INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Pengakuan mantan Ketua BEM Keluarga Mahasiswa (KM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, yang mengklaim menemukan dua alat diduga pelacak pada mobil yang digunakannya menjadi sorotan publik. Kasus tersebut memicu beragam reaksi, termasuk respons dari Polda Daerah Istimewa Yogyakarta yang menyatakan siap melakukan penyelidikan apabila terdapat laporan resmi.
Peristiwa ini mencuat setelah Tiyo membagikan sejumlah unggahan melalui akun Instagram pribadinya yang berisi dugaan adanya perangkat pelacak yang ditempelkan pada kendaraan yang ia gunakan saat melakukan perjalanan dari Semarang menuju Yogyakarta.
“Teman-teman, sesudah alat berbentuk kotak yang semalam saya temukan itu diamankan, sore ini muncul lagi notifikasi di ponsel saya,” tulis Tiyo dalam unggahan media sosialnya dikutip, Selasa (17/6/2026).
Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, ia mengaku menemukan benda kedua berbentuk lingkaran pipih yang menempel pada bagian ban kanan belakang mobil.
“Ternyata masih ada alat berbentuk lingkaran pipih menempel di ban bagian kanan-belakang,” lanjutnya.
Dalam unggahan tersebut, Tiyo juga memperlihatkan sebuah benda berwarna gelap yang diletakkan di atas kantong plastik berwarna ungu.
Tiyo menjelaskan bahwa temuan kedua terjadi ketika dirinya sedang dalam perjalanan menuju Bandara Jenderal Ahmad Yani untuk bertolak ke Makassar.
“Saya menemukan ini dalam perjalanan menuju Bandara Jenderal Ahmad Yani, Semarang untuk berangkat ke Makassar,” ungkapnya.
Ia menyebut unggahan tersebut sebagai informasi awal, sebelum nantinya memberikan penjelasan lebih rinci.
“Saya menulis ini setiba di Makassar sebagai update sementara. Segera saya akan catat keterangan yang lebih lengkap,” tulisnya.
Tiyo juga menegaskan akan terus menelusuri kasus tersebut.
“Kita tidak akan berhenti di sini. Kita tidak akan berhenti hari ini. Semakin diteror, semakin gacor,” katanya.
Menurut Tiyo, kecurigaan bahwa dirinya sedang diawasi bermula ketika menghadiri sebuah kegiatan diskusi di Semarang pada Sabtu (13/6).
Ia mengaku melihat beberapa orang tak dikenal yang mengikutinya dan mengambil foto secara terang-terangan.
“Itu menurut saya jadi aba-aba bahwa saya memang sedang diintai,” ujar Tiyo.
Usai kegiatan diskusi tersebut, ia melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta untuk mengikuti aksi demonstrasi mahasiswa di kawasan Gejayan. Di tengah perjalanan, ponselnya menerima notifikasi terkait perangkat yang bergerak bersamanya.
Setelah aksi selesai, ia memeriksa kendaraan dan menemukan sebuah alat berbentuk kotak bermagnet yang ditempel pada bagian belakang bodi mobil.
Keesokan harinya, ketika kembali menuju Semarang, notifikasi serupa kembali muncul meski alat pertama sudah dilepaskan.
Pemeriksaan ulang pun dilakukan dan ia menemukan alat kedua berbentuk lingkaran pipih yang ditempel menggunakan lakban hitam di bagian ban kanan belakang kendaraan.
Tiyo mengaku sempat khawatir karena belum mengetahui apakah kedua benda tersebut saling berkaitan atau dipasang oleh pihak yang sama. Ia menduga alat pertama baru dipasang saat berada di Yogyakarta, karena kondisinya terlihat masih bersih.
Sementara alat kedua, diduga telah terpasang lebih lama dan terlacak terakhir kali diperiksa ketika dirinya masih berada di sebuah hotel di kawasan Tembalang, Semarang.
Setelah berkonsultasi dengan sejumlah pihak, Tiyo menilai pemasangan alat tersebut kemungkinan merupakan bentuk teror psikologis.
“Saya kira justru itulah letak di mana terornya terjadi. Bahwa ini sengaja dipasang untuk saya ketahui supaya jadi alarm bagi diri saya bahwa ke mana pun saya pergi ada orang-orang yang tahu, ada orang-orang yang mengamati,” ujarnya.
Menanggapi kasus yang ramai diperbincangkan publik tersebut, Kepala Bidang Humas Polda DIY, Ihsan, mengatakan pihak kepolisian siap menindaklanjuti apabila terdapat laporan resmi dari pihak yang merasa dirugikan.
“Kami mempersilakan saudara Tiyo atau pihak yang dirugikan untuk segera membuat laporan resmi ke Polda DIY. Laporan tersebut penting sebagai dasar hukum bagi kami untuk melakukan penyelidikan secara prosedural, objektif dan mendalam,” ujar Ihsan dalam keterangannya.
Ia menjelaskan, hingga saat ini belum ada laporan resmi yang masuk terkait dugaan pemasangan alat pelacak tersebut.
Meski demikian, kepolisian tetap melakukan pemantauan dan pengumpulan informasi awal guna menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.
Di sisi lain, Tiyo mengaku masih mempertimbangkan langkah hukum yang akan diambil. Ia mengatakan masih melakukan investigasi mandiri sebelum memutuskan membuat laporan polisi.
“Saya sedang pertimbangkan untuk laporkan sembari lakukan investigasi secara mandiri,” ujarnya.(*)
Penulis : Elis
