluas area festival, Prambanan Jazz juga ingin menghadirkan lebih banyak musisi internasional kelas dunia atau tier A agar semakin memperkuat posisi festival di kancah global.

Anas menilai kehadiran artis internasional bukan hanya menghibur penonton, tetapi juga menjadi sarana promosi pariwisata Indonesia, khususnya kawasan warisan dunia Candi Prambanan.

“Festival ini membantu mempromosikan Candi Prambanan ke dunia. Banyak artis internasional mengunggah pengalaman mereka di media sosial sehingga jangkauannya sangat luas. Kami ingin terus menghadirkan yang terbaik bagi penonton,” pungkasnya.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *