Headline Jabodetabek

Putri Mahkota Victoria dari Swedia Berkunjung ke Indonesia, Bahas Pembangunan Inklusif Bersama UNDP

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Duta Kehormatan (Goodwill Ambassador) United Nations Development Programme (UNDP), Yang Mulia Putri Mahkota Victoria dari Swedia, melakukan kunjungan resmi selama empat hari, mulai 4 – 8 September 2026 di Indonesia. Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung berbagai program pembangunan berkelanjutan dan inklusif yang dijalankan Pemerintah Indonesia bersama UNDP dan para mitra.

Putri Mahkota Victoria tiba di Jakarta didampingi Diana Janse, Sekretaris Negara untuk Kerja Sama Pembangunan Internasional dan Perdagangan Luar Negeri Swedia. Kedatangan Putri Mahkota disambut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Resident Representative UNDP Indonesia Sara Ferrer Olivella, serta Duta Besar Swedia untuk Indonesia Daniel Blockert.

Kunjungan tersebut memperlihatkan berbagai sisi pembangunan Indonesia, mulai dari pengembangan sains genomik dan digitalisasi layanan kesehatan, penguatan ekosistem biru, konservasi hutan adat, hingga pemberdayaan masyarakat untuk membangun ketangguhan menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menyampaikan apresiasi atas kedatangan Putri Mahkota Victoria dalam kapasitasnya sebagai Duta Kehormatan UNDP.

Menurut Rachmat, kemitraan Indonesia dan UNDP telah berlangsung selama puluhan tahun dan berperan dalam mendukung berbagai prioritas pembangunan nasional.

“Kami sangat senang menyambut Yang Mulia Putri Mahkota Victoria dari Swedia ke Indonesia sebagai Duta Kehormatan UNDP. Kemitraan antara Indonesia dan UNDP telah mendukung prioritas pembangunan Indonesia selama puluhan tahun, dengan mempertemukan pengetahuan, inovasi, dan sumber daya untuk menjawab tantangan pembangunan serta menciptakan peluang bagi masyarakat dan komunitas,” ujar Rachmat.

Ia menambahkan, Indonesia ke depan akan terus memperkuat kerja sama dengan UNDP untuk menerjemahkan prioritas nasional menjadi solusi yang dapat diperluas skalanya, sekaligus memobilisasi sumber daya, kemitraan, dan pengetahuan.

Salah satu agenda penting Putri Mahkota Victoria di Jakarta adalah mengunjungi Pusat Biomedis dan Genomika Kesehatan di Gedung Eijkman, Jumat (4/9).

Kunjungan tersebut didampingi Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Putri Mahkota diperkenalkan dengan Biomedical and Genome Science Initiative (BGSi), sebuah inisiatif nasional yang memanfaatkan ilmu genomika untuk memperkuat layanan kedokteran presisi sekaligus kesiapsiagaan Indonesia menghadapi wabah penyakit.

BGSi kini telah membangun 10 pusat genomik khusus dan 29 laboratorium surveilans nasional. Program tersebut menargetkan pengurutan sebanyak 400.000 genom hingga 2030.

Pemanfaatan informasi genom diharapkan mampu membantu tenaga kesehatan melakukan deteksi penyakit secara lebih dini, menentukan pengobatan yang lebih sesuai dengan kondisi pasien, serta merespons ancaman penyakit dan wabah secara lebih cepat.

UNDP turut memberikan dukungan melalui bantuan teknis, antara lain dalam pengembangan kebijakan dan regulasi, penguatan infrastruktur dan kapasitas tenaga kesehatan, serta pemanfaatan informasi genom untuk mendukung sistem kesehatan nasional berbasis data dan inovasi.

Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia memperkuat sistem kesehatan agar semakin adaptif terhadap tantangan kesehatan di masa depan.

