INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Pemerintah Kota Yogyakarta terus memperkuat peran Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) sebagai penggerak ekonomi kerakyatan berbasis potensi lokal. Salah satu langkah nyata yang kini disiapkan adalah produksi 65 ribu lembar seragam batik sekolah Segoro Amarto yang akan dikerjakan melalui jaringan koperasi dan pengrajin batik di Kota Yogyakarta.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengatakan koperasi menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat pengrajin batik agar tidak berjalan sendiri, mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, hingga pemasaran produk.
“Mengingat Yogyakarta sebagai kota batik yang ditetapkan oleh UNESCO, kita ingin mewujudkan kemampuan Koperasi Merah Putih menghidupkan UMKM dan pengrajin batik,” kata Hasto saat mengikuti peresmian operasionalisasi KKMP secara daring di Gunungketur, Yogyakarta, Sabtu (16/5/2026).
Hasto menjelaskan, perkembangan industri batik di Kota Yogyakarta kini mulai menunjukkan peningkatan. Jika setahun lalu masih sedikit pengrajin batik cap yang mampu memproduksi seragam dalam jumlah besar, saat ini sudah terdapat delapan KKMP yang memproduksi batik Segoro Amarto, termasuk menggunakan metode batik cap.
Menurut dia, keberadaan koperasi di tingkat kelurahan akan mempermudah koordinasi produksi dan distribusi batik, terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun wisatawan.
“Koperasi Merah Putih menyiapkan diri untuk produksi batik gelombang kedua untuk anak-anak sekolah yang jumlahnya 65.000 lembar,” ujarnya.
Produksi seragam batik sekolah dalam jumlah besar itu sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi para pengrajin lokal. Dengan sistem koperasi, para pelaku UMKM diharapkan mendapatkan akses pasar yang lebih luas dan sistem usaha yang lebih terorganisasi.
Selain menjadi sentra produksi batik, KKMP juga diharapkan mampu berperan sebagai pengepul hasil karya para pengrajin di wilayah masing-masing. Dengan demikian, proses pemasaran tidak lagi dilakukan secara individu, melainkan melalui koperasi yang memiliki jaringan lebih kuat.
Sejumlah KKMP juga mulai mengembangkan usaha lain, seperti penyediaan bahan pokok, layanan keuangan tanpa kantor, hingga kemitraan dengan hotel dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mendukung program makan bergizi gratis (MBG).
Untuk mendukung pengembangan koperasi, Ia juga tengah menyiapkan lahan seluas sekitar 3.000 meter persegi di wilayah Umbulharjo. Lahan tersebut merupakan palilah atau hak penggunaan dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Rencananya, lahan tersebut akan dibagi menjadi beberapa kawasan pengembangan usaha KKMP. Sekitar 1.000 meter persegi digunakan untuk infrastruktur gerai koperasi, kemudian 1.000 meter persegi lainnya dimanfaatkan untuk budidaya ikan lele dengan sistem bioflok yang dikelola koperasi.
Sementara 1.000 meter persegi sisanya akan digunakan untuk integrated farming program yang fokus pada pengolahan pupuk organik.
Menurut Hasto, pengolahan sampah menjadi pupuk juga menjadi bagian penting dalam konsep pemberdayaan ekonomi berbasis lingkungan yang sedang dikembangkan Pemkot Yogyakarta.
“Kita juga ingin membikin pupuk, kemudian nanti pupuknya juga bisa dijual. Ini sekaligus mengatasi sampah, karena sampah jadi pupuk,” ujarnya.
Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Yogyakarta, Tri Karyadi Riyanto, mengatakan saat ini aktivitas KKMP sudah berjalan di 32 dari total 45 kelurahan di Kota Yogyakarta.
Meski sebagian besar belum memiliki gerai permanen, aktivitas koperasi tetap berjalan dengan memanfaatkan lahan atau tempat milik pengurus koperasi.
Tri mengatakan, setiap KKMP diarahkan untuk mengembangkan usaha sesuai potensi lokal wilayahnya masing-masing. Di Gunungketur misalnya, koperasi difokuskan pada pengembangan batik karena kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu sentra batik di Kota Yogyakarta.
“Misalnya di Gunungketur memang sentra batik, jadi kita dorong KKMP punya aktivitas berdasarkan potensi lokal. Harapannya, dengan koperasi ini para pengrajin batik tidak berjalan sendiri, namun mengurus bahan baku sampai memasarkan melalui koperasi,” katanya.(*)
Penulis : Elis
