Fashion Yogyakarta

Ecoprint Diyakini Jadi Ikon Baru Fashion Kreatif di Yogyakarta

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Tren fashion ramah lingkungan terus berkembang di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Salah satu yang kini mulai mendapat perhatian besar adalah ecoprint, teknik pewarnaan kain menggunakan pigmen alami dari tumbuhan yang dinilai memiliki nilai seni, keberlanjutan, hingga storytelling yang kuat.

Potensi tersebut terlihat dalam gelaran fashion show bertajuk Terraloom yang diselenggarakan House of LMAR bersama IFC Chapter DIY di Grand Diamond Hotel Yogyakarta. Acara ini menghadirkan beragam koleksi busana berbahan ecoprint karya desainer lokal maupun luar daerah.

Sebanyak 10 desainer turut ambil bagian dalam pergelaran tersebut, di antaranya DJNF, Praian Eco, Gallery Yu Paijem, Tika Setya, Kiye Godhong, LMAR Collection, Indah Juwita, hingga Edith House. Masing-masing menampilkan sekitar enam outfit dengan karakter desain yang berbeda, mulai dari busana kasual hingga gaun pesta.

Fashion show ini menjadi salah satu upaya mendorong subsektor fashion dalam industri ekonomi kreatif agar semakin berkembang dan memiliki ruang promosi yang luas.

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata DIY, Ellya Shari, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap pelaku ekonomi kreatif, khususnya subsektor fashion.

“IFC Chapter DIY bersama LMAR secara rutin mengadakan fashion show setiap bulan dengan tema yang selalu berganti. Tema yang pernah diangkat yaitu tema lurik, dan sekarang ecoprint. Saat ini kita memang sedang berusaha kembali ke alam, sehingga ecoprint menjadi salah satu konsep fashion yang menarik karena lebih ramah lingkungan,” ujar Ellya. Kamis (14/5/2026).

Ia menjelaskan, pihaknya turut mendukung kegiatan tersebut melalui publikasi sebelum acara berlangsung hingga peliputan selama kegiatan berjalan.

“Subsektor fashion merupakan salah satu dari 17 subsektor ekonomi kreatif yang memang harus terus kita dukung,” katanya.

Ellya menyebut, kegiatan ini tidak hanya menghidupkan ekonomi kreatif di DIY, tetapi juga menjadi wadah kolaborasi lintas daerah. Hal itu terlihat dari hadirnya peserta dari luar Yogyakarta seperti Probolinggo yang turut membawa produk ecoprint mereka.

“Ini menunjukkan bahwa fashion ecoprint memiliki potensi besar untuk berkembang lebih luas,” ujarnya.

Ellya menjelaskan, ecoprint memiliki teknik berbeda dengan batik karena tidak menggunakan proses canting. Meski demikian, ecoprint tetap memiliki kekuatan artistik dan keunikan yang tinggi. Ecoprint saat ini mulai menjadi tren di kalangan pegiat fashion dan ekonomi kreatif.

“Banyak pelaku batik yang sekarang mulai belajar ecoprint karena permintaannya juga mulai meningkat,” katanya.

Ia menambahkan, produk ecoprint umumnya memiliki harga lebih tinggi karena menggunakan pewarna alami serta membutuhkan proses dan perawatan khusus.

“Pewarna alam itu ada cara perawatan khusus, mulai dari mencuci sampai penyimpanannya. Karena itu produk ecoprint memang lebih pricey dan pasarnya lebih ke menengah atas,” jelas Ellya.

Selain itu, ecoprint juga memiliki berbagai teknik produksi yang memengaruhi kualitas dan nilai jual produk.

“Ada teknik pounding atau dipukul-pukul langsung di kain, ada juga yang menggunakan proses kukus. Kalau proses kukus biasanya lebih awet sehingga nilainya lebih tinggi,” tambahnya.

Ellya menyebut, salah satu nilai lebih dari ecoprint adalah adanya storytelling dalam setiap motif daun atau tanaman yang digunakan. Ia mencontohkan penggunaan daun pisang yang tidak sekadar dipilih karena bentuknya, tetapi juga memiliki filosofi tentang manfaat tanaman pisang dari akar hingga buahnya.

“Storytelling seperti itu bisa membuat produk menjadi lebih menarik dan bahkan menaikkan nilai jual,” katanya.

Karena itu, ia berharap para pelaku ecoprint tidak hanya fokus pada visual motif, tetapi juga mampu menghadirkan cerita di balik setiap karya yang dibuat.

Ellya optimistis ecoprint dapat menjadi salah satu ikon baru fashion kreatif di Yogyakarta sekaligus daya tarik wisata berbasis ekonomi kreatif.

“Ke depan harapannya wisatawan domestik maupun mancanegara bisa datang melihat proses ecoprint sekaligus membeli produknya,” ucapnya.

CEO House of LMAR, Lia Mustafa, mengatakan tema ecoprint dipilih karena memiliki keselarasan dengan konsep sustainable fashion yang kini mulai banyak digaungkan di industri mode.

“Kami mencoba memberikan apresiasi kepada para desainer dan komunitas ecoprint, baik yang tergabung dalam asosiasi maupun independen,” kata Lia.

Sebelum fashion show berlangsung, acara diawali dengan business lunch dan sesi sharing mengenai pengembangan ecoprint ke depan.

Menurut Lia, ecoprint sebenarnya sudah mulai dikenal masyarakat, tetapi masih membutuhkan penguatan branding agar lebih kuat di pasar fashion nasional.

“Setiap brand tentu ingin berkembang lebih baik. Tempat ini menjadi ruang apresiasi bagi para desainer yang terus mengembangkan wastra Indonesia, salah satunya ecoprint,” katanya lagi.

Pada kesempatan tersebut, LMAR juga menggandeng Lions Club International Distrik 307 B2 Wilayah III yang mencakup Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DIY.

Kolaborasi ini dilakukan karena ecoprint dinilai selaras dengan salah satu pilar organisasi, yakni kepedulian terhadap lingkungan.

“Kami ingin sustainable fashion bukan hanya menjadi euforia, tetapi benar-benar diwujudkan melalui aktivitas nyata yang mencintai lingkungan,” tutup Lia.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *