INTENS PLUS – JAKARTA. Komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan terus diperkuat oleh sektor keuangan nasional. Salah satu langkah nyata dilakukan PT Bank Maybank Indonesia Tbk melalui penyelenggaraan Sustainable Finance Forum 2026 yang digelar pada 30 Juni 2026.
Forum ini menjadi wadah strategis yang mempertemukan regulator, pelaku industri, investor, akademisi, hingga dunia usaha untuk mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon di Indonesia.
Mengusung tema “Navigating Transition for Industry: From Policy Signals to Market Action”, forum tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus memanfaatkan peluang ekonomi hijau yang semakin berkembang.
“Kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan saat ini, sedangkan sustainability report berguna untuk keberlanjutan masa depan anak dan cucu kita,” ujar Maria Trifanny Fransiska, Head of Sustainability Maybank Indonesia dikutip, Jumat (24/7/2026).
Baginya, keberlanjutan bukan sekadar program sesaat, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang yang menjadi prinsip identitas perusahaan melalui misi “Humanising Financial Services”.
Menurutnya, Sustainability Report yang diterbitkan perusahaan bukan hanya menjadi laporan kinerja tahunan, tetapi juga instrumen untuk mengukur dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dihasilkan perusahaan.
“Pendekatan nasabah diwujudkan melalui berbagai kebijakan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) ke dalam proses bisnis perusahaan,” jelasnya.
Berdasarkan Sustainability Report 2025, Maybank Indonesia mencatat pencapaian signifikan dalam sektor pembiayaan hijau.
Perusahaan berhasil menyalurkan pembiayaan hijau sekitar Rp8,2 triliun, jauh melampaui target awal sebesar Rp3 triliun.
Pencapaian ini menunjukkan meningkatnya kebutuhan pasar terhadap pendanaan yang mendukung proyek-proyek ramah lingkungan dan rendah karbon.
Selain memperkenalkan Sustainable Shariah Restricted Investment Account (SRIA), sebuah instrumen investasi syariah yang memungkinkan nasabah berpartisipasi dalam pendanaan proyek-proyek berkelanjutan.
“Di tingkat regional, kami menargetkan mobilisasi pembiayaan berkelanjutan sebesar 73 miliar dolar AS hingga tahun 2030, melanjutkan komitmen yang telah dijalankan selama beberapa tahun terakhir,” ungkap maria.
Salah satu implementasi nyata pembiayaan hijau Maybank Indonesia adalah dukungan terhadap pembangunan pabrik kendaraan listrik VinFast di Subang, Jawa Barat.
Perusahaan menyediakan fasilitas pembiayaan berupa term loan sebesar 20 juta dolar AS untuk mendukung pembangunan fasilitas produksi kendaraan listrik tersebut.
Direktur Global Banking Maybank Indonesia, Ricky Antariksa, menyatakan bahwa pembiayaan tersebut sejalan dengan target Indonesia dalam mencapai Net Zero Emission.
“Pembiayaan terhadap proyek VinFast ini adalah bagian dari komitmen kami untuk terus mendukung sektor transportasi bersih dan rendah emisi karbon yang memiliki dampak positif jangka panjang bagi Indonesia,” ujarnya.
Kehadiran industri kendaraan listrik dinilai dapat mempercepat transformasi sektor transportasi nasional menuju sistem yang lebih ramah lingkungan.
Melalui diskusi tingkat eksekutif, pembahasan prospek investasi, hingga sesi berbagi praktik terbaik, Sustainable Finance Forum 2026 bertujuan menjembatani kesenjangan antara kebijakan iklim dan implementasinya di dunia usaha.
“Perubahan iklim kini tidak lagi dipandang hanya sebagai persoalan lingkungan. Dampaknya telah merambah sektor ekonomi, investasi, ketahanan energi, hingga daya saing suatu negara. Karena itu, konsep sustainable finance atau keuangan berkelanjutan menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung transformasi menuju ekonomi hijau,” tambahnya.
Indonesia sendiri telah menargetkan pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat. Untuk mencapai target tersebut dibutuhkan investasi dalam jumlah besar pada sektor energi terbarukan, transportasi rendah emisi, bangunan hijau, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Dalam forum tersebut, para pemangku kepentingan menyoroti pentingnya pembiayaan yang tidak hanya mempertimbangkan keuntungan ekonomi, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan yang dihasilkan.
Komitmen keberlanjutan Maybank Indonesia tidak hanya diwujudkan melalui pembiayaan proyek hijau, tetapi juga melalui program pemberdayaan masyarakat.
Salah satu kisah inspiratif datang dari Darwin Sidi Alsaud, seorang penyandang disabilitas akibat polio yang kini sukses menjalankan usaha bengkel reparasi mobil di Pedurenan, Bekasi.
Darwin pernah menghadapi berbagai keterbatasan sejak kecil. Setelah menempuh pendidikan keterampilan montir mobil di Rehabilitations Centrum (RC) dr. Soeharso Solo, ia merantau ke Jakarta untuk mencari peluang hidup yang lebih baik.
Perjuangannya tidak mudah. Selama beberapa bulan pertama di Jakarta, Darwin belum mendapatkan pekerjaan tetap dan harus bertahan dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas. Namun kegigihannya membuahkan hasil. Berbekal keterampilan dan modal dari penjualan mobil pribadinya, Darwin berhasil mendirikan bengkel yang kini mempekerjakan beberapa karyawan.
“Perkembangan usah saya semakin pesat, setelah mengikuti Program R.I.S.E (Reach Independence & Sustainable Entrepreneurship) yang diselenggarakan Maybank Foundation pada 2017,” tuturnya.
Program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) tersebut dirancang untuk membantu penyandang disabilitas dan masyarakat prasejahtera memperoleh keterampilan kewirausahaan, literasi keuangan, serta pendampingan bisnis yang berkelanjutan.
Melalui pelatihan dan mentoring selama beberapa bulan, peserta didorong untuk membangun usaha yang mandiri dan mampu berkembang dalam jangka panjang.
Selain itu, Associate Professor Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Poppy Ismalina, menilai pembiayaan hijau memiliki peran strategis dalam mendorong pembangunan berkelanjutan.
Menurutnya, instrumen seperti green bond, green sukuk, dan berbagai bentuk pendanaan berkelanjutan lainnya menjadi mekanisme penting untuk mengarahkan investasi ke sektor-sektor yang mendukung pengurangan emisi karbon.
“Perbankan yang melaksanakan obligasi hijau dan pembiayaan proyek berkelanjutan berwawasan lingkungan wajib kita dukung,” ucapnya.
Poppy juga menilai pemerintah perlu memberikan berbagai insentif bagi institusi yang aktif mendukung pembiayaan hijau, baik melalui kebijakan fiskal, kemudahan perizinan, maupun kepastian hukum.
Anggota DPR RI Komisi XII, Totok Daryanto, menegaskan bahwa green financing merupakan instrumen penting dalam mendukung pembangunan rendah karbon sekaligus menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Menurutnya, pembiayaan hijau tidak boleh hanya dinikmati oleh perusahaan besar, tetapi juga harus menjangkau pemerintah daerah, UMKM, industri nasional, hingga masyarakat yang menjalankan usaha ramah lingkungan.
“Green Financing bukan sekadar mencari dana, tetapi merupakan investasi jangka panjang bagi ketahanan ekonomi sekaligus keberlanjutan lingkungan,” kata Totok.
Ia menjelaskan bahwa meskipun Indonesia belum memiliki satu undang-undang khusus yang mengatur pembiayaan hijau secara komprehensif.
“Indonesia belum memiliki satu undang-undang khusus yang mengatur pembiayaan hijau secara komprehensif, berbagai regulasi pendukung telah tersedia melalui UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), regulasi OJK, kebijakan pasar modal, hingga aturan terkait Nilai Ekonomi Karbon,” jelasnya.(*)
Penulis : Elis
