INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Normalisasi Sungai Code yang tengah dilakukan Pemerintah Kota Yogyakarta bukan hanya bertujuan mengatasi pendangkalan dan membersihkan aliran sungai. Lebih dari itu, program tersebut menjadi langkah awal untuk mentransformasi kawasan bantaran Sungai Code menjadi ruang publik yang hijau, sehat, bersih, sekaligus memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Gagasan tersebut disampaikan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, saat meninjau langsung progres normalisasi Sungai Code di kawasan Terban Madani, Jalan Dr. Sardjito hingga belakang Hotel Tentrem, Jumat (3/7/2026). Hingga kini, pekerjaan pengerukan pada segmen tersebut telah mencapai sekitar 80 persen.
“Alhamdulillah sekarang sudah hampir sampai batas Sleman. Alat berat terus membersihkan sungai yang sebelumnya penuh sampah sekaligus memperdalam aliran sungai karena terjadi pendangkalan. Setelah ini kalau kita susur sungai lagi pasti akan lebih bagus. Sungainya sudah bersih dan airnya lebih dalam,” ujarnya.
Menurut Hasto, kondisi Sungai Code kini jauh lebih baik dibanding sebelumnya yang dipenuhi tumpukan sampah dan mengalami pendangkalan akibat sedimentasi.
Ia menegaskan, normalisasi bukanlah tujuan akhir. Setelah pengerukan selesai, Pemerintah Kota Yogyakarta akan melanjutkan penataan kawasan bantaran agar fungsi sungai tetap terjaga dan tidak kembali dipenuhi aktivitas yang mengganggu lingkungan.
Hasto mengapresiasi kandang-kandang ayam yang sebelumnya berdiri di bantaran sungai kini telah dibersihkan. Menurutnya, kondisi tersebut harus dipertahankan agar kebersihan Sungai Code tetap terjaga.
“Yang penting jangan kambuh lagi. Jangan nanti dipakai lagi untuk kandang ayam atau tempat menumpuk sampah. Kalau sungainya sudah dibersihkan, lingkungannya juga harus ikut dijaga,” tegasnya.
Dalam peninjauan tersebut, Hasto juga memperhatikan sejumlah pergola di bantaran sungai yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Ia berharap fasilitas tersebut dapat dihidupkan kembali melalui gerakan penghijauan yang melibatkan masyarakat.
Menurutnya, bantaran Sungai Code memiliki potensi besar menjadi ruang terbuka hijau yang nyaman sekaligus mempercantik wajah Kota Yogyakarta.
Ia pun mengusulkan agar kawasan tersebut dipenuhi berbagai tanaman berbunga dan dilengkapi lomba kebersihan maupun penataan taman antar-RT dan RW sehingga masyarakat semakin terdorong merawat lingkungan.
“Saya membayangkan di sini penuh bunga. Pergolanya hidup, masyarakat ikut merawat. Nanti bisa dibuat lomba kebersihan atau taman antar-RT dan RW. Kalau warganya bergerak bersama, kawasan sungai ini akan berubah menjadi tempat yang indah,” katanya.
Tak hanya menghadirkan kawasan yang asri, Hasto juga ingin penataan Sungai Code mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Salah satu ide yang disampaikannya adalah memperbanyak penanaman bunga air mata pengantin yang dikenal sebagai sumber pakan lebah lingseng penghasil madu.
Hasto menambahkan, konsep tersebut dapat menjadi perpaduan antara pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Kalau bunga itu ditanam lebih banyak, selain mempercantik kawasan, lebah lingseng bisa menghasilkan madu. Sungainya bersih, bunganya indah, masyarakat juga bisa memperoleh manfaat ekonomi,” ujarnya.
Konsep tersebut diharapkan menjadikan Sungai Code bukan hanya sebagai kawasan yang bebas sampah dan lebih sehat, tetapi juga memiliki daya tarik wisata lingkungan sekaligus membuka peluang usaha berbasis ekosistem hijau.
Meski mendorong penghijauan, Hasto menegaskan penataan vegetasi akan dilakukan secara selektif. Pohon-pohon yang berfungsi menjaga kestabilan lereng serta mencegah erosi tetap dipertahankan karena memiliki manfaat ekologis yang penting.
Sebaliknya, pohon pisang yang pelepahnya kerap menampung air akan dibersihkan karena dinilai berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab demam berdarah (DBD).
“Pohon yang menjaga lereng tetap kita pelihara. Tetapi pohon pisang yang pelepahnya menjadi tempat genangan air perlu ditata karena bisa menjadi sarang jentik nyamuk. Lingkungan sungai harus bersih sekaligus sehat,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kota Yogyakarta, Umi Akhsanti, mengatakan progres normalisasi Sungai Code pada ruas Terban Madani hingga belakang Hotel Tentrem telah mencapai sekitar 80 persen.
Meski demikian, pekerjaan belum sepenuhnya selesai karena masih terdapat sejumlah titik di perbatasan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman yang memerlukan koordinasi lebih lanjut.
“Pekerjaan fisik hampir selesai, tetapi pekerjaan rumah kami masih ada di sisi kiri-kanan sungai dan wilayah yang berbatasan dengan Sleman karena di sana masih terdapat aktivitas masyarakat di badan sungai. Itu yang akan kami koordinasikan lebih lanjut,” ujar Umi.
Menurutnya, Pihaknya akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kalurahan Caturtunggal agar alat berat dapat melanjutkan pengerjaan pada bagian sungai yang berada di wilayah Kabupaten Sleman.
Setelah segmen tersebut selesai, normalisasi akan dilanjutkan dari kawasan Kewek hingga Jembatan Sayidan sehingga penataan Sungai Code dapat dilakukan secara bertahap hingga menyeluruh.
Selain menyelesaikan pengerukan, Umi juga telah menyiapkan program pemeliharaan jangka panjang agar Sungai Code tetap bersih dan tidak kembali mengalami pendangkalan.
Normalisasi direncanakan dilakukan sedikitnya satu kali setiap tahun, khususnya pada musim kemarau saat debit air rendah sehingga proses pengerukan lebih efektif. Program tersebut akan dipadukan dengan pengelolaan sampah secara berkelanjutan oleh Dinas Lingkungan Hidup.
“Idealnya normalisasi dilakukan saat musim kemarau, sekitar Juni sampai Agustus, ketika debit air rendah sehingga proses pembersihan lebih mudah. Setelah ini, kami akan menjadwalkan normalisasi secara rutin agar kondisi sungai tetap terjaga,” pungkas Umi.(*)
Penulis : Elis