Selain agenda pembangunan dan kesehatan, Putri Mahkota Victoria juga mengunjungi sejumlah ikon Jakarta, yakni Monumen Nasional (Monas), Masjid Istiqlal, dan Gereja Katedral Jakarta.

Di Masjid Istiqlal, Putri Mahkota didampingi Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar. Setelah itu, ia melanjutkan kunjungan ke Gereja Katedral yang berada tepat di seberang Masjid Istiqlal.

Kedua rumah ibadah tersebut terhubung melalui Terowongan Silaturahmi dan menjadi salah satu simbol keberagaman serta kehidupan antarumat beragama di Indonesia.

Kunjungan tersebut memperlihatkan bagaimana keberagaman agama dan tradisi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia serta bagaimana perbedaan dapat hidup berdampingan.

Resident Representative UNDP Indonesia, Sara Ferrer Olivella, mengatakan pembangunan pada akhirnya berorientasi pada manusia dan bagaimana berbagai inovasi dapat meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

“Pada akhirnya, kisah pembangunan Indonesia adalah tentang manusia. Tentang bagaimana gagasan-gagasan baru dapat meningkatkan kualitas hidup dan menghadirkan kesejahteraan, bagaimana masyarakat dapat lebih siap menghadapi masa depan, serta bagaimana keberagaman dan kekayaan alam Indonesia yang luar biasa dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Sara.

Menurutnya, kunjungan Putri Mahkota Victoria memberikan kesempatan untuk melihat lebih dekat berbagai upaya pembangunan tersebut sekaligus mengapresiasi masyarakat dan kemitraan yang berada di baliknya.

Setelah menyelesaikan agenda di Jakarta, Putri Mahkota Victoria bertolak ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Di Lombok, Putri Mahkota meninjau sejumlah program UNDP yang berkaitan dengan pemulihan pascabencana, pemberdayaan masyarakat, kesehatan digital, serta konservasi ekosistem laut.

Kunjungan tersebut juga memperlihatkan bagaimana pembangunan berkelanjutan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Putri Mahkota Victoria tiba di Lombok pada Sabtu (5/9) bersama Sara Ferrer Olivella, Diana Janse, Daniel Blockert, serta Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard.

Setibanya di Bandara Lombok, rombongan disambut dengan sajian makanan lokal, antara lain sate ikan khas Lombok Utara, olahan tempe, dan berbagai umbi-umbian lokal.

Penyajian pangan lokal tersebut sekaligus menjadi bagian dari pesan mengenai pentingnya pemanfaatan potensi lokal dan keberlanjutan dalam pembangunan.

Salah satu lokasi yang dikunjungi Putri Mahkota Victoria adalah UPTD Bale KITA di Kawasan Barat Islamic Center, NTB.

Bale KITA merupakan wadah dukungan pemerintah daerah untuk pengembangan industri kreatif dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis komunitas.

Di lokasi tersebut, Putri Mahkota Victoria meninjau berbagai produk UMKM binaan Programme for Earthquake and Tsunami Infrastructure Reconstruction Assistance (PETRA), salah satu proyek UNDP.

Produk yang ditampilkan antara lain olahan camilan tradisional mete, madu hutan, serta keripik ubi.

Produk-produk tersebut mengolah bahan pangan lokal menjadi komoditas bernilai tambah. Pengembangan UMKM tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat setelah bencana, tetapi juga memperkuat perekonomian keluarga.

Putri Mahkota Victoria juga berdialog dengan para perajin dan pelaku usaha lokal mengenai upaya memperkuat UMKM, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan keluarga, serta menjaga kekayaan budaya setempat.

Agenda lainnya dilakukan di SMK Negeri 1 Pemenang, Kabupaten Lombok Utara.

Sekolah tersebut merupakan salah satu fasilitas yang dibangun kembali dengan konstruksi tahan gempa melalui program PETRA setelah gempa bumi melanda Lombok pada 2018.

Dalam kunjungan tersebut, Putri Mahkota Victoria mendengarkan paparan kepala sekolah mengenai fasilitas pendidikan sekaligus berdialog dengan guru dan siswa mengenai kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Melalui program PETRA, UNDP bersama mitra juga telah membangun kembali 14 fasilitas publik di Lombok. Fasilitas tersebut terdiri atas empat sekolah vokasi, satu puskesmas, dan sembilan puskesmas pembantu yang menjangkau lebih dari 150.000 warga.

Selain itu, terdapat delapan proyek infrastruktur komunitas yang turut dibangun.

Program PETRA juga mencakup pembangunan kembali sistem air dan irigasi, termasuk instalasi air bersih untuk sekitar 600 rumah tangga di Lombok Utara serta saluran irigasi yang mendukung kehidupan sekitar 500 keluarga di Lombok Timur.

Pembangunan kembali fasilitas pendidikan dan infrastruktur tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan membangun kembali gedung yang rusak. Lebih dari itu, pemulihan juga diarahkan untuk memastikan keberlanjutan pendidikan, layanan dasar, serta memperkuat ketangguhan masyarakat menghadapi risiko bencana di masa depan.

Rangkaian kunjungan Putri Mahkota Victoria di Lombok juga menyentuh aspek konservasi lingkungan dan ekonomi biru.

Pada Minggu (6/9), Putri Mahkota Victoria menanam terumbu karang di Pulau Gili Meno, Kabupaten Lombok Utara. Kegiatan tersebut dilakukan bersama Sara Ferrer Olivella, Febrian Alphyanto Ruddyard, dan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal.

Putri Mahkota juga bertemu dengan komunitas pembudidaya rumput laut bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Prof. Eka Sunarwidhi Prasedya dari Universitas Mataram.

Gili Meno menjadi salah satu lokasi pengembangan skema asuransi terumbu karang pertama di Indonesia. UNDP mendorong penguatan payung hukum untuk skema tersebut sekaligus membentuk Marine Biodiversity Trust atau “Blue Window” untuk mendukung pembiayaan perlindungan terumbu karang di kawasan Gili.

Pada 2026, UNDP dan mitra juga meluncurkan laporan pembelajaran dan panduan praktis mengenai asuransi terumbu karang yang dapat menjadi rujukan bagi negara lain.

Indonesia sendiri memiliki sekitar 16 persen terumbu karang dunia. Ekosistem tersebut berperan penting dalam menopang sektor perikanan, pariwisata, sekaligus menjadi perlindungan alami bagi kawasan pesisir.

Di Gili Matra, pariwisata yang berbasis terumbu karang menghasilkan lebih dari Rp9,5 triliun per tahun. Namun, pada saat yang sama, pendapatan harian masyarakat pesisir berada di bawah 15 dolar AS.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memastikan manfaat ekonomi dari ekosistem laut juga dirasakan masyarakat yang bergantung langsung terhadap sumber daya pesisir.

Melalui pendekatan ekonomi biru, UNDP mendorong berbagai skema pembiayaan inovatif, termasuk blue bond dan asuransi terumbu karang, untuk mendukung perlindungan serta pemulihan ekosistem laut.

Kunjungan Putri Mahkota Victoria dari Swedia ke Jakarta dan Lombok memperlihatkan beragam tantangan pembangunan Indonesia.

Di Jakarta, perhatian diarahkan pada inovasi kesehatan melalui pengembangan ilmu genomik, keberagaman masyarakat, serta kemitraan pembangunan.

Sementara di Lombok, fokus bergeser pada pemulihan pascabencana, penguatan UMKM, pembangunan infrastruktur tangguh, serta konservasi ekosistem laut.

Dua wilayah tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak hanya berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi. Pembangunan juga menyangkut bagaimana masyarakat mendapatkan akses terhadap layanan dasar, memiliki kesempatan meningkatkan kesejahteraan, mampu menghadapi bencana dan perubahan iklim, sekaligus menjaga sumber daya alam untuk generasi mendatang.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *