Teknologi Yogyakarta

Diskominfo DIY Ungkap Mahasiswa Masih Rentan Jadi Korban Penipuan Digital

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY terus menggencarkan edukasi literasi digital kepada masyarakat. Salah satu fokus utama yang menjadi perhatian saat ini adalah masih tingginya kerentanan mahasiswa terhadap kasus penipuan digital dan penyebaran hoaks di media sosial.

Hal tersebut terungkap dalam kegiatan diseminasi konten positif dan literasi keamanan informasi bertajuk “waspada hoaks jaga privasi di era digital” yang digelar Diskominfo DIY bersama mitra, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), dengan peserta mahasiswa dari Universitas Alma Ata di Gedung Diskominfo DIY Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta.

Sekretaris II Mafindo sekaligus dosen Teknik Informatika Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Imam Suharjo, S.T., M.Eng., mengungkapkan bahwa mahasiswa ternyata masih banyak yang menjadi korban penipuan digital.

Menurut Imam, dalam sesi diskusi bersama mahasiswa ditemukan fakta bahwa sebagian peserta pernah mengalami modus penipuan online, meskipun mereka berasal dari kalangan terdidik dan aktif menggunakan teknologi digital.

“Tadi saat sharing dengan mahasiswa, ternyata ada beberapa yang pernah menjadi korban penipuan digital. Ini menunjukkan mahasiswa juga masih rentan,” katanya usai acara Diskominfo DIY, Rabu (13/5/2026)

Ia menilai masih banyak mahasiswa yang belum memahami cara menggunakan media sosial secara bijak dan aman.

“Mahasiswa perlu memahami bagaimana mengenal media sosial dengan baik dan benar, termasuk memahami risiko-risiko yang ada di dunia digital,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Imam juga menjelaskan peran Mafindo sebagai organisasi yang aktif melakukan edukasi literasi digital di Indonesia.

Melalui situs petahoax, Mafindo menyediakan database klarifikasi informasi hoaks yang dapat diakses masyarakat secara luas.

“Mafindo punya website petahoax yang bisa digunakan masyarakat untuk mengecek mana informasi yang benar dan mana yang hoaks,” jelas Imam.

Ia menyebut saat ini Mafindo memiliki lebih dari seribu relawan di tingkat nasional dan lebih dari 50 relawan aktif di Yogyakarta.

Selain isu hoaks dan penipuan digital, Mafindo kini juga mulai aktif mengedukasi masyarakat mengenai etika penggunaan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

“Sekarang AI juga sedang marak, jadi kami juga memberikan edukasi tentang bagaimana menggunakan AI secara etis dan bertanggung jawab,” katanya.

Pranata Hubungan Masyarakat (Humas) Ahli Muda Diskominfo DIY, Wiwik Lestariningrum, S.T., mengatakan masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas sumber serta kebenarannya.

“Kegiatan diseminasi konten positif ini hampir setiap tahun kami laksanakan. Tujuannya memberikan edukasi kepada masyarakat supaya lebih cerdas menggunakan media sosial dan gadget, serta tidak mudah menyebarkan informasi yang belum tentu benar,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya budaya “saring sebelum sharing” di tengah derasnya arus informasi digital yang beredar saat ini.

“Informasi harus disaring dulu sebelum dibagikan. Jadi masyarakat harus lebih selektif dan berhati-hati,” tambahnya.

Program literasi digital yang dijalankan Diskominfo DIY tidak hanya menyasar mahasiswa, tetapi juga masyarakat umum, karang taruna, hingga pelajar SMP dan SMA, baik sekolah negeri maupun swasta.

Wiwik menyebut sepanjang tahun 2026, pihaknya telah menggelar sekitar 10 kali kegiatan edukasi literasi digital dan masih akan terus berlanjut di berbagai wilayah di DIY.

Dalam pelaksanaannya, ia menggandeng banyak pihak mulai dari praktisi media sosial, media massa, komunitas literasi digital, hingga Mafindo sebagai mitra utama dalam edukasi anti-hoaks.

“Kami melibatkan Mafindo, media, dan berbagai mitra lainnya untuk memberikan pemahaman terkait diseminasi konten positif, hoaks, dan penipuan digital,” jelasnya.

Kolaborasi tersebut dinilai mampu memberikan dampak positif dalam mencegah penyebaran informasi palsu di masyarakat, terutama menjelang momentum penting seperti pemilu maupun isu viral di media sosial.

Kegiatan diseminasi konten positif tersebut juga menghadirkan Ketua Komisi A DPRD DIY dari Fraksi PDI Perjuangan, Eko Suwanto, sebagai narasumber.

Dalam kesempatan itu, Eko Suwanto memberikan motivasi kepada mahasiswa terkait pentingnya literasi digital dan dukungan DPRD DIY terhadap program edukasi masyarakat yang dijalankan Diskominfo DIY.

“Komisi A DPRD DIY selama ini menjadi mitra Diskominfo DIY dalam mendukung berbagai program pemerintahan, termasuk penguatan literasi digital dan pencegahan hoaks di masyarakat,” ungkap Wiwik.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa dapat menjadi agen literasi digital yang mampu menyebarkan informasi benar, menangkal hoaks, serta membantu menciptakan ruang digital yang sehat dan aman di Yogyakarta,” imbuh Wiwik.(*)

Penulis : Elis

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *