Bisnis Jabodetabek

United Tractors Perkuat ESG di Tengah Laba 2025 Turun 24 Persen Jadi Rp14,81 Triliun

INTENS PLUS – JAKARTA. PT United Tractors Tbk (UNTR) memperkuat penerapan Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai bagian dari strategi bisnis perusahaan pada 2026. Penguatan tata kelola tersebut berlangsung setelah perseroan menghadapi tekanan kinerja keuangan sepanjang 2025.

“United Tractors membukukan laba bersih Rp14,81 triliun pada 2025, turun 24 persen dibandingkan 2024 yang mencapai Rp19,53 triliun. Penurunan tersebut dipengaruhi pelemahan harga jual rata-rata batu bara dan koreksi kinerja sejumlah segmen bisnis utama,” ungkap Dianwahyu Sri Purnomo, Head of Corporate Communications and Sustainability Division PT United Tractors Tbk, Jumat (25/9/2026).

Ia menambahkan, di sisi pendapatan, UNTR mencatat Rp131,30 triliun sepanjang 2025 atau turun 2 persen secara tahunan. Perseroan juga membukukan laba kotor Rp29,70 triliun, laba usaha Rp22,07 triliun, serta EBITDA Rp45,52 triliun.

Dari sisi neraca, total aset UNTR mencapai Rp177,64 triliun dengan total ekuitas Rp103,14 triliun. Perseroan juga memiliki kas dan setara kas sebesar Rp26,57 triliun.

“Tekanan terhadap kinerja keuangan, terlihat pada sejumlah segmen yang berkaitan dengan pertambangan batu bara,” ujarnya.

PT Pamapersada Nusantara (PAMA) mencatat, pendapatan Rp54,1 triliun atau turun 7 persen. Penurunan tersebut antara lain dipengaruhi curah hujan tinggi dan berkurangnya volume pemindahan tanah atau overburden removal sebesar 10 persen menjadi 1.100 juta bcm.

Segmen pertambangan batu bara melalui Turangga Resources juga membukukan pendapatan Rp24,2 triliun atau turun 7 persen. Padahal, volume penjualan batu bara meningkat 9 persen menjadi 14,3 juta ton. Pelemahan harga rata-rata batu bara global menjadi salah satu faktor yang menekan pendapatan.

Sementara itu, bisnis mesin konstruksi Komatsu mencatat pendapatan Rp36,6 triliun atau turun tipis 2 persen. Penjualan unit Komatsu justru meningkat 2 persen menjadi 4.515 unit, terutama didorong permintaan dari sektor perkebunan dan kehutanan.

Di tengah tekanan pada bisnis batu bara, segmen emas dan mineral lainnya mencatat pertumbuhan. Pendapatan pada segmen tersebut mencapai Rp14 triliun atau naik 41 persen. Kenaikan terutama didorong peningkatan harga emas dunia sepanjang 2025 yang mampu mengompensasi penurunan kuantitas penjualan emas Agincourt Resources menjadi sekitar 227 ribu ons.

“Kinerja tersebut sejalan dengan langkah diversifikasi bisnis, menuju komoditas mineral non-batu bara. Pada awal 2026, perseroan menyelesaikan akuisisi 100 persen saham PT Arafura Surya Alam (ASA) untuk memperluas portofolio mineral non-batu bara,” jelas Wahyu.

ESG Masuk ke Strategi Bisnis

Memasuki 2026, UNTR memperkuat ESG dengan menempatkan aspek keberlanjutan dalam struktur tata kelola perusahaan. Tata kelola ESG tidak lagi diposisikan hanya sebagai pemenuhan kepatuhan, tetapi juga sebagai bagian dari manajemen risiko untuk menjaga keberlangsungan usaha di tengah transisi energi global.

Dengan meraih penghargaan tertinggi dalam IDX Channel Anugerah ESG 2026 serta predikat keunggulan dari KADIN-GAPPS International Awards 2026.

Struktur pengawasan keberlanjutan, melibatkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Dewan Komisaris, komite-komite terkait, Direksi, Corporate Sustainability Department, serta Unit Manajemen Risiko.

Salah satu penguatan tata kelola yang disebut dalam materi adalah integrasi target Aspirasi Keberlanjutan 2030 ke dalam Key Performance Indicator (KPI) Direksi.

Dengan mekanisme tersebut, pencapaian target ESG menjadi bagian dari evaluasi kinerja, insentif, dan kompensasi jajaran Direksi.

Salah satu targetnya adalah penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 30 persen.

Corporate Sustainability Department kemudian bekerja bersama Unit Manajemen Risiko untuk mengidentifikasi potensi risiko lingkungan dan sosial di sekitar wilayah operasi, sekaligus menyiapkan langkah mitigasi.

“Dari sisi tata kelola, kami juga menerapkan Code of Conduct yang mengatur perilaku bisnis, termasuk larangan terhadap suap, gratifikasi, korupsi, dan benturan kepentingan,” terangnya.

Perseroan disampaikan, juga memiliki Whistleblowing System (WBS) yang dapat digunakan karyawan maupun pihak eksternal untuk melaporkan dugaan pelanggaran hukum atau kode etik.

“Dalam pengelolaan lingkungan, kami juga mencantumkan penerapan standar ISO 14001:2015 untuk sistem manajemen lingkungan, ISO 50001:2018 untuk sistem manajemen energi, serta ISO 14064-1:2018 untuk kuantifikasi dan pelaporan gas rumah kaca,” tutup Wahyu.(*)

Penulis : Len

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *