INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Upaya pelestarian budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus dilakukan melalui berbagai pendekatan yang melibatkan generasi muda. Salah satunya melalui Pagelaran Internalisasi Bale Nari, Gamel, dan Nyinden Sore yang diselenggarakan pada Kamis (18/6), oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) DIY.
Program ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus wadah regenerasi pelaku budaya yang dirancang untuk memfasilitasi generasi muda agar lebih mengenal, memahami, dan mendalami seni tari, karawitan, serta seni nyinden sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Tidak sekadar mengajarkan keterampilan berkesenian, kegiatan ini juga menanamkan kesadaran kepada peserta tentang pentingnya keterlibatan generasi muda dalam mendukung implementasi Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan secara berkelanjutan.
Sebagai puncak dari proses pembelajaran, pagelaran menampilkan berbagai hasil latihan peserta, mulai dari konser gending-gending Bale Gamel dan nyinden hingga pertunjukan tari seperti Beksan Golek Manis, Beksan Golek Pudyastuti, dan fragmen Beksan Bambangan Cakil yang sarat akan makna filosofis.
Direktur Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan, Syamsul Hadi, mengatakan program tersebut menjadi perhatian khusus. Selain itu kegiatan tersebut juga rutin dijalankan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan di berbagai daerah.
“Generasi muda yang belajar nyinden, menari, dan bermain gamelan ini menjadi perhatian kami. Karena itu ditindaklanjuti oleh BPK DIY melalui pendekatan yang menyasar generasi muda agar mereka memiliki pengetahuan sekaligus keterampilan dalam melestarikan budaya,” ujarnya. Sabtu (20/6/2026).
Ia menjelaskan, pemerintah tidak ingin program tersebut berhenti hanya pada pelaksanaan pelatihan. Para peserta yang telah lulus akan terus dipantau agar dapat menjadi agen pelestarian budaya di lingkungan masing-masing.
“Dalam istilah Jawa ada ketok tular, artinya ilmu yang didapat bisa ditularkan kembali kepada teman-teman dan lingkungan sekitar sehingga berkembang lebih luas,” katanya.
Bahkan, para alumni diharapkan mampu membentuk sanggar atau menginisiasi kegiatan kebudayaan secara mandiri di daerah tempat tinggal mereka.
Syamsul menegaskan, upaya pelestarian budaya membutuhkan kolaborasi banyak pihak. Selama ini, pelestarian kebudayaan juga dilakukan oleh komunitas penghayat kepercayaan, masyarakat adat, lingkungan keraton, serta berbagai sanggar seni yang tersebar di Yogyakarta.
BPK DIY pun melakukan pembinaan langsung kepada masyarakat melalui para pelatih profesional yang terlibat dalam program tersebut.
Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari prioritas Kementerian Kebudayaan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia pelaku budaya.
Ia juga menyoroti perkembangan zaman yang turut memengaruhi seni tradisi, termasuk hadirnya inovasi gamelan digital yang dikembangkan oleh generasi muda.
“Namun gamelan tetap merupakan warisan dunia yang sudah diakui UNESCO. Karena itu gerakan pelestarian tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi aktif masyarakat,” katanya.
Syamsul menilai ketertarikan generasi muda mempelajari budaya tradisional menjadi hal yang sangat penting di tengah era modern yang serba instan.
“Nyinden itu ada olah rasa dan olah suara. Menari juga ada olah gerak dan olah rasa. Semua memiliki teknik dan makna yang tidak sederhana,” ujarnya.
Program Bale Nari, Gamel, dan Nyinden Sore berlangsung selama 24 minggu dengan jadwal latihan satu kali setiap Kamis sore.
Durasi tersebut dipilih agar peserta dapat mendalami materi secara maksimal tanpa mengganggu aktivitas pendidikan maupun pekerjaan mereka.
Syamsul menjelaskan, jumlah peserta juga disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran. Khusus pada kelas karawitan, peserta dibatasi sebanyak 11 orang agar seluruh instrumen gamelan dapat dimainkan secara lengkap dan proses pembelajaran berjalan efektif.
“Kalau terlalu banyak justru tidak maksimal. Dengan sebelas peserta, seluruh perangkat gamelan bisa dimainkan secara lengkap dan peserta lebih fokus,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan, bahwa Kementerian Kebudayaan memiliki berbagai program pendukung untuk pelaku budaya, mulai dari pendanaan, penghargaan, hingga apresiasi kepada para maestro yang telah mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan seni tradisional.
“Bahkan ada maestro yang sudah sepuh dan mendapatkan apresiasi rutin dari pemerintah sebagai bentuk perlindungan agar ilmunya tidak punah dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan DIY, Riris Purbasari, mengatakan BPK DIY kini memiliki tanggung jawab besar dalam mengelola berbagai aspek pelestarian budaya.
Tanggung jawab tersebut mencakup cagar budaya, objek yang diduga cagar budaya, objek pemajuan kebudayaan, hingga warisan budaya tak benda yang telah ditetapkan secara nasional. Namun, menurutnya, pelestarian budaya tidak akan berhasil tanpa keterlibatan masyarakat.
“Masyarakat sebenarnya adalah pemilik budaya. Mereka yang menjadi agen utama yang harus kita aktualisasikan dalam upaya pelestarian,” ujarnya.
Program Bale Nari, Gamel, dan Nyinden Sore menjadi salah satu sarana pewarisan budaya kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Riris mengaku terkesan dengan perkembangan para peserta yang sebagian besar memulai proses belajar dari nol.
“Tadi kita bisa menyaksikan sendiri. Dari yang awalnya tidak bisa nyinden, sekarang mampu tampil dengan sangat indah. Hasilnya luar biasa,” katanya.
Pendaftaran program dilakukan melalui media sosial BPK DIY sejak Februari hingga 11 Juni 2026. Dari proses tersebut, terpilih sebanyak 40 peserta yang terdiri atas 11 pengrawit, 11 peserta nyinden, dan 18 penari dari berbagai latar belakang masyarakat.
Riris mengatakan, batasan usia tersebut sengaja ditetapkan karena sasaran utama program adalah generasi muda yang memiliki peluang besar untuk terus berkembang dan menularkan ilmunya kepada lingkungan sekitar.
“Kami memang menyasar generasi muda karena mereka yang nantinya akan meneruskan dan mewariskan budaya kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Meski demikian, pihaknya tidak menutup kemungkinan melibatkan anak-anak usia sekolah dasar pada pelaksanaan mendatang.
“Semakin dini budaya diperkenalkan, maka semakin panjang pula kesempatan mereka untuk ikut melestarikannya,” kata Riris.
Selain mengajarkan teknik berkesenian, program ini juga mengandung nilai filosofis yang mendalam. Riris menjelaskan bahwa jumlah 11 peserta karawitan disesuaikan dengan jumlah instrumen gamelan yang dimainkan secara bersama-sama. Menurutnya, gamelan mengajarkan nilai harmoni dan kebersamaan.
“Kalau dibunyikan sendiri-sendiri mungkin tidak terdengar indah. Tetapi ketika dimainkan bersama, justru menghasilkan laras yang sangat harmonis. Ini merupakan warisan kebijaksanaan leluhur yang luar biasa,” tuturnya.
Ia menambahkan, tingginya antusiasme masyarakat membuat program ini akan terus dilanjutkan. Bahkan, setelah kuota pendaftaran ditutup, masih banyak masyarakat yang ingin bergabung.
Namun, khusus untuk kelas karawitan, jumlah peserta memang harus disesuaikan dengan ketersediaan instrumen gamelan.
Riris memastikan, program tersebut tidak berhenti setelah peserta menyelesaikan pelatihan. Ilmu yang telah diberikan benar-benar diterapkan di lingkungan masyarakat dan menjadi bagian dari kehidupan sosial para peserta. Harapannya ke depan, para alumni juga akan dikumpulkan kembali dalam kegiatan reuni sekaligus pementasan bersama.
“Harapan saya, mereka dapat menjadi motor penggerak lahirnya komunitas, sanggar, maupun ruang-ruang kreatif baru yang memperkuat ekosistem kebudayaan di Yogyakarta.(*)
Penulis : Elis
